BENGKALIS (RIAUPOS.CO) - Sore itu, suasana di rumah duka keluarga Almarhumah Mar’ati binti H Kasmuri Usman di Gang Bubut Jalan H Sulaiman RT01/RW01, Desa Sungai Alam terlihat ramai dikunjungi sanak keluarga dan tetangganya yang silih berganti.
Di sepanjang gang masuk ke rumah duka, ada beberapa papan ucapan berbela sungkawa atas wafatnya almarhumah. Tenda biru yang berdiri di depan rumahnya berjejer kursi plastik warna merah. Di dalam rumah, sekelompok ibu-ibu dari keluarga jauh Almarhumah turut memberikan ucapan bela sungkawa kepada anak-anak almarhumah.
Suasana hening dan sedih dari tangisan anak-anaknya juga terdengar lirih dari balik pintu masuk rumahnya. Sulistia Sari (44), anak perempuan pertama almarhumah yang menerima kedatangan Riau Pos, terlihat raut wajahnya sedih dan wajah yang sembab akibat tangisan kepergian almarhumah.
Sesekali ia menyapu mukanya dengan jilbab hitamnya. Saat ada pelayat yang berpamitan pulang, berbisik pelan agar dirinya tetap sabar. “Sabar ya bu. Ujian dari Allah. Almarhumah meninggal di Tanah Suci Makkah, wafat yang sangat baik dan husnulkhatimah,” ucap Yani, salah seorang pelayat sambil memeluk erat Tia panggilan akrab Sulistia Sari.
Usai menerima para pentakziah, Tia bercerita tentang ibunya sebelum berangkat sampai menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit di Makkah. “Tahun 2013 lalu, ayah dan ibu saya mendaftar haji. Namun setelah setahun mendaftar ayah saya H Abdurrahman bin Sulaini meninggal dunia. Tinggallah ibu saya yang menunggu untuk berangkat haji,” ucapnya.
Setelah menunggu selama 13 tahun, barulah dapat panggilan untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah. Itupun sebenarnya jadwal keberangkatannya tahun 2027, karena mendapatkan kesempatan ada kuota tambahan dari kementerian haji, maka langsung diurus pelunasannya.
“Kami juga terkejut dan haru bisa dipercepat setahun ini. Dari jadwal sebelumnya yakni 2027. Sehingga membuat kebahagiaan tersendiri bagi ibu kami dan anak-anaknya,” ucap Tia yang mengaku memiliki dua adik perempuan.
Sedangkan alharhumah Mar’ati binti H Kasmuri Usman (66) berangkat ke Tanah Suci masuk dalam Kloter BTH 9 yang berangkat dari pelabuhan Bengkalis pada 30 April 2026 dan bertolak ke Tanah Auci bersama rombongan pada 1 Mei 2026.
“Almarhum dari Bengkalis ditemani adik saya sendiri sampai ke Batam. Saat dalam kapal, ibu saya sempat sakit dan muntah-muntah. Ibu sempat dirawat di rumah sakit Batam. Setelah dinyatakan sembuh, langsung berangkat bersama rombongan,” ujar Tia.
Ia menceritakan, selama penerbangan dari Batam menuju Madinah sempat berjalan lancar. Namun saat pesawat akan landing, jantungnya kembali berdebar karena goncangan pesawat. “Saat ban pesawat landing di bandara dan terjadi goncongan ibu langsung sakit dan drop kondisi badannya,’’ ujarnya.
‘’Setelah turun langsung dibawa dan dirawat di rumah sakit di sana selama dua hari. Setelah dinyatakan sehat, barulah bergabung dengan jemaah lain dalam satu kamar empat orang,” tambahnya mengaku mendapatkan cerita dari saudaranya yang ikut berhaji bersama istrinya.
Selama dirawat, Tia mengaku selalu melakukan panggilan melalui video call. Saat dirawat juga dia mengeluh sakit dan tidak bisa terlambat makan. Makanya dia meminta ibunya untuk meminta makan sama perawat di rumah sakit.
