Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Telusuri Jejak Keluarga Korban Romusha, Rombongan Belanda Datangi Tugu Romusha Pekanbaru

M Ali Nurman • Sabtu, 16 Mei 2026 | 22:38 WIB
32 warga Belanda foto bersama di Tugu Romusha Pahlawan Kerja dan Lokomotif Esslingen di Jalan Kharuddin Nasution, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, Kamis (14/5/2026).(ISTIMEWA)
32 warga Belanda foto bersama di Tugu Romusha Pahlawan Kerja dan Lokomotif Esslingen di Jalan Kharuddin Nasution, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, Kamis (14/5/2026).(ISTIMEWA)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) -- Kedatangan puluhan warga negara Belanda ke Tugu Romusha Pahlawan Kerja dan Lokomotif Esslingen di Jalan Kharuddin Nasution, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, Kamis (14/5/2026), bukan untuk berwisata ataupun mengenang masa kolonial. 

Rombongan yang berjumlah 32 orang itu datang dengan satu tujuan, yakni menelusuri jejak sejarah dan mengenang anggota keluarga mereka yang menjadi korban kerja paksa Romusha pada masa Perang Dunia II.

Mereka terdiri dari anak, cucu hingga keluarga para tahanan perang dan korban kerja paksa yang pernah dilibatkan dalam pembangunan jalur Kereta Api Pakanbaru pada tahun 1943 hingga 1945. Kedatangan mereka membawa cerita keluarga, memori yang diwariskan lintas generasi, sekaligus penghormatan bagi ribuan korban yang kehilangan nyawa di tanah Riau.

Baca Juga: Penyidik Jerat Tersangka Penganiayaan Anak hingga Tewas di Rohul dengan Hukuman Maksimal

Suasana haru menyelimuti kawasan monumen saat lagu kebangsaan Indonesia dan Belanda dikumandangkan berdampingan. Di bawah monumen yang menjadi simbol penderitaan ribuan pekerja paksa pembangunan jalur Pakanbaru Railway itu, para tamu asal Belanda tampak berdiri hening.

Sebagian dari mereka menundukkan kepala sambil memejamkan mata dan memanjatkan doa, seolah menyampaikan penghormatan terakhir kepada para korban yang tidak pernah mereka temui secara langsung.

Tragedi Romusha pembangunan rel kereta api Muarasijunjung-Pekanbaru terjadi pada masa pendudukan Jepang, tepatnya tahun 1943 hingga 1945. Jalur sepanjang sekitar 220 kilometer tersebut dibangun dengan kerja paksa dan menelan korban jiwa dalam jumlah sangat besar.

Baca Juga: Bupati Meranti Resmikan Jalan Akses Wisata Telaga Air Merah

Diperkirakan sekitar 285.000 orang meninggal dunia selama proses pembangunan rel tersebut. Jumlah korban bahkan disebut hampir setara dengan jumlah bantalan rel yang dipasang di sepanjang jalur kereta api itu. Artinya, setiap satu kilometer pembangunan rel diperkirakan memakan korban sekitar 1.270 jiwa.

Kini, jalur kereta api Muarasijunjung-Pekanbaru sudah tidak lagi berbekas. Yang tersisa hanyalah monumen dan bongkahan batu yang diabadikan sebagai pengingat tragedi kemanusiaan tersebut di Kota Pekanbaru.

Meski demikian, tragedi Romusha tetap menjadi catatan penting sejarah dunia sebagai bukti kejahatan perang tentara Jepang. Selain karena besarnya jumlah korban jiwa, jalur kereta api Pakanbaru juga tercatat sebagai salah satu proyek rel kereta api dengan usia penggunaan yang sangat singkat.

Baca Juga: Panen Raya Kuartal II, Polda Riau Hasilkan 117,3 Ton Jagung

Atase Militer Belanda untuk Indonesia, Johannes Moerkens mengatakan, tujuan kedatangan rombongan tersebut adalah untuk memastikan sejarah kelam itu tidak hilang ditelan waktu, terutama bagi generasi muda.

