Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Rencana Potongan Aplikator Ojol 8 Persen Perlu Kajian

jpg • Senin, 4 Mei 2026 | 12:28 WIB
AGUNG YUDHA. (JPG)
AGUNG YUDHA. (JPG)

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Presiden RI Prabowo Subianto merencanakan potongan aplikator untuk ojek online (ojol) menjadi 8-10 persen. Pernyataan itu disampaikan pada perayaan Hari Buruh Internasional atau May Day 1 Mei 2026 di Monas, Jakarta. Penurunan potongan ini diwacanakan guna memberikan kesejahteraan lebih besar bagi pengemudi.

Asosiasi Industri Mobilitas dan Pengantaran Digital Indonesia (Modantara) menghormati keberpihakan presiden kepada kesejahteraan pengemudi. Terlebih, mitra pengemudi menjadi bagian penting dalam keberlanjutan ekosistem layanan digital.

Meski begitu, asosiasi meminta pemerintah melakukan kajian secara komprehensif terhadap penurunan 8 persen. Penurunan potongan yang begitu drastis dikhawatirkan bisa mengganggu ekosistem bisnis digital.

Oleh karena itu, perlu dibahas secara seksama dengan para pemangku kepentingan terkait sebelum kebijakan diketok. Dengan begitu, niat baik pemerintah tidak menjadi bumerang bagi mitra pengemudi.

Baca Juga: Aklamasi, Mentan Amran Kembali Pimpin IKA Unhas 2026–2030

”Kami memahami semangat pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi, namun kebijakan yang baik harus berpijak pada data, realitas ekonomi, dan keberlanjutan ekosistem. Batas potongan 8 persen mungkin terdengar sederhana, tapi dampaknya bisa sangat luas, bahkan dapat mengurangi ruang platform untuk menjaga kualitas layanan, insentif, dan keselamatan mitra,” ujar Direktur Eksekutif Modantara, Agung Yudha dalam keterangan tertulis, Sabtu (3/5).

Agung menyampaikan, banyak orang menggantungkan pencahariannya di ekosistem digital. Sehingga, segala bentuk perubahan kebijakan akan langsung dirasakan oleh masyarakat luas.

”Ekosistem ini telah menjadi bantalan sosial bagi jutaan orang, sehingga kebijakan yang diambil perlu menjaga keberlanjutannya,” tambahnya. 

Menurut Modantara, isu kesejahteraan mitra tidak bisa disederhanakan hanya menjadi angka potongan platform. Ekosistem mobilitas dan pengantaran digital melibatkan struktur biaya yang kompleks, mulai dari teknologi, keselamatan, layanan pelanggan, perlindungan risiko, promosi, edukasi mitra, sistem pembayaran, keamanan transaksi, hingga investasi berkelanjutan untuk menjaga kualitas layanan. 

Baca Juga: 59 Jemaah Haji Indonesia Dirawat di RS Saudi, Sebagian Besar Akibat Serangan Jantung dan Radang Paru-paru, 7 Jemaah Wafat

Setidaknya saat ini ada 2-4 juta mitra pengemudi aktif. Perputaran uang yang terjadi begitu besar. Di luar itu, terdapat jutaan UMKM yang terlibat dalam ekosistem bisnis ini. Kondisi ini perlu menjadi perhatian besar pemerintah.

Asosiasi menilai, batasan 8 persen ini akan mengurangi ruang operasional platform hingga 60 persen. Kondisi ini akan memaksa beberapa platform untuk mengubah model bisnisnya secara signifikan. (jpg)

 

Editor : Arif Oktafian
#ojol #prabowo subianto #hari buruh internasional