JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Data BPJS Kesehatan menunjukkan, jumlah penderita diabetes militus (DM) dan hipertensi usia muda yang berkunjung ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) terus meningkat sejak 2021 hingga 2025. Biaya yang dikeluarkan BPJS Kesehatan untuk layanan DM dan hipertensi pun sangat besar. Sepanjang 2014–2025, total pembiayaannya mencapai Rp151,4 triliun. Itu belum termasuk biaya penyakit komplikasi yang dipicu DM dan hipertensi. Pada 2025, misalnya, BPJS Kesehatan mengeluarkan Rp17,3 triliun untuk penyakit jantung dan Rp7,2 triliun untuk stroke.
Lonjakan kasus penyakit kronis pada usia muda juga dirasakan fasilitas kesehatan. Pemilik Klinik Sehat Setia Brebes Munaryo mengatakan, saat awal menjalankan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) belasan tahun lalu, hampir tidak ada pasien penyakit kronis berusia di bawah 40 tahun.
Namun, dalam lima tahun terakhir, pasien usia produktif justru semakin mendominasi. ‘’Sekarang semakin banyak pasien di bawah 40 tahun. Bahkan ada pasien hipertensi dan diabetes melitus yang usianya belum 30 tahun,” ujarnya.
Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihai Pujowaskito mengaku prihatin dengan meningkatnya kasus hipertensi dan diabetes pada usia muda.
‘’Angka penderita hipertensi dan diabetes meningkat pada kelompok usia di bawah 40 tahun,” katanya. Sebagai dokter spesialis jantung, Pujo menjelaskan, hipertensi dan diabetes kerap tidak menunjukkan gejala awal. Banyak pasien baru mengetahui penyakitnya setelah muncul komplikasi.
Baca Juga: Biaya Pemulangan Jemaah Haji Wafat di Embarkasi Batam Ditanggung Pihak Penerbangan Lion Air
Karena itu, dia menekankan pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan rutin. Langkah tersebut juga diperlukan untuk menjaga keberlanjutan pembiayaan layanan kesehatan nasional. Menurut dia, penyakit kronis seperti hipertensi dan DM menjadi beban pembiayaan jangka panjang jika tidak diimbangi upaya promotif dan preventif. ‘’Penyakit katastropis menyerap sekitar 25 persen pembiayaan JKN,” jelasnya.
Pujo mengingatkan masyarakat untuk mulai menerapkan pola hidup sehat, menjaga pola makan, dan rutin berolahraga agar terhindar dari penyakit kronis. ‘’Dengan pola hidup sehat, masyarakat bisa tetap sehat dan produktif,” tuturnya.
Kasus pada Anak Muda
Diabetes melitus (DM) dijuluki mother of diseases karena dapat memicu berbagai komplikasi. Sedangkan hipertensi dikenal sebagai silent killer lantaran sering muncul tanpa gejala. Dua penyakit tersebut makin sering menyerang kelompok usia di bawah 40 tahun.
Misalnya terjadi pada Deni. Dia kini rutin mengonsumsi obat pengendali tekanan darah. Ke mana pun pergi, perempuan 37 tahun itu selalu membawa obatnya. Dia juga mulai menghindari makanan yang dapat memicu tekanan darah tinggi.
“Waktu itu habis MCU (medical check-up, Red). Pandangan saya sering berkabut,” tuturnya. Dokter menyarankan Deni rutin mengontrol tekanan darah dan mengonsumsi obat. Kini tekanan darahnya stabil di kisaran 120/80 mmHg. Dia pun rutin kontrol ke dokter penyakit dalam.
‘’Sekarang saya satu geng dengan bapak teman saya karena dokternya sama,” kelakarnya.
Deni bukan satu-satunya pengidap hipertensi dengan usia di bawah 40 tahun. Ada juga perempuan berusia 36 tahun bernama Desi yang diwawancarai JPG.
Dua tahun lalu, Desi mulai merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Setiap kali memeriksa tekanan darah, hasil pertama hampir selalu tinggi. Dia harus mengulang pemeriksaan hingga dua kali agar angkanya masuk kategori normal, meski tetap berada di batas atas.
Awalnya, Desi menganggap kondisi tersebut sepele. Tidak ada langkah serius yang diambil. Aktivitas tetap berjalan seperti biasa. Namun, hasil MCU tahun lalu mengubah semuanya. Selain tekanan darah yang tinggi, kadar kolesterolnya juga bermasalah.
