JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 resmi dibuka di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (5/2). IIMS tahun ini membawa pesan optimisme dan kolaborasi industri otomotif nasional di tengah tantangan global. Pemerintah dan pelaku industri sepakat bahwa sektor otomotif tetap menjadi penggerak utama manufaktur dan ekonomi Indonesia.
Presiden Direktur Dyandra Promosindo Daswar Marpaung menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian, atas dukungan berkelanjutan terhadap industri otomotif. Menurut dia, komitmen pemerintah dalam menjaga iklim industri, mendorong investasi, memperkuat daya saing manufaktur hingga hilirisasi menjadi fondasi penting bagi ketangguhan sektor otomotif nasional.
Dia menilai optimisme industri semakin nyata dengan terus berkembangnya inovasi teknologi, percepatan kendaraan elektrifikasi, serta penerapan prinsip keberlanjutan. Selain berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional, industri otomotif juga berperan dalam penciptaan lapangan kerja dan pemberdayaan UMKM.
Atas dasar optimisme tersebut, Dyandra kembali menghadirkan IIMS 2026 pada 5-15 Februari 2026 dengan skala yang lebih besar. Pameran tahun ini menempati area Grand Hall hingga Gambir Expo dengan total luasan 156.000 meter persegi, diikuti lebih dari 190 peserta dan 62 merek kendaraan roda dua dan roda empat. ”Hal ini mencerminkan tingginya kepercayaan industri serta besarnya potensi pasar otomotif Indonesia,” beber Daswar.
Sektor Manufaktur Tampilkan Tren Positif
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam sambutannya memaparkan kinerja sektor manufaktur yang terus menunjukkan tren positif. Dia menyebut, pertumbuhan manufaktur sepanjang kuartal I hingga III 2025 mencapai 5,17 persen, atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,01 persen.
”Pertumbuhan manufaktur di atas pertumbuhan ekonomi yang sudah terjadi dua kuartal berturut-turut ini baru pertama terjadi setelah 14 tahun,” ujar Agus. Menurut Agus, sektor otomotif menjadi motor penggerak utama kinerja manufaktur tersebut.
Indonesia saat ini memiliki 21 pabrikan kendaraan roda empat dengan kapasitas produksi hampir 2,6 juta unit per tahun, serta 52 pabrikan kendaraan roda dua dan tiga dengan kapasitas 11,2 juta unit. Industri otomotif menyerap hampir 100 ribu tenaga kerja langsung dengan total investasi mencapai Rp194,27 triliun.
Meski demikian, Agus mengingatkan adanya alarm persaingan regional. Penjualan otomotif Indonesia pada 2025 tercatat sekitar 265 ribu unit dan mulai dikejar negara lain di ASEAN. Dia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kerja sama dan berbagi peran.
”Yang paling penting, yang saya ingin ajak bapak ibu sekalian stakeholders, yaitu burden sharing. Pemerintah ada porsinya, pelaku usaha ada porsinya, perbankan ada porsinya,” urainya.
Penjualan Mobil Ditarget Capai 850 Ribu Unit
Meski pasar domestik masih tertekan, industri otomotif mulai menunjukkan tanda pemulihan pada akhir 2025 dan awal 2026. Penjualan mobil nasional diproyeksikan mencapai 850 ribu unit pada tahun ini, meningkat sekitar 5,4 persen dibandingkan realisasi 2025 sebesar 803 ribu unit. Namun, angka tersebut masih di bawah level sebelum pandemi Covid-19.
Di sisi lain, segmen kendaraan elektrifikasi mencatat pertumbuhan signifikan. Penjualan kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) melonjak dari 43 ribu unit menjadi 103 ribu unit pada 2025. Kendaraan hybrid tumbuh 15 persen, sementara penjualan plug-in hybrid melonjak drastis dari 74 unit menjadi 5.232 unit. ”Tren tersebut menunjukkan adanya pergeseran yang cukup signifikan menuju kendaraan yang lebih ramah lingkungan,” ujar Agus.
Dia menegaskan, pengembangan kendaraan elektrifikasi sejalan dengan target Net Zero Emission nasional paling lambat 2060, bahkan sektor manufaktur ditargetkan mencapai net zero pada 2050. Pengembangan ekosistem kendaraan listrik juga diperkuat dengan investasi industri baterai. Mulai dari produksi sel baterai hingga battery pack, termasuk proyek terintegrasi hulu-hilir senilai 5,9 miliar dolar AS. Proyek itu diperkirakan dapat menciptakan nilai tambah ekonomi hingga 48 miliar dolar AS.(agf/oni/jpg)
Editor : Arif Oktafian