“Tapi karena di rumah sakit perawatnya tak bisa berbahasa Indonesia dan hanya bahasa Arab. Makanya saya minta agar menggunakan isyarat saja untuk meminta makan, akhirnya dikasi makan,” ceritanya.
Ia mengaku, selama di Tanah Air atau 6 bulan sebelum keberangkatan, ibunya sempat menjalani sakit jantung dan dilakukan pemasangan ring pada jantungnya. Bahkan dua bulan sebelum berangkat pun sempat operasi mata, karena tak bisa melihat. Rencananya setelah pulang akan operasi lagi bagian sebelahnya.
“Jadi kami mendapat kabar dia meninggal pada Rabu (13/5) sekitar pukul 21.10 WIB. Padahal sorenya sekitar pukul 17.15 WIB sempat video call. Namun waktu itu dia sempat mengeluh sakit dan tak mau makan. Saya minta agar menyapu perutnya dengan minyak oles,” ucapnya.
Tapi malamnya malah mendapat kabar dari petugas ibu saya meninggal. Tapi dirinya diminta untuk video call bersama petugas dan perawat dan sempat memperhatikan denyut nadinya sampai akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Baca Juga: Manipulasi Data hingga Kuota Impor untuk Kuasai Pasar, Said Didu Bongkar Praktik Mafia Pangan
“Jadi paman saya mengabarkan, bahwa ibunya dimakamkan di pemakaman di Tanah Suci Makkah. Semoga Allah mengampuni dosanya dan menerima alam baiknya dan ditempatkan di surganya Allah SWT,” ucap Tia sambil meneteskan air mata.
Ia mengaku, sebelum keberangkatannya, dia meminta anak-anaknya untuk segera membagikan harta warisannya. Karena almahumah khawatir tak kembali lagi. Akhirnya melalui pamannya dan dikumpulkan adik beradiknya dan langsung dibagikan harta peninggalan bapak dan ibunya.
“Itu sudah terkabulkan dan sudah dibagikan ke pada kami bertiga. Namun dia juga berpesan, kalau nanti pulang dari Tanah Suci, buatlah kenduri kecil-kecilan dan setelah satu minggu di rumah barulah kita potong satu ekor kambing untuk kenduri agak besar,” kenang Tia.
Sementara itu, Kepala Kemenhaj Kabupaten Bengkalis Rusli juga mengatakan, berdasarkan laporan petugas kloter, almarhumah Mar’ati binti H Kasmuri Usman (66) diketahui memiliki riwayat angioplasty pada Desember 2025, diabetes melitus non insulin, chronic ischemic heart disease, serta hypertensive heart disease.
Ia menyebutkan, Rabu (13/5), almarhumah dilaporkan tidak memiliki nafsu makan dan tetap diberikan motivasi untuk makan serta mengonsumsi obat secara rutin. Sekitar pukul 16.00 WAS, saat sedang duduk di pemondokan, almarhumah tiba-tiba terbaring dan tidak sadarkan diri.
“Teman sekamarnya, kemudian segera melapor kepada ketua regu dan memanggil petugas kesehatan. Petugas kesehatan yang tiba di lokasi mendapati kondisi almarhumah tidak sadar dengan GCS E1M1V1, tekanan darah tidak terukur, nadi sangat lemah, serta tidak terdapat pernapasan,” ujarnya.
Petugas kemudian melakukan tindakan medis darurat berupa CPR, pemasangan infus, serta injeksi epinefrin. Meski sempat terdapat respons sementara, petugas terus melanjutkan penanganan resusitasi selama kurang lebih satu jam tiga puluh menit. Namun kondisi almarhumah tidak menunjukkan perbaikan hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada pukul 17.51 WAS.(das)
Laporan ABU KASIM
Editor : Arif Oktafian