JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Gelombang aksi mahasiswa terjadi di sejumlah daerah, Senin (15/6). Mereka menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah. Mulai Program Makan Bergizi Gratis (MBG), kenaikan harga BBM, hingga revisi regulasi terkait TNI-Polri.
Di Surabaya, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Plus mendatangi Gedung DPRD Surabaya. Mereka meminta legislatif daerah tidak hanya menerima aspirasi, tetapi turut mengawal tuntutan tersebut ke pemerintah pusat.
Ketua HMI Cabang Surabaya Moch Elok Hakan Multazam mengatakan, tuntutan yang dibawa merupakan hasil kajian mahasiswa dan aspirasi masyarakat. Di antaranya terkait pelemahan rupiah, persoalan BBM, dugaan jual beli titik dapur MBG, serta evaluasi Undang-Undang Polri.
’’Persoalan ekonomi menjadi keresahan utama masyarakat, mulai UMKM, pedagang kecil, pengemudi ojek online, hingga ibu rumah tangga,” ujarnya. Mahasiswa memberi waktu 14 hari kepada DPRD Surabaya untuk menindaklanjuti aspirasi tersebut. Jika tidak ada perkembangan, mereka mengancam kembali menggelar aksi dengan massa lebih besar.
Wakil Ketua DPRD Surabaya Bahtiar Rifai mengatakan, sejumlah tuntutan memang menjadi kewenangan pemerintah pusat. Namun, pihaknya memastikan aspirasi mahasiswa akan diteruskan melalui mekanisme yang berlaku.
Aksi lain berlangsung di depan Gedung Negara Grahadi. Aliansi Surabaya Menggugat membawa sejumlah kritik terhadap kebijakan pemerintah. Koordinator lapangan aksi Muhammad Ikhsan Aditya menyebut kebijakan pemerintah saat ini memicu keresahan publik.
Baca Juga: BGN Bantah Keuntungan MBG untuk Presiden, Molis Tak Disita, Dapur Dilacak
Menurut dia, sejumlah program pemerintah dinilai belum menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat. ’’Ini respons terhadap berbagai kebijakan yang dinilai belum menjawab persoalan rakyat,” ujarnya.
Di Malang, lebih dari 500 mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Resah Brawijaya menggelar aksi di depan DPRD Kota Malang. Pantauan Radar Malang Grup Jawa Pos (JPG), mahasiswa membawa lima tuntutan, termasuk penurunan harga BBM, penolakan dwifungsi TNI-Polri, serta evaluasi MBG dan Koperasi Desa Merah Putih.
Presiden Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya Muhammad Azhar Zidan mengatakan, mahasiswa memberi waktu tiga hari kepada pemerintah untuk merespons tuntutan tersebut.Ketua DPRD Kota Malang Amithya Ratnanggani Sirraduhita menemui massa dan berjanji meneruskan aspirasi mahasiswa ke pemerintah pusat.
Sementara itu, aksi serupa digelar mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) di depan Gedung DPRD Sumatera Utara. Dilansir dari Sumut Pos (RPG), massa menyampaikan sembilan tuntutan. Mulai stabilitas harga BBM, transparansi anggaran, evaluasi MBG, hingga penciptaan lapangan kerja.
Ketua BEM USU Angga Almaris Harahap mengatakan, aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kondisi nasional. ’’Pemerintah harus menunjukkan komitmen menciptakan lapangan kerja sebagaimana yang telah dijanjikan,” ujarnya.
Di Semarang, aksi demonstrasi mahasiswa di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah sempat memanas. Ketegangan terjadi setelah polisi memadamkan api dari ban yang dibakar massa aksi. Aksi yang digelar HMI Cabang Semarang itu dimulai dengan long march dari kawasan Simpang Lima menuju Jalan Pahlawan.
Mahasiswa kemudian menggelar orasi dengan membawa poster berisi kritik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Di tengah aksi, mahasiswa membakar ban tepat di depan pagar Kantor Gubernur Jateng. Kobaran api disertai asap hitam pekat membumbung hingga menarik perhatian aparat keamanan.
Polisi yang berjaga kemudian mendekati lokasi dan memadamkan api menggunakan alat pemadam. Pantauan Radar Semarang Grup Jawa Pos, Kapolrestabes Semarang Kombespol Heri Wahyudi memantau langsung situasi bersama sejumlah personel. Pemadaman tersebut memicu ketegangan. Massa aksi yang tidak terima sempat melempari aparat dengan botol air mineral. Beberapa mahasiswa juga mencoba mendekati pagar kantor gubernur sambil melontarkan protes.
Api sempat kembali menyala setelah dipadamkan. Aparat kemudian kembali melakukan penyemprotan hingga api berhasil dipadamkan. Setelah situasi terkendali, mahasiswa melanjutkan orasi.
Baca Juga: Prabowo dan Jusuf Kalla Bertemu Empat Mata di Istana
Prabowo Pilih Temui Presiden Jerman
Kemana Presiden Prabowo Subianto saat aksi demo mahasiswa berlangsung kemarin? Prabowo ternyata tetap berada di Jakarta. Dia menerima kunjungan kenegaraan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier di Istana Merdeka.
Pertemuan itu membahas rencana perluasan investasi di sejumlah sektor strategis di Indonesia, mulai dari transisi energi hingga kendaraan listrik. Di waktu bersamaan, ratusan mahasiswa menggelar aksi di sejumlah titik di Jakarta. Salah satunya berlangsung di depan BSI Tower, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.
Massa yang berasal dari Universitas Bung Karno (UBK), Universitas MH Thamrin, dan sejumlah kampus lain awalnya hendak menuju kawasan Patung Kuda, Jalan Merdeka Barat. Namun, perjalanan mereka terhenti setelah polisi melakukan pengamanan dan mengarahkan massa berhenti di kawasan Tugu Tani.
Sempat terjadi adu argumen antara mahasiswa dan aparat. Massa kemudian bergerak hingga akhirnya melakukan aksi di sekitar BSI Tower, meski lokasi tersebut masih berjarak ratusan meter dari Patung Kuda.
Ketua BEM FISIP UBK Kurnia Arya Satya mengatakan, mahasiswa datang untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Dia menilai kritik publik seharusnya tidak dikaitkan dengan afiliasi politik tertentu. ’’Ketika kami menyampaikan kritik, jangan langsung dikaitkan dengan kelompok tertentu. Kami menyampaikan aspirasi atas nama rakyat,” ujarnya.
Dalam orasinya, mahasiswa menyoroti sejumlah persoalan, termasuk evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut Kurnia, pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program tersebut. ’’Pergantian pejabat tidak akan berdampak jika sistemnya tidak dievaluasi secara total,” katanya.
Sore harinya, 15 perwakilan mahasiswa dari UBK dan Universitas MH Thamrin diterima Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana Wakil Presiden. Pertemuan tersebut masih berlangsung hingga pukul 18.00 WIB.(mia/ian/ana/san/aff/oni/das)
Laporan JPG, Jakarta
Editor : Arif Oktafian