Ketiga kado tersebut meliputi insentif bagi Guru non Aparatur Sipil Negara (non-ASN), Bantuan Subsidi Upah (BSU) bagi Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) nonformal, dan Bantuan Afirmasi Kualifikasi S-1/D-4 Guru.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti merinci untuk bantuan insentif guru non-ASN akan diberikan pada 341.248 guru. Besarannya mencapai Rp300 ribu per bulan.
Pada tahap pertama tahun 2025 ini, kata dia, insentif diberikan sekaligus untuk tujuh bulan. Sehingga, para guru non-ASN tersebut akan menerima Rp2,1 juta per guru. “Insentif ini ditransfer langsung ke rekening penerima. Saat ini, realisasi transfer insentif sudah mencapai lebih dari 85 persen,” ujarnya.
Selanjutnya, untuk BSU akan diberikan untuk 253.407 guru PAUD Nonformal. Besaran BSU ini sama dengan insentif guru non-ASN, yakni Rp300 ribu per bulan per orang. Bedanya, BSU hanya diberikan untuk dua bulan. Saat ini, anggaran sebesar Rp125 miliar telah ditransfer ke rekening masing-masing guru.
Sementara itu, terkait bantuan beasiswa, pemerintah memberikan insentif bagi 12.500 guru yang telah lama mengabdi namun belum menyelesaikan pendidikan S-1/D-4-nya. Dalam program ini, para guru yang telah lama mengajar bertahun-tahun akan direkognisi lama ajarnya ke dalam satuan kredit semester (SKS) di 112 perguruan tinggi.
Untuk program ini, pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp 37,5 miliar. Mu’ti mengungkapkan, kehadiran program ini merupakan wujud nyata kehadiran negara terhadap peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru, yang merupakan ujung tombak pendidikan nasional.
“Dengan kado ini, para guru sebagai garda terdepan pendidikan diharapkan dapat meningkatkan kinerja dan kompetensi, guna meningkatkan kualitas pembelajaran untuk kemajuan pendidikan dan pembentukan karakter bangsa,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendikdasmen Suharti mengungkapkan, ada kriteria-kriteria khusus yang harus dipenuhi bagi guru yang menerima bantuan insentif maupun BSU. Salah satunya, mereka harus terdaftar di dapodik.
“Tentu kriterianya pertama, untuk yang insentif guru itu sudah harusnya S1 atau D4. Belum sertifikasi, kemudian ada hitungan-hitungan jumlah jam mengajar dan sebagainya. Kemudian untuk BSU memang guru-guru PAUD yang nonformal,” paparnya.
Sementara itu, Direktur PAUD Pendidikan Non Formal, Ditjen Guru, Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Guru Kemendikdasmen Suparto menambahkan, terkait bantuan untuk mengikuti program pendidikan S1 dan D4 melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Pengalaman para guru akan diboboti hingga 70 persen dari bobot SKS keseluruhan. “Jadi rata-rata beban SKS S1 adalah 144. Sehingga peserta yang mengikuti program RPL itu nanti berdasar pengalaman yang mereka miliki diboboti 70 persen dari bobot SKS seluruhnya,” paparnya.
Dengan begitu, para guru ini akan mengikuti program S1 dalam jangka 2 semester atau 1 tahun. Mereka pun dipastikan masih tetap bisa mengajar karena program perkuliahan dilaksanakan secara daring. “Sehingga mereka diharapkan tidak meninggalkan tugas pokoknya sebagai guru,” uajrnya.(mia/das)
Editor : Bayu Saputra