Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Emas Perhiasan dan Pangan Pendorong Inflasi April

jpg • Selasa, 5 Mei 2026 | 11:38 WIB
Penjual memperlihatkan aneka ragam emas perhiasan di toko emas Sukaramai Trade Center (STC), Jalan Jenderal Sudirman, Kota Pekanbaru, baru-baru ini. (MHD AKHWAN/RIAU POS)
Penjual memperlihatkan aneka ragam emas perhiasan di toko emas Sukaramai Trade Center (STC), Jalan Jenderal Sudirman, Kota Pekanbaru, baru-baru ini. (MHD AKHWAN/RIAU POS)

 
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Laju inflasi tahunan pada April 2026 tercatat sebesar 2,42 persen. Kenaikan harga terutama dipicu kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta perawatan pribadi dan jasa lainnya, dengan komoditas utama pangan dan emas perhiasan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menjelaskan, secara tahunan (YoY) inflasi terjadi akibat kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,47 pada April 2025 menjadi 111,09 pada April 2026.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau men-jadi penyumbang utama dengan inflasi 3,06 per­sen dan andil 0,90 persen. ”Komoditas dengan andil terbesar antara lain ikan segar, daging ayam ras, beras, minyak goreng, sigaret kretek mesin (SKM), serta telur ayam ras,” ujarnya, Senin (4/5).

Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tinggi 11,43 persen dengan andil 0,77 persen, terutama dipicu emas perhiasan.

Berdasarkan komponen, inflasi inti tercatat 2,44 per­sen dengan kontribusi 1,56 persen. Komoditas pendorongnya meliputi emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, serta biaya pendidikan tinggi.

Sementara itu, komponen harga bergejolak mengalami inflasi 3,37 persen dengan andil 0,56 persen, didorong daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras. Adapun komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi 1,53 persen dengan andil 0,30 persen, terutama dari tarif angkutan udara serta produk rokok.

Baca Juga: Indosat Catat Pertumbuhan Dua Digit pada Kuartal I 2026 

”Secara tahunan, seluruh provinsi mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Papua Barat sebesar 5 per­sen, sedangkan terendah di Lampung sebesar 0,53 persen,” jelas Ateng.

Inflasi tahunan April 2026 sebesar 2,42 persen memang masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia (BI). Namun, komposisi tekanan harga menunjukkan dinamika yang perlu diwaspadai.

Bagi BI, situasi ini menghadirkan dilema kebijakan. Di tengah kebutuhan menjaga pertumbuhan ekonomi, ruang untuk menurunkan suku bunga menjadi terbatas. Apalagi, tekanan eksternal masih kuat, mulai dari kenaikan harga energi global hingga penguatan dolar AS.

Selain itu, kenaikan harga energi global berpotensi memperbesar tekanan inflasi ke depan, baik melalui biaya logistik maupun harga barang konsumsi. Jika berlanjut, efek rambatan ke inflasi inti bisa semakin terasa.

Dari sisi domestik, normalisasi permintaan pasca-Lebaran memang membantu meredam tekanan jangka pendek. Hal ini tercermin dari deflasi pada beberapa komoditas pangan serta koreksi harga emas setelah reli panjang.

”Secara bulanan, 30 provinsi mengalami inflasi dan delapan provinsi deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Papua Barat sebesar 2 persen, sedangkan deflasi terdalam di Maluku sebesar 0,17 persen,” tambah Ateng.(mim/dio/jpg)

Laporan JPG, Jakarta

Editor : Arif Oktafian
#emas #inflasi #ihk #jakarta