"Menurut saya peringatan ini penting sekali karena ada banyak korban Romusha, tetapi banyak orang sekarang tidak tahu bagaimana situasi waktu itu. Ada yang sudah lupa. Jadi acara seperti ini penting terutama untuk generasi muda," katanya.

Menurut Johannes, bagi keluarga korban, perjalanan ke Pekanbaru menjadi bagian dari upaya menjaga ingatan tentang luka sejarah yang pernah dialami keluarga mereka.

Baca Juga: Jemaah Haji Fakhriadi Syamsuddin dan Istri Resmi Diberangkatkan, Total 4.694 Jemaah Riau Sudah di Arab Saudi

Ia menjelaskan, pembangunan rel kereta api Pakanbaru bukan hanya melibatkan tahanan perang dari luar negeri, tetapi juga ratusan ribu masyarakat Indonesia yang dipaksa bekerja dan didatangkan dari berbagai daerah.

"Ada banyak orang dari Jawa dan Sumatra yang dipindahkan ke pedalaman untuk bekerja di sana. Mungkin jumlahnya sampai ratusan ribu. Orang muda harus belajar dari tragedi ini supaya tidak terjadi lagi perang seperti Perang Dunia," terangnya.

Bagi keluarga korban, lanjut Johannes, Pekanbaru bukan sekadar kota di Pulau Sumatra. Kota ini menjadi ruang kenangan, tempat ayah, kakek dan leluhur mereka pernah bertahan hidup di tengah kerasnya perang dan kerja paksa.

Baca Juga: Presiden Prabowo Puji Mentan Amran, Target Swasembada 4 Tahun Tercapai dalam 1 Tahun

Ia berharap situs sejarah seperti Tugu Romusha dapat terus dirawat dan dikenalkan kepada generasi muda sebagai ruang pembelajaran sejarah kemanusiaan.

"Mungkin satu atau dua tahun lagi ada upacara lagi di sini. Saya berharap tempat seperti ini bisa menjadi tempat belajar tentang situasi masa lalu," lanjutnya.

Johannes juga menilai hubungan sejarah antara Indonesia dan Belanda hari ini tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang kedua negara di masa lalu.

Baca Juga: Penggrebekan di Kafe Remang-Remang dan Rumah Kontrakan, Polisi Amankan 8 Pelaku Narkoba

"Sekarang banyak orang Belanda masih punya hubungan dengan Indonesia. Kami seperti saudara. Karena itu penting juga mengenang orang Indonesia yang meninggal di sini," urainya.

Sementara itu, Eric dari The Burma-Siam Railway and Pakan Baroe Railway Commemoration Foundation mengatakan, perjalanan ke Pekanbaru dilakukan khusus untuk mengenang para tahanan perang dan korban kerja paksa yang meninggal dunia saat pembangunan jalur kereta api pada masa pendudukan Jepang.

"Kami berada di sini bersama keluarga yang ayah atau kakeknya bekerja di Pakanbaroe Railway. Kami ingin menghormati semua korban yang meninggal di sini selama Perang Dunia Kedua," katanya.

Baca Juga: Hari Pertama Dibuka, TPS Pasar Subuh Tembilahan Langsung Dipadati Warga

Menurut Eric, hingga saat ini masih banyak masyarakat, baik di Belanda maupun Indonesia yang belum mengetahui sejarah kelam pembangunan jalur kereta api tersebut.

"Banyak orang di Belanda tidak tahu tentang Pakanbaroe Railway. Saya pikir di Indonesia juga sama. Ketika saya bertanya kepada beberapa orang, mereka tidak tahu apa yang terjadi di sini," ujarnya.

Ia menyebutkan, sedikitnya sekitar 18.000 tahanan perang pernah dilibatkan dalam proyek pembangunan rel kereta api tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, kisah penderitaan mereka perlahan mulai terlupakan. "Karena itu penting untuk terus menceritakan kisah ini dan menghormati penderitaan mereka," katanya.

Editor : Rinaldi
#korban romusha #rombongan belanda #Tugu Romusha Pekanbaru