JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Selama sepekan terakhir, jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah yang berhenti mengirimkan Makan Bergizi Gratis (MBG) ke sekolah-sekolah penerima terus bertambah.
Pemicunya, dapur-dapur MBG tersebut belum mendapatkan dana bantuan dari Badan Gizi Nasional (BGN). Efeknya, banyak siswa penerima MBG yang sudah tidak mendapatkan kiriman, terutama dalam sepekan terakhir.
Kemarin, Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang membenarkan adanya masalah terkait pencairan anggaran kepada SPPG-SPPG di berbagai daerah. Dia menyebut bahwa hal itu terjadi karena masalah teknis. ”Iya masalah teknis saja penggantian PPK (Pejabat Pembuat Komitmen, red),” ujarnya saat dihubungi, Jumat (19/12).
Dia mengklaim bahwa persoalan tersebut telah teratasi. Anggaran untuk operasional dapur-dapur MBG sudah mulai bisa dicairkan kembali sejak Kamis (18/12) sore.
Selain itu, Nanik menyebut bahwa uang insentif untuk semua SPPG tetap diberikan, meskipun dapur MBG itu berhenti sementara. ”Jika uangnya sudah masuk, sudah pasti mereka langsung beroperasi,” sambungnya.
Sementara itu, terkait hasil survei oleh Center of Economic and Law Studies (Celios), Nanik merespons santai. Dia tak mau ambil pusing atas hasil tersebut. ”Terserah siapa sajalah yang komentar, buktikan saja di lapangan berdampak atau tidak. Sudah ya,” ungkapnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, dalam surveinya, Celios menyebut bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak terbukti meringankan beban keuangan keluarga penerima. Selain itu, MBG juga tidak membuat anak lebih fokus dan aktif di sekolah.
Sebelumnya, Nanik sudah meminta agar pihak SPPG memberikan edukasi gizi untuk anak-anak penerima manfaat MBG di sekolah. Selain itu, para ahli gizi di setiap SPPG juga diminta lebih kreatif dalam menyusun menu MBG.
Kondisi di Daerah
Terhentinya operasional dapur MBG di berbagai daerah akibat macetnya dana dari BGN berimbas terhadap siswa-siswa penerima program andalan pusat tersebut. Selama sepekan terakhir, mereka tak lagi mendapat jatah makanan rutin di sekolah masing-masing. Jumlahnya tidak sedikit.
Di wilayah Kabupaten Kediri misalnya, sedikitnya ada 42 ribu siswa yang tidak lagi mendapat paket makanan, buntut tidak beroperasinya 14 SPPG alias dapur MBG di kabupaten itu.
Sedangkan di Kota Kediri, ada delapan SPPG yang tutup sementara. Sedikitnya 24.966 siswa di Kota Kediri tidak lagi menerima paket MBG sejak Rabu (17/12).
Koordinator SPPG Kabupaten Kediri Ahmad Gunawan membenarkan adanya SPPG yang harus berhenti sementara. ”Kendala bukan di sini saja, tapi seluruh Indonesia,” ujarnya.
Sesuai hasil pertemuan daring, BGN menyebut pada 28 Desember saldo SPPG harus nol atau ditarik untuk tutup buku. Setelah mekanisme anggaran di akhir tahun ini, mereka tinggal menunggu dana cair agar bisa beroperasi lagi. ”Bukan mandek permanen. Setelah libur panjang Natal dan Tahun Baru akan ada program MBG lagi,” tandas Gunawan.
Di Madiun, sejumlah SPPG juga harus menutup dapur sementara. Seperti di wilayah Kecamatan Jiwan. Sebanyak 3.036 siswa harus membawa bekal sendiri saat ke sekolah. Pasalnya, mereka tak lagi menerima jatah MBG sejak 15 Desember. ”Nggih Mas, sementara libur dulu karena dananya belum cair dari BGN,” ungkap Kepala SPPG Sambirejo, Awidyo Rosito, pada Kamis (18/12) lalu.
Awidyo menjelaskan, pencairan dana operasional MBG biasanya dilakukan dua minggu sekali. Namun, pada periode berjalan kali ini, dana yang seharusnya diterima belum juga turun meski sudah memasuki pekan kedua.
Pihak SPPG sempat menggunakan sisa dana periode sebelumnya untuk bertahan, tetapi akhirnya tidak mampu lagi menutup kebutuhan operasional dapur. ”Akhirnya kemarin pakai sisa dana, tapi setelah itu ya tidak bisa lanjut,” jelasnya.
Di Bojonegoro, sedikitnya ada 14 SPPG penyalur MBG untuk siswa berhenti beroperasi sementara. Penghentian kegiatan tersebut telah dilaporkan kepada Pemkab setempat sejak awal Desember.
Menanggapi situasi tersebut, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono mengirimkan surat resmi kepada BGN. ”Kita telah mengirimkan surat ke BGN, bahwa sejumlah SPPG di Kabupaten Bojonegoro kini tidak beroperasi,” ungkapnya.(mia/sad/ais/ut odi/aan/dan/ris/jpg)
Editor : Bayu Saputra