Pergerakan harga emas dunia pada pekan depan yang terhitung sepanjang Senin-Sabtu, 13-18 April 2026 diproyeksikan akan bergerak fluktuatif, di tengah sentimen geopolitik dan arah kebijakan suku bunga global.
Pengamat Komoditas dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan, pada penutupan perdagangan Sabtu pagi (11/4) harga emas dunia berada di level 4.749 dolar AS per troy ounce. Sementara itu, harga emas batangan domestik tercatat di kisaran Rp2.860.000 per gram.
Ia menjelaskan, dalam skenario koreksi terdalam selama sepekan, harga emas dunia berpotensi turun hingga 4.358 dolar AS per troy ounce. Dampaknya, harga emas di dalam negeri diperkirakan bisa tertekan ke level Rp2.780.000 per gram.
“Dalam sepekan, sampai hari Sabtu (18/4) kemungkinan besar turunnya ini 4.358 dolar AS per troy ounce. Terus, logam mulianya di berapa? Logam mulianya kemungkinan besar di bawah 800.000. Jadi, di Rp2.780.000. Ini kalau seandainya terkoreksi,” ujar Ibrahim dalam analisisnya, Ahad (12/4).
Baca Juga: Strategi Efisiensi Gas Bumi
Namun demikian, peluang penguatan tetap terbuka. Jika harga mampu menembus resistance awal di 4.897 dolar AS per troy ounce, maka harga emas domestik berpotensi naik ke level Rp2.880.000 per gram.
Di sisi lain, emas juga masih bisa berpotensi naik lebih tinggi mencapai 5.138 dolar AS per troy ounce. Dengan posisi itu, diproyeksi akan membuat logam mulia terkerek tinggi hingga Rp3.100.000 per gram.
“Bahkan dalam sepekan, ada peluang harga emas dunia melonjak di atas 5.000 dolar AS, tepatnya ke 5.138 dolar AS per troy ounce. Ini bisa mendorong harga logam mulia dalam negeri menembus Rp3.100.000 per gram,” jelasnya.
Menurut Ibrahim, arah pergerakan emas sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik global, khususnya rencana perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Pakistan.
Baca Juga: Massa Kembali Datangi Kantor Gubernur Riau, Tolak Relokasi TNTN
Ia menilai, jika perundingan tersebut menghasilkan jeda konflik selama dua pekan dan berlanjut menjadi kesepakatan permanen, maka akan berdampak positif bagi pasar.
“Kalau terjadi kesepakatan perundingan dalam 2 minggu terjadi genjatan senjata, ini akan positif untuk harga emas. Kenapa? Kalau benar ditandatangani, harga minyak pasti akan turun. Turunnya harga minyak akan berdampak terhadap turunnya harga inflasi. Turunnya harga inflasi, berarti Bank Sentral Amerika kemungkinan besar akan menurunkan suku bunga,” terangnya.
Namun, risiko juga tetap membayangi. Jika gencatan senjata gagal dan konflik kembali memanas, terutama di jalur strategis seperti Terusan Suez atau Selat Hormuz, maka harga minyak dan dolar AS berpotensi melonjak.
Baca Juga: Kebijakan WFH dan Hemat Listrik Dievaluasi
Kondisi tersebut, lanjutnya, akan memicu kenaikan inflasi global dan mendorong bank sentral mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga.
“Kalau perangnya masih menggunakan misil, kemudian Iran masih menutup Selat Hormuz, ini akan membuat transportasi minyak itu akan tersendat, sehingga harga minyak naik, kemudian dolar menguat, dan berdampak terhadap ifplasi. Kalau inflasi tinggi, bank sentral global, kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga dan menaikkan suku bunga,” pungkas Ibrahim.(gem)
Laporan JPG, Jakarta