JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Dalam hitungan lima hari menuju wukuf di Arafah, Kamis 5 Juni mendatang, ancaman suhu ekstrem di Arab Saudi menjadi perhatian serius seluruh pihak. Anggota Amirul Hajj Indonesia sekaligus Kepala BPOM, Prof Taruna Ikrar, menyampaikan imbauan tegas terkait bahaya heat stroke atau sengatan panas bagi jemaah maupun petugas haji.
“Heat stroke adalah kondisi medis serius yang bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani,” ujar Prof Taruna dalam pernyataannya, Sabtu (31/5/2025).
Menurutnya, suhu udara di Makkah diperkirakan bisa menembus lebih dari 45°C, terutama pada siang hari. Kondisi ini sangat berbahaya bagi jemaah lanjut usia, penderita penyakit kronis, serta mereka yang melakukan aktivitas fisik tinggi saat melaksanakan ibadah.
Baca Juga: Dugaan Atas Kasus Meninggalnya Murid Kelas II SD, Begini Imbauan Polres Inhu
Heat stroke terjadi ketika tubuh kehilangan kemampuan untuk mengontrol suhu, membuat suhu tubuh naik hingga mencapai 40°C atau lebih. Jika tidak segera diatasi, kondisi ini bisa memicu kerusakan otak, organ vital, hingga menyebabkan kematian.
Gejalanya meliputi sakit kepala hebat, mual, kulit memerah dan panas, denyut nadi cepat, kebingungan mental, hingga kehilangan kesadaran.
Prof Taruna menekankan pentingnya pendekatan pencegahan sejak awal. Yakni, memastikan asupan cairan cukup setiap hari. Menghindari aktivitas berat, terutama antara pukul 10.00–15.00 waktu setempat. Menggunakan pelindung seperti payung atau topi lebar. Mengenali gejala awal heat stroke dan segera melapor ke petugas jika merasa tidak sehat.
Baca Juga: LAZ Swadaya Ummah Perkuat Literasi Zakat dan Kurban bagi Amil Masjid
“Selain itu, penting adanya sinergi antar petugas dan edukasi berkelanjutan kepada jemaah agar ibadah dapat dijalankan secara aman dan optimal,” ujarnya.
Tim Kesehatan Disiagakan di Titik-Titik Layanan
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) bersama tim kesehatan haji Indonesia telah menyiapkan unit-unit layanan darurat di berbagai lokasi strategis. Penanganan cepat akan diberikan bagi jemaah yang mengalami heat stroke maupun gangguan kesehatan lain selama puncak haji.
Menteri Agama Nazaruddin Umar yang memimpin delegasi Amirul Hajj 2025, juga menegaskan pentingnya fokus perlindungan maksimal kepada jemaah. Dalam arahannya, Menag meminta seluruh jajaran petugas haji Indonesia untuk bekerja dengan profesional, penuh empati, dan tanggap terhadap kondisi darurat.
“Haji adalah ibadah yang sangat mulia dan berat. Oleh karena itu, negara wajib hadir sepenuhnya untuk memastikan jemaah dapat menjalankannya dengan tenang, aman, dan nyaman,” tegas Menag Nazaruddin.
Delegasi Amirul Hajj 2025 terdiri dari tokoh-tokoh nasional lintas bidang, mulai dari akademisi, ormas keagamaan, hingga pejabat strategis. Hadirnya Prof. Taruna Ikrar, seorang ahli neurologi sekaligus Kepala BPOM, memperkuat perhatian terhadap aspek kesehatan jemaah.
Dengan suhu yang diperkirakan terus meninggi, kesiapsiagaan menghadapi risiko heat stroke kini menjadi salah satu ujian besar. Edukasi, kewaspadaan, dan koordinasi lintas sektor diharapkan mampu memastikan puncak haji 2025 berlangsung aman, lancar, dan membawa berkah bagi seluruh jemaah.***
Editor : Edwar Yaman