JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Ada beberapa tradisi menarik di banyak daerah tentang sahur Ramadan. Umumnya, sahur bercerita tentang kebersamaan dan dia punya nilai kearifan lokal yang dapat diwariskan turun-temurun. Jadi sahur tidak saja becerita tentang makan.
Sahur di daerah pelosok desa, jadi momen sosial yang hangat dan dirindukan pada saat bulan Ramadan tiba. Tentu saja ini berbeda dengan perkotaan.
Di berbagai daerah di Indonesia, biasanya menjelang imsak, warga berkeliling kampung membawa kontongan, atau alat-alat bunyian lainnya. Tujuannya, untuk membangunkan warga dari tidur, agar dapat makan sahur.
Membangunkan warga lainnya dengan kentongan memang telah menjadi warisan budaya yang sarat dengan nilai kebersamaan, gotong royong, dan spiritualitas. Namun di tengah modernisasi dan globalisasi yang tak terbendung, menjaga tradisi sahur di kampung ini merupakan cara sederhana untuk mempertahankan jati diri dan kehangatan Ramadan.
Jawapos.com pun menulis 9 tradisi sahur di kampung yang masih bertahan sampai sekarang di berbagai daerah di Indonesia.
1. Sahur Keliling Membangunkan Warga
Sahur keliling menjadi tradisi paling ikonik di kampung. Anak-anak hingga orang dewasa dengan penuh riang gembira berkeliling kampung sambil membawa alat musik sederhana seperti kentongan, botol bekas, atau bedug kecil untuk membangunkan warga supaya tidak kesiangan sahur. Tradisi ini bukan hanya seru, tapi juga menciptakan rasa kebersamaan dan kepedulian antarwarga.
2. Sahur Sembari Ngobrol
Berbeda dengan suasana kota yang serba cepat, sahur di kampung sering diisi dengan obrolan santai antar anggota keluarga atau tetangga. Mulai dari cerita sehari-hari hingga rencana ibadah Ramadan. Momen ini mempererat hubungan kekeluargaan dan menciptakan kenangan manis yang sulit dilupakan.
3. Suara Kentongan di Masjid
Di banyak kampung, suara kentongan atau bedug masjid menjadi penanda waktu sahur. Ini biasanya dibunyikan secara berirama oleh remaja masjid atau penjaga musala sejak dini hari. Selain sebagai pengingat waktu sahur, bunyi kentongan juga menjadi simbol hidupnya suasana Ramadan di kampung-kampung.
4. Saling Berbagi Makanan Sahur
Di kampung, berbagi makanan sahur sudah menjadi kebiasaan. Warga yang memiliki rezeki lebih sering membagikan lauk atau makanan kepada tetangga, musafir, atau jamaah masjid. Tradisi berbagi ini mencerminkan nilai solidaritas dan kepedulian sosial yang kuat.
5. Masak Sahur Bersama di Dapur Umum
Di sejumlah kampung, ada yang masih mempertahankan tradisi memasak sahur bersama, terutama di lingkungan pesantren, kampung adat, atau desa religius. Warga biasanya membawa bahan makanan masing-masing lalu memasak dan makan bersama. Tradisi sahur bersama ini mempererat silaturahmi sekaligus menumbuhkan semangat kebersamaan dan gotong royong.
6. Anak-Anak Ikut Sahur Keliling
Sahur di kampung selalu menjadi momen yang ditunggu anak-anak. Mereka dengan antusias ikut sahur keliling, meski terkadang belum wajib berpuasa. Tradisi ini menjadi bagian dari proses pendidikan spiritual anak supaya mencintai bulan Ramadan sejak dini.
7. Membangunkan Sahur dengan Pantun atau Shalawat
Di beberapa daerah, sahur keliling dilakukan sambil melantunkan pantun lucu, shalawat, atau yel-yel khas Ramadan. Cara ini membuat suasana sahur terasa lebih hidup dan menghibur. Tradisi ini juga menjadi sarana dakwah ringan yang mudah diterima oleh masyarakat.
8. Menu Sahur Sederhana
Sahur di kampung identik dengan menu sederhana namun tetap mengenyangkan seperti nasi, sayur bening, ikan asin, sambal, dan tempe goreng. Meski sederhana, makanan ini penuh makna karena dimasak dengan kebersamaan dan keikhlasan. Bagi banyak orang, cita rasa sahur kampung justru terasa lebih nikmat dan dirindukan.
9. Sahur di Masjid atau Musala
Sebagian warga kampung memilih sahur di masjid atau musala, terutama setelah mengikuti tadarus atau qiyamul lail. Biasanya takmir masjid menyediakan makanan sahur sederhana untuk jamaah. Tradisi ini menciptakan suasana religius yang kuat sekaligus menambah semangat ibadah di bulan Ramadan.
Sumber: Jawapos.com
Editor : Rinaldi