Baca Juga: Biaya Pemulangan Jemaah Haji Wafat di Embarkasi Batam Ditanggung Pihak Penerbangan Lion Air
‘’Menurut suami, kalau tensi nggak terkontrol saya jadi gampang marah,” ujarnya. Desi kemudian memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam. Dokter menyarankan konsumsi obat rutin dan kontrol setiap bulan.
Selama tiga bulan pertama, dia cukup disiplin menjalani pengobatan. ‘’Setelah itu reimburse kantor habis dan jarak ke rumah sakit jauh, jadi malas kontrol,” katanya. Akibatnya, pemeriksaan sempat terhenti cukup lama. Baru awal tahun ini dia kembali kontrol. Hasilnya belum banyak berubah. Tekanan darah dan kadar kolesterolnya masih tinggi. Kini dokter menyarankan kontrol setiap tiga bulan.
Bagi Desi, tantangan mengendalikan hipertensi bukan hanya soal minum obat. Biaya pemeriksaan juga menjadi beban tersendiri. ‘’Yang mahal tes darah. Bisa Rp500 ribu sampai Rp600 ribu. Belum biaya dokter dan obat,” tuturnya.
Dalam tiga bulan, pengeluaran untuk pemeriksaan dan pengobatan bisa mencapai sekitar Rp2 juta. Karena itu, dia mulai mempertimbangkan menggunakan BPJS Kesehatan. Desi mengaku kerap dihantui kecemasan saat tekanan darahnya belum terkendali. ‘’Kalau hipertensi nggak terkontrol saya suka overthinking. Takut kena stroke atau serangan jantung,” katanya. Namun, perasaan itu sedikit mereda setelah rutin mengonsumsi obat.
Dia menyadari faktor keturunan turut berpengaruh. Sebab, ibunya memiliki riwayat hipertensi. Namun, Desi tak menampik gaya hidupnya selama ini jauh dari sehat. Baginya, hidup dengan hipertensi bukan sekadar menjaga angka tekanan darah tetap normal. Ada kecemasan, biaya pengobatan, hingga perjuangan mengubah kebiasaan lama yang perlahan harus ditinggalkan.
Pola Hidup Tidak Sehat Sering Jadi Pemicu Utama
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan, diabetes melitus (DM) dan hipertensi kini tidak lagi identik dengan usia lanjut. Dua penyakit tidak menular itu semakin banyak menyerang kelompok usia produktif akibat pola hidup modern yang tidak sehat.
WHO menyebut hipertensi sebagai kondisi ketika tekanan darah mencapai 140/90 mmHg atau lebih. Sementara itu, diabetes terjadi saat tubuh tidak mampu mengatur kadar gula darah dengan baik.
WHO mencatat jumlah orang dewasa dengan hipertensi meningkat dari 650 juta pada 1990 menjadi sekitar 1,4 miliar pada 2024. Di Indonesia, ancaman penyakit tersebut juga makin banyak ditemukan pada kelompok usia muda.
Berdasarkan data Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025, dari 16,1 juta skrining tekanan darah pada kelompok usia 18-39 tahun, ditemukan 1,47 juta kasus hipertensi. Sementara itu, dari 12,9 juta skrining gula darah pada kelompok usia yang sama, ditemukan 21.649 kasus hiperglikemia.
Baca Juga: Cuaca 46 Derajat, Jemaah Calon Haji Riau Tetap Aktif Jalani Manasik dan Ibadah
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan, tren pergeseran usia sebenarnya sudah terlihat dalam Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dan kini makin tampak melalui pelaksanaan CKG. ‘’Terlihat lebih banyak usia di bawah 40 tahun yang terdeteksi,” ujarnya.
Menurut Nadia, kasus hipertensi dan DM lebih banyak ditemukan di wilayah perkotaan, meski mulai meningkat di pedesaan. Dia menegaskan, lonjakan kasus pada kelompok muda tidak bisa hanya dikaitkan dengan konsumsi gula atau garam berlebih. Kondisi tersebut merupakan persoalan multifaktor yang berkaitan dengan pola hidup tidak sehat secara keseluruhan. Mulai dari konsumsi tinggi gula, garam, dan lemak (GGL), kebiasaan mengonsumsi pangan ultra-proses.(lyn/oni/jpg)
Editor : Arif Oktafian