JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Indonesia menorehkan sejarah baru di sektor pertanian. Target swasembada pangan yang semula diproyeksikan tercapai dalam empat tahun, justru berhasil diwujudkan hanya dalam waktu satu tahun, tepatnya sepanjang 2025.
Capaian tersebut diumumkan langsung Presiden Prabowo Subianto saat kunjungan kerja di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1). Keberhasilan ini ditandai dengan lonjakan signifikan produksi beras nasional yang mencapai 34,71 juta ton pada 2025, atau naik 4,09 juta ton (13,36 persen) dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan produksi itu menghasilkan surplus beras sebesar 3,52 juta ton. Kondisi tersebut membuat Indonesia tidak melakukan impor beras konsumsi sepanjang 2025. Bahkan, Organisasi Pangan Dunia (FAO) memprediksi angka ini sebagai produksi beras tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, pencapaian tersebut bukan terjadi secara instan, melainkan buah dari perubahan besar-besaran di internal Kementerian Pertanian.
“Kita kerja 24 jam dan tidak ada waktu tidur. Kita usaha dan maksimalkan. Caranya adalah yakinkan semua. Ikuti irama dan mutlak bertransformasi dari semua sektor,” kata Amran saat diskusi dengan pimpinan Jawa Pos Group di kediamannya di kawasan Kalibata, Jakarta, Ahad (11/1).
Amran membeberkan lima langkah utama yang menjadi kunci percepatan swasembada pangan. Langkah pertama adalah deregulasi masif dengan memangkas aturan yang dinilai menghambat. Kementan mencabut 291 Peraturan Menteri Pertanian dan menyederhanakan 15 peraturan menjadi satu kebijakan terpadu.
“Sebanyak 15 Permentan disederhanakan menjadi satu aturan, serta ratusan keputusan menteri disesuaikan untuk mempercepat investasi dan hilirisasi melalui pembentukan taskforce khusus,” ujarnya.
Langkah kedua adalah penataan internal melalui penerapan sistem meritokrasi. Amran tak ragu melakukan mutasi, demosi, hingga pemecatan terhadap 192 pejabat yang dinilai tidak berkinerja atau bermasalah.
“Saya mau orang yang ingin berubah, kalau usaha awalnya cuma satu, kita tambah sampai lima supaya target melompat tinggi,” ucapnya.
Ketiga, pengawasan eksternal diperketat dengan menggandeng Satgas Pangan Polri untuk memberantas praktik mafia pangan.
Dalam kurun 2024–2025, tercatat 92 kasus berhasil ditindak, dengan 76 tersangka. Selain itu, izin 2.229 pengecer dan distributor pupuk dicabut karena pelanggaran.
Keempat, Kementan melakukan efisiensi anggaran dengan memangkas belanja perjalanan dinas, seminar, dan rapat di hotel. Sepanjang 2025, penghematan anggaran mencapai Rp3,8 triliun yang kemudian dialihkan langsung untuk kebutuhan petani, seperti benih unggul, pompa air, dan alat mesin pertanian (alsintan). Dampaknya, nilai peningkatan produksi beras ditaksir mencapai Rp17,89 triliun.
Langkah kelima adalah transformasi pertanian tradisional menuju pertanian modern berbasis mekanisasi. Penggunaan teknologi disebut mampu menekan biaya produksi hingga 50 persen dan meningkatkan hasil panen sampai 100 persen.
Selama dua tahun terakhir, sebanyak 167.906 unit alsintan disalurkan ke berbagai daerah. Program perluasan lahan sawah baru juga terus digenjot, termasuk di Merauke dan Kalimantan Tengah yang kini mulai panen.
Keberhasilan tersebut berdampak langsung pada kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Desember 2025 tercatat 123,26, tertinggi dalam 33 tahun terakhir. Sementara stok beras Bulog per 31 Desember 2025 mencapai 3,25 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah.
Ke depan, Kementan tak hanya berfokus pada ketahanan pangan, tetapi juga mendukung kemandirian energi nasional.
“Ke depan, Kementan tidak hanya fokus pada pangan, tetapi juga mendukung kemandirian energi melalui program biodiesel B50,” ujar Amran.
Selain mendorong hilirisasi produk pertanian unggulan seperti kopi, kakao, kelapa, dan sawit, pemerintah juga menyiapkan transformasi pangan menjadi energi. Sebanyak 5,3 juta ton minyak sawit akan diolah menjadi bahan bakar solar melalui penerapan biodiesel B50.
“Pada waktu yang sama, kita lakukan hilirisasi produk yang diminati di tingkat dunia, seperti kopi, kakao, kelapa, sawit, dan lain-lain. Sebanyak 5,3 juta ton minyak sawit akan diolah menjadi solar,” imbuhnya.
Setelah implementasi B40 tahun lalu, penerapan B50 diharapkan dapat menekan impor solar secara signifikan sekaligus mendorong kenaikan harga crude palm oil (CPO).
“Kebijakan ini membuat harga CPO pasti akan naik, dengan demikian, petani akan sejahtera, sekaligus kita bisa memiliki energi terbarukan atau green energy. Ini sangat baik untuk Indonesia,” jelasnya.
Amran optimistis sektor pertanian akan menjadi penggerak utama kekuatan nasional ke depan. Menurutnya, jika pertanian tumbuh dan dikelola secara modern serta berkelanjutan, maka efek berantainya akan menggerakkan seluruh sektor ekonomi lainnya, mulai dari industri, energi, hingga kesejahteraan masyarakat.
“Kalau pertanian bergerak, Indonesia akan super power kita. Semuanya bergerak dari segala sektor,” pungkasnya.
Editor : Eka G Putra