Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Jemaah Umrah Riau Tertahan di Jeddah

Joko Susilo • Selasa, 3 Maret 2026 | 10:07 WIB

Rolliansyah Soemirat, Duta Besar RI di Iran
Rolliansyah Soemirat, Duta Besar RI di Iran

RIAUPOS.CO - Dampak perang Iran yang memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah mulai dirasakan jemaah umrah asal Indonesia, termasuk dari Provinsi Riau. Sejumlah penerbangan dari dan menuju Arab Saudi mengalami perubahan rute hingga penundaan demi alasan keamanan.

Kepala Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Riau Defizon memastikan jemaah asal Riau dalam kondisi aman meski ada yang tertahan akibat situasi tersebut. “In sya Allah aman. Kita terus memantau melalui laporan dari travel,” ujar Defizon, Senin (2/3).

Ia membenarkan adanya jemaah Riau yang seharusnya tiba di Pekanbaru hari ini (kemarin, red), namun masih tertahan di Jeddah. Informasi itu diterima dari pihak travel penyelenggara umrah yang berkoordinasi dengan maskapai terkait kepastian jadwal terbaru.

Saat ditanya mengenai jumlah jemaah umrah asal Riau yang tertunda akibat dampak perang Iran dan gangguan penerbangan tersebut, Defizon tidak merincinya. Ia menyebut data masih dihimpun karena situasi penerbangan masih berubah-ubah. “Yang jelas kondisi jemaah aman,” tambahnya.

Eskalasi konflik yang dipicu perang Iran membuat sejumlah maskapai internasional menyesuaikan jalur penerbangan guna menghindari wilayah rawan. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian jadwal bagi jemaah yang hendak kembali ke Tanah Air maupun yang masih menunggu keberangkatan dari Indonesia.

Dampak Kenaikan Harga BBM

Perang Iran melawan AS dan Israel juga berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia, yang pada akhirnya dapat berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Sebab, konflik tersebut dapat mengganggu pasokan minyak global.

“Kalau Iran terlibat konflik, yang pasti terganggu adalah pasokan minyak. Apalagi jalur distribusi seperti Selat Hormuz juga bisa terdampak, bahkan kawasan Laut Merah,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta, Senin (3/3).

Menurut Airlangga, gangguan pasokan minyak berpotensi mendorong harga minyak dunia yang saat ini sudah menyentuh kisaran 82 dolar AS per barel. Kondisi tersebut berpotensi menekan harga BBM di dalam negeri.

“Otomatis harga bisa naik, seperti saat perang Rusia dan Ukraina yang lalu. Tapi, sekarang juga ada tambahan pasokan dari Amerika dan peningkatan kapasitas dari OPEC,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah diversifikasi sumber impor minyak. Salah satunya melalui kerja sama yang dijalin oleh Pertamina dengan sejumlah perusahaan energi global.

Airlangga menyebut, Pertamina telah menandatangani nota kesepahaman dengan beberapa perusahaan energi asal AS, termasuk Chevron dan ExxonMobil untuk memastikan ketersediaan pasokan minyak dari luar kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Dubes Iran Beri Penjelasan Ini Terkait Pengganti dan Penerus Pemimpin Agung setelah Meninggalnya Ayatollah Ali Khamenei

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengingatkan, gangguan paling cepat akan terasa pada jalur perdagangan internasional, terutama yang mengarah ke kawasan Timur Tengah dan sekitarnya. Shinta menjelaskan, penutupan Selat Hormuz serta larangan bagi kapal-kapal komersial untuk mendekat ke kawasan tersebut berisiko menghambat kelancaran arus barang.

“Dampak eskalasi konflik AS-Israel-Iran yang akan terasa paling langsung dan immediate untuk Indonesia adalah gangguan pada rute perdagangan, khususnya yang mengarah ke Timur Tengah dan sekitarnya karena saat ini Selat Hormuz ditutup dan kapal-kapal komersial dilarang mendekat,” ujar Shinta.

Perlindungan WNI

Sementara itu, Duta Besar RI di Iran Rolliansyah Soemirat mengungkapkan, pihaknya mengambil langkah taktis dengan menyediakan perlindungan serta akomodasi sementara yang lebih aman bagi enam warga negara Indonesia (WNI).

Tiga di antaranya merupakan mahasiswa yang terimbas kebijakan otoritas kampus untuk mengosongkan asrama mahasiswa. Sedangkan tiga lainnya merupakan WNI yang memang mencari perlindungan ke kantor KBRI Teheran.

Diakuinya, hingga Senin (2/3), aksi saling serang antara Iran dan AS-Israel masih berlanjut. Namun, hampir seluruh serangan memiliki target yang spesifik. Sehingga ketika WNI menjauhi tempat-tempat strategis seperti kantor pemerintahan, markas Garda Revolusi, dan lain-lain diyakini akan relatif aman.

“Kami menginstruksikan dengan tegas kepada seluruh WNI untuk meningkatkan kewaspadaan, tetap berada di dalam kediaman masing-masing (stay indoors), dan menjauhi titik-titik kerumunan massa maupun lokasi yang bernilai strategis,” ujarnya saat dihubungi JPG, kemarin (2/3).

Berdasarkan pantauan intensif dan verifikasi lapangan, KBRI Teheran mengonfirmasi bahwa saat ini jumlah WNI di Iran mencapai 329 jiwa. Mayoritas merupakan mahasiswa. KBRI memastikan saat ini mereka berada dalam kondisi aman dan sehat.(agf/mia/ttg/ilo/das)

Laporan JOKO SUSILO dan JPG, Pekanbaru dan Jakarta

Editor : Arif Oktafian
#Jemaah Umrah Riau #Rolliansyah Soemirat #defizon #perang Iran AS Israel #TERTAHAN DI JEDDAH