WASHINGTON DC (RIAUPOS.CO) - Pada awal pekan lalu (7/4), sebuah persidangan penting dibuka di Washington DC dengan materi gugatan hukum terhadap dominasi raksasa teknologi global. Gugatan antitrust atau gugatan hukum yang bertujuan mencegah praktik monopoli dan menjaga persaingan usaha tetap sehat diajukan terhadap Meta yang notabene induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp. Jika gugatan ini berhasil, maka CEO Meta Mark Zuckerberg dapat dipaksa untuk melepaskan kepemilikan atas Instagram dan WhatsApp.
Federal Trade Commission (FTC) Amerika Serikat menuduh Meta melakukan akuisisi Instagram pada 2012 dan WhatsApp pada 2014 sebagai upaya sistematis untuk menghilangkan pesaing. Meski, saat itu FTC telah menyetujui kedua akuisisi tersebut, lembaga ini berpendapat bahwa langkah Meta menciptakan monopoli digital.
”Akuisisi Instagram merupakan cara untuk menetralkan ancaman persaingan terhadap Facebook,” kata Rebecca Haw Allensworth, profesor hukum antitrust dari Vanderbilt Law School seperti dilansir dari BBC, Senin (14/4).
Allensworth menilai bukti paling kuat justru berasal dari email pribadi Zuckerberg. ”Dia pernah menyatakan lebih baik membeli daripada bersaing. Sulit membantah pernyataan yang begitu gamblang,” imbuhnya.
Meta bersikukuh bahwa akuisisi tersebut telah meningkatkan kualitas layanan Instagram bagi konsumen. Mereka juga berargumen bahwa Instagram bisa berkembang seperti sekarang justru karena berada di bawah kepemilikan Facebook. Tapi, Allensworth mempertanyakan apakah konsumen mendapatkan manfaat dari merger tersebut.
Lobi Trump Hentikan Kasus
Dalam persidangan yang diperkirakan berlangsung selama beberapa pekan ke depan, Zuckerberg maupun mantan Chief Operating Officer Meta Sheryl Sandberg, dijadwalkan datang untuk memberikan kesaksian. Gugatan bertajuk FTC versus Meta itu sebenarnya telah diajukan pada masa pemerintahan pertama Presiden AS Donald Trump. Menurut The Wall Street Journal, Zuckerberg telah melobi Trump secara langsung supaya FTC menghentikan kasus.
Hubungan antara Zuckerberg dan Trump sebelumnya sempat memburuk setelah insiden penyerbuan Gedung Capitol pada Januari 2021 yang menyebabkan Trump dilarang dari platform Meta. Namun, hubungan keduanya kini mencair. Bahkan, Meta menyumbang 1 juta dolar AS (Rp16,7 miliar) untuk pelantikan Trump. Pada Januari lalu, Meta juga mengangkat Dana White, sekutu dekat Trump, ke jajaran dewan direksi.
Persidangan juga dibayangi oleh dinamika politik internal FTC. Dua komisaris FTC berasal dari Partai Demokrat dan dipecat oleh Presiden Trump pada Maret lalu. Keduanya adalah Rebecca Kelly Slaughter dan Alvaro Bedoya. ”Presiden mengirim sinyal tegas bahwa siapa pun yang menentangnya bisa diberhentikan,” ujar Slaughter kepada BBC.
Bedoya pun menyatakan keprihatinannya atas dugaan lobi politik yang dilakukan Zuckerberg.(din/dns/jpg)
Editor : Arif Oktafian