Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Banjir Bandang Susulan Terjang Padang, Jalur Lembah Anai Ditutup Total

Tim Redaksi • Senin, 15 Desember 2025 | 09:41 WIB

Banjir kembali melanda Batu Busuk. BPBD Padang mengimbau warga menjauh dari aliran sungai.
Banjir kembali melanda Batu Busuk. BPBD Padang mengimbau warga menjauh dari aliran sungai.


PADANG dan JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Kota Padang dilanda bencana banjir bandang susulan, Ahad (14/12). Intensitas hujan tinggi yang mengguyur tanpa henti sejak siang hari memicu luapan air di dua wilayah padat penduduk dan memaksa puluhan warga mengungsi ke lokasi aman.

Dua kawasan yang mengalami dampak paling serius adalah Kelurahan Gurunlaweh di Kecamatan Nanggalo dan kawasan Batubusuk, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh. Camat Nanggalo Amrizal Rengganis menjelaskan, penduduk RT 02 dan RW 02 di Kelurahan Gurunlaweh menjadi korban utama bencana tersebut.

Sebanyak 22 jiwa harus dipindahkan secara darurat menuju gedung SDN 07 Gurunlaweh yang dijadikan posko pengungsian sementara.”Proses evakuasi ini untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal di zona bahaya,” terang Amrizal dalam keterangannya, kemarin malam.

Sementara itu, kondisi lebih kritis terjadi di kawasan dekat Jembatan Baru, Batubusuk. Satu unit hunian terendam air setinggi lutut orang dewasa, menjebak delapan penghuni di dalamnya. Genangan yang terus meninggi membuat mereka tidak dapat keluar rumah dengan aman.

Sekretaris Camat Pauh, David Ferdinand memaparkan, banjir mulai memasuki rumah tersebut sekitar pukul 16.00 WIB. Penghuni yang panik mencoba menyelamatkan diri namun terhambat oleh derasnya arus air. “Delapan orang terjebak dalam kondisi darurat. Tim gabungan langsung bergerak melakukan operasi penyelamatan,” ungkap David.

Operasi evakuasi di Batubusuk berlangsung dramatis. Dua orang warga sempat terseret arus saat proses penyelamatan tengah dilakukan. Namun, tim gabungan berhasil menyelamatkan keduanya. “Kedua korban yang sempat hanyut kini tengah menjalani perawatan di rumah sakit terdekat dan kondisinya stabil,” lanjut David.

Enam warga lainnya yang berdomisili di RT 3, RW 4, Lambung Bukit, Batubusuk, telah ditempatkan di lokasi pengungsian yang telah disiapkan pemerintah setempat. Mereka saat ini mendapat pendampingan dari petugas dan bantuan logistik.

Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton menyampaikan bahwa total 12 warga dari Lambung Bukit, Batubusuk, Pauh, berhasil dievakuasi pada Ahad sore. Terdiri dari sembilan orang dewasa dan tiga remaja.

“Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk menjauhi bantaran sungai dan segera mengamankan diri ke tempat yang lebih tinggi jika intensitas hujan meningkat,” tegas Hendri.

Apabila terjadi hujan deras di daerah hulu maka akan membuat debit Sungai Batubusuk, Sungai Guo, Sungai Lubukminturun, dan Sungai Padangbesi menjadi naik dan dikhawatirkan dapat mengakibatkan kembali terjadinya banjir bandang.

Lebih lanjut, imbauan untuk selalu waspada juga disampaikannya kepada seluruh warga Kota Padang. “Apabila terjadi banjir langsung evakuasi diri ke tempat yang lebih aman. Selalu tingkatkan kewaspadaan terhadap bencana,” imbau Hendri Zulviton.

Bencana banjir bandang susulan ini menambah catatan panjang kejadian serupa yang kerap melanda wilayah Kota Padang, terutama saat musim penghujan. Pihak berwenang terus memantau perkembangan cuaca dan kesiapsiagaan tim tanggap darurat untuk mengantisipasi kemungkinan bencana lanjutan.

