JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini diperkirakan masih mendapat dukungan sentimen global. Pelemahan dolar AS (USD), ekspektasi penundaan kenaikan suku bunga Amerika Serikat, hingga stabilnya harga minyak diproyeksi mampu menjaga minat investor terhadap pasar saham.
Di sisi lain, sejumlah indikator ekonomi domestik masih menjadi perhatian. Praktisi pasar modal Hans Kwee memproyeksikan, IHSG bergerak dengan level support di kisaran 5.607–5.805, sedangkan resistance berada pada 6.056–6.226.
Menurut Hans, ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan. Produk domestik bruto (PDB) tumbuh 2,1 persen, meski inflasi yang tercermin dari indeks personal consumption expenditures (PCE) masih relatif tinggi. ”Kondisi tersebut membuat peluang The Fed untuk kembali menaikkan atau mempertahankan suku bunga pada pertemuan September relatif berimbang,” ujar Hans, Ahad (5/7).
Baca Juga: Tarif Listrik Tak Naik, PLN Jamin Pasokan Listrik Tetap Andal
Di Eropa, tekanan inflasi mulai mereda sehingga risiko inflasi dan perlambatan ekonomi dinilai semakin seimbang. Sementara itu, survei PMI S&P Global menunjukkan kinerja manufaktur dunia bergerak tidak seragam. Amerika Utara dan Asia Timur masih menguat, sedangkan kawasan ASEAN melambat sejak meningkatnya konflik di Timur Tengah.
Hans menambahkan, harga minyak dunia juga relatif stabil. ”Pemulihan produksi minyak Timur Tengah berlangsung lebih cepat dari perkiraan, sementara permintaan impor minyak Cina masih lemah sehingga menahan kenaikan harga,” imbuhnya.
Meski sentimen eksternal cukup positif, kondisi ekonomi domestik masih dibayangi sejumlah tantangan. Pertumbuhan penerimaan pajak mulai melambat, padahal menjadi salah satu sumber utama pendapatan negara. Selain itu, PMI Manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni dari 50 pada Mei, yang menandakan aktivitas manufaktur kembali terkontraksi.
Dia juga menyoroti penurunan cadangan devisa, meningkatnya inflasi pada Juni, serta kembali terjadinya defisit neraca perdagangan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).(mim/dio/jpg)
Editor : Arif Oktafian