JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP) melaporkan bahwa mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) masuk nominasi pemimpin paling korupsi di dunia. Menangapi hal itu Ketua DPP PDI Perjuangan Ronny Talapessy mengamini bahwa informasi tersebut mengagetkan publik. Karena, sosok Jokowi di mata publik dinilai sangat sederhana.
"Apa benar beliau pemimpin korup? Karena yang kita tahu beliau orang yang sederhana. Bahkan sampai sekarang ke mana-mana masih konsisten pakai kemeja putih dan celana hitam terus," kata Ronny kepada wartawan, Rabu (1/1/2024).
Ronny meyakini, temuan OCCRP punya bukti kuat terkait dugaan rasuah yang diduga melibatkan Jokowi.
"Tapi mungkin para jurnalis investigasi dan para juri OCCRP punya temuan yang belum banyak kita tahu," ujar Ronny.
Karena itu, Ronny meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bisa proaktif untuk berkomunikasi dengan OCCRP. Ia menegaskan, laporan tersebut bisa menjadi temuan awal adanya dugaan korupsi yang melibatkan Jokowi.
"Ada baiknya KPK proaktif berkomunikasi dengan pihak OCCRP. Ini bisa jadi petunjuk awal," tegas Ronny.
Hal itu juga penting untuk menjadi bukti bahwa KPK periode saat ini tidak tebang pilih dalam menangani setiap kasus dugaan korupsi.
"Ini juga penting supaya KPK sekarang tidak menjadi kayak KPK edisi Jokowi yang tumpul kepada kasus-kasus yang melibatkan keluarga Jokowi dan hanya tajam ke lawan-lawan politik Jokowi," urai Ronny.
Sebelumnya, Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) masuk ke dalam daftar finalis pemimpin dunia paling korupsi, versi Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP). Selain Jokowi, pemimpin dunia lainnya yang juga masuk nominasi pemimpin terkorup di antaranya, Presiden Kenya William Ruto, Presiden Nigeria Bola Ahmed Tinubu, Mantan Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina dan pengusaha asal India Gautam Adani.
"Kami meminta nominasi dari para pembaca, jurnalis, juri Person of the Year, dan pihak lain dalam jaringan global OCCRP. Para finalis yang memperoleh suara terbanyak tahun ini adalah: Presiden Kenya William Ruto, Mantan Presiden Indonesia Joko Widodo, Presiden Nigeria Bola Ahmed Tinubu, Mantan Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina, Pengusaha India Gautam Adani," demikian laporan OCCRP, dikutip Selasa (31/12).
Penerbit OCCRP Drew Sullivan menjelaskan, kejahatan korupsi merupakan bagian mendasar dari upaya merebut negara dan menjadikan pemerintahan otokratis berkuasa.
Ia menyebut, pemerintahan yang korup melanggar hak asasi manusia (HAM), memanipulasi pemilu, menjarah sumber daya alam, dan pada akhirnya menciptakan konflik akibat ketidakstabilan yang melekat pada diri mereka.
"Satu-satunya masa depan mereka adalah keruntuhan yang penuh kekerasan atau revolusi berdarah," pungkasnya.***
Editor : Edwar Yaman