JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Petani tebu tengah terpukul. Hasil panen mereka tidak bisa digiling lantaran penggilingan mandek. Pemicunya, tetes tebu hasil penggilingan menumpuk akibat tidak laku dijual. Jika dipaksakan beroperasi, alat penggilingan bisa rusak.
Keluhan komunitas petani tebu itu langsung mendapat respons dari Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Mentan langsung mengeluarkan kebijakan larangan terbatas (lartas) impor etanol dan tapioka. Khusus kebijakan lartas tapioka itu, Amran juga menjawab kegelisahan petani singkong.
’’Sekarang mengutamakan produksi dalam negeri,’’ katanya di Jakarta, Jumat (19/9).
Dia mengungkapkan, sudah setahun ini produk impor dari Thailand masuk ke Indonesia. Akibatnya, tetes tebu dari penggilingan yang biasanya menjadi bahan pembuatan etanol tidak terserap. Bahkan, sebagian impor dari Thailand itu masih berupa tetes tebu juga. Tetes tebu adalah produk sampingan dari penggilingan tebu.
Harga Jatuh
Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Fatchudin Rosidi mengungkapkan, tetes tebu petani tidak terserap pabrik karena harganya jatuh. Dari idealnya Rp2.000 per kilogram, harga saat ini hanya Rp900/kg.
’’Selama lima tahun terakhir tetes tebu kami terserap terus. Tetapi, sejak ada permendag baru, harga tetes tebu jatuh,’’ ujarnya.
Fatchudin menyambut baik larangan impor untuk etanol itu. Dia berharap tetes tebu lokal bisa segera terserap oleh produsen etanol. Sementara itu, harga singkong yang juga sempat anjlok kini berangsur membaik. Namun, biaya produksi yang dikeluarkan petani mencapai 50 persen dari harga jual. Akibatnya, keuntungan mereka masih tipis.
’’Kami berharap kebijakan itu bisa menggairahkan produksi tapioka nasional yang otomatis juga meningkatkan penghasilan petani singkong,’’ ujar Ketua Umum Perkumpulan Ubi Kayu Indonesia Dasrul Aswin.
Sebagaimana diketahui, anjloknya harga singkong mencuat sejak Januari 2025. Banjir impor tepung tapioka mengakibatkan hasil panen lokal tidak terserap. Harga jual saat itu hanya Rp600–Rp700/kg. Jauh di bawah biaya produksi Rp740 per kilogram. Hal tersebut memicu unjuk rasa ribuan petani singkong dari tujuh kabupaten di Lampung di salah satu pabrik pengolahan tepung tapioka pada 23 Januari lalu.(wan/dri/jpg)
Editor : Bayu Saputra