Polres Padangpanjang Pasang Portal Beton
Polres Padangpanjang dan unsur terkait memasang portal beton di jalur utama Padang-Bukittinggi via Lembah Anai, Sabtu (13/12). Langkah ini dilakukan untuk mempercepat perbaikan jalan longsor dan rusak parah.

Kapolres Padangpanjang AKBP Kartyana Widyarso Wardoyo Putro mengatakan, penutupan total memberi ruang optimal bagi kontraktor PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI) melakukan pekerjaan konstruksi tanpa hambatan. “Seluruh jenis kendaraan tidak dapat melintas di jalur Lembah Anai agar proses pengerjaan bisa berjalan cepat,” ujar AKBP Kartyana, Sabtu (13/12).

Ia menargetkan jalur Lembah Anai dapat dibuka kembali untuk kendaraan roda dua dan roda empat paling lambat 16 Desember 2025, dengan standar keselamatan yang ditingkatkan. Selama penutupan, masyarakat diminta menggunakan jalur alternatif.

Penutupan penuh diberlakukan demi keselamatan pekerja dan pengguna jalan, mengingat intensitas pekerjaan yang tinggi. Namun, aparat memberikan pengecualian terbatas bagi kendaraan roda dua. Sepeda motor diizinkan melintas pada jam tertentu, yakni pukul 06.00-08.00 WIB dan 16.30-18.30 WIB.

Polres Padangpanjang menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Pihak kepolisian memastikan pengamanan dan pengaturan lalu lintas terus dilakukan hingga perbaikan rampung.

Korban Jiwa Bencana Sumatera Menjadi 1.016
Jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera kembali bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, hingga Ahad (14/12), total korban jiwa di tiga provinsi terdampak, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai 1.016 orang.

Penambahan korban meninggal dunia tersebut terjadi setelah tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi 10 jasad dalam operasi pencarian dan pertolongan yang terus dilakukan di lokasi bencana. “Per hari ini (Ahad, red) hasil pencarian dan pertolongan ini bertambah 10 jasad yang ditemukan. Ada di Aceh 9 dan 1 Kabupaten Agam sehingga total menjadi 1.016 jiwa,’’ ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers daring, Ahad (14/12).

Selain korban meninggal dunia, BNPB juga memperbarui data korban hilang akibat bencana banjir tersebut. Jumlah korban yang masih dinyatakan hilang tercatat sebanyak 212 orang. Abdul menjelaskan bahwa perbedaan data korban hilang dari hari ke hari merupakan hal yang wajar karena proses pencatatan bersifat dinamis. Ia menegaskan, data korban hilang tidak semata-mata berasal dari temuan terbaru di lapangan. Pembaruan data juga dilakukan melalui proses identifikasi lanjutan terhadap korban yang sebelumnya telah ditemukan.

“Data dari korban hilang ini tidak mesti dari data yang ditemukan di lapangan tetapi juga data penambahan identifikasi dari korban yang sebelumnya sudah ditemukan kemudian dikonfirmasi ternyata misalkan ternyata bukan dari warga kabupaten A pindah ke kabupaten B,” katanya.

Sementara itu, jumlah pengungsi yang terdampak banjir di tiga provinsi tersebut juga mengalami penurunan. BNPB mencatat jumlah pengungsi berkurang sebanyak 29.972 orang dibandingkan data sehari sebelumnya, meski angka tersebut masih terus dikonfirmasi di lapangan.

BNPB menyatakan operasi pencarian korban hilang masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan. Selain itu, pendataan dampak bencana dan penanganan pengungsi juga tetap menjadi fokus utama dalam masa tanggap darurat di wilayah terdampak.

Minta Prabowo Tetapkan Bencana Nasional
Presiden Prabowo Subianto diminta menetapkan bencana di Sumatera sebagai bencana nasional. Dengan begitu, penanganan dampak bencana diharapkan dapat berjalan lebih optimal. Permintaan tersebut menjadi salah satu rekomendasi utama hasil pertemuan ratusan ulama, pimpinan dayah, dan tokoh keagamaan Aceh, kemarin (14/12).

Mereka berkumpul dalam forum Muzakarah Ulama Aceh dan Doa Bersama untuk Korban Banjir Hidrometeorologi di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Dikutip dari Harian Rakyat Aceh (RPG), forum tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi penting bagi pemerintah pusat dan daerah.

Penetapan bencana nasional dinilai krusial guna mempercepat penanganan korban, pemulihan infrastruktur, serta membuka akses bantuan kemanusiaan internasional secara terkoordinasi, transparan, dan akuntabel. Muzakarah juga mendorong Pemerintah Aceh bersama pemerintah kabupaten/kota menyusun blueprint pembangunan Aceh pascabencana yang berorientasi jangka panjang.

Blueprint tersebut diharapkan mengintegrasikan mitigasi bencana, pemulihan lingkungan, penguatan ekonomi masyarakat, serta perlindungan lembaga pendidikan dan rumah ibadah. Para ulama menegaskan pentingnya kejujuran, transparansi, dan amanah dalam pengelolaan bantuan kemanusiaan. Mereka juga mendesak penegakan hukum secara tegas terhadap pelaku perusakan lingkungan yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko bencana.

Muzakarah ini turut menyoroti isu keseragaman ibadah dan penguatan peran masjid. Ulama Aceh menegaskan bahwa praktik keagamaan di masjid-masjid Aceh harus berlandaskan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah dengan akidah Asy’ariyah–Maturidiyah dan fikih mazhab Syafi’i, seraya tetap menghormati kearifan lokal dan tradisi keagamaan yang telah hidup di tengah masyarakat.

Boat Bantuan Sulit Diakses
Program penyediaan boat gratis oleh Pemkab Bireuen di penyeberangan Krueng Tingkeum, Kecamatan Kuta Blang, menuai keluhan. Sejumlah relawan mengaku kesulitan menemukan lokasi boat bantuan tersebut. Hingga kemarin, belum terlihat papan petunjuk, spanduk, atau informasi visual di sepanjang jalan menuju titik penyeberangan.

“Kami dengar boat bantuan gratis sudah disiapkan. Tapi begitu sampai di Kuta Blang, bingung harus ke mana. Tidak ada petunjuk sama sekali, mulai dari jalan Medan–Banda Aceh hingga ke lokasi penyeberangan,” keluh Aulia, relawan yang membawa logistik dari Kecamatan Gandapura menuju Peusangan, kemarin.

Kondisi ini dinilai berpotensi menghambat distribusi bantuan, terutama bagi relawan dari luar daerah yang belum familiar dengan wilayah tersebut. Dalam situasi darurat, kecepatan dan kemudahan akses menjadi faktor krusial.

Aulia juga mengaku belum mengetahui prosedur teknis penggunaan boat bantuan. Informasi mengenai posko, titik sandar, serta mekanisme koordinasi belum tersosialisasi secara luas. “Nomor koordinator memang ada di berita, tapi di lokasi tidak ada informasi tertulis. Kami hampir satu jam bertanya-tanya dan salah lokasi penyeberangan. Alhamdulillah, Pak Kapolres Bireuen membantu kami menyeberangi sungai,” ungkapnya.

Dari Medan ke Aceh Tamiang
Sementara itu, perjalanan dari Medan, Sumatera Utara, menuju Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, kemarin (14/12), seperti menembus lorong bencana yang belum sepenuhnya pulih. Di sepanjang jalan, tampak tumpukan kayu berukuran besar dan kecil berserakan di tepi jalan.

Kondisi tersebut diperkuat dengan keberadaan sejumlah tenda darurat yang didirikan warga di sepanjang jalur masuk dan area kota. Tenda di depan rumah digunakan sebagai tempat menerima bantuan langsung, terutama dari pengemudi yang melintas menuju Aceh Tamiang.

Belum lagi bangkai kendaraan di tepi jalan yang terimbas banjir bandang dan belum dievakuasi. Lumpur yang mengering bercampur tanah basah masih menutupi aspal.(yus/arm/akh/ra/rif/zam/oni/ttg/jpg/das)

Laporan YUSNIR dan RPG, Jakarta dan Padang

Editor : Arif Oktafian
#lembah anai #hujan deras #bencana Sumatera #padang #banjir bandang