JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Ada yang tidak biasa dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, pada Senin (20/7/2026) lalu. Dalam rapat itu Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka tidak duduk berdampingan dengan Presiden Prabowo Subianto.
Biasanya dalam rapat strategis bersama jajaran menteri, wakil menteri dan kepala badan Kabinet Merah Putih, Presiden Prabowo dan Wapres Gibran duduk berdampingan. Namun kali ini, Gibran duduk jauh dari kursi Prabowo. Posisi duduk Gibran berada di barisan menteri koordinator, bersebelahan dengan Menteri Koordinator Bidang Prekonomian Airlangga Hartarto. Tentu saja ini menjadi sorotan publik, apakah ada makna politik di balik itu semua..
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi memberi penjelasan terkait hal ini. Dia menegaskan, pengaturan posisi duduk tersebut tidak memiliki makna politik. Menurut dia, tata letak tersebut sepenuhnya didasarkan pada kebutuhan teknis selama jalannya sidang.
"Yang perlu juga kami informasikan bahwa sidang kabinet paripurna sebelum yang kemarin itu dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2026. Jadi kurang lebih empat bulan yang lalu. Jadi ini adalah sidang kabinet paripurna rutin yang diselenggarakan oleh Bapak Presiden," kata Prasetyo Hadi di Istana Negara, Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Dalam sidang tersebut, kata Pras, Presiden Prabowo memaparkan evaluasi berbagai program prioritas sekaligus menyampaikan capaian pemerintahan selama sekitar 20 hingga 21 bulan.
Banyaknya materi yang dipresentasikan membuat Presiden menggunakan teleprompter sebagai alat bantu agar penyampaian data dan informasi lebih terstruktur.
"Nah, di situ karena beliau ingin menjelaskan banyak sekali program, maka kemarin kalau saudara-saudara perhatikan, karena banyaknya program itu juga harus diikuti atau didukung dengan data-data, maka kemarin beliau menggunakan alat bantu namanya teleprompter," ujarnya.
Baca Juga: Buka Rakor Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kadiskes Rohul Ajak Lintas Sektor Kolaborasi
Prasetyo menuturkan, penggunaan teleprompter menjadi alasan utama penyesuaian tata letak di ruang sidang. Karena kebutuhan teknis tersebut, Presiden ditempatkan di posisi tengah, sementara Wakil Presiden tidak duduk berdampingan sebagaimana biasanya.
"Itulah yang kemudian menjawab pertanyaan yang secara layout kalau saudara-saudara kemarin perhatikan adalah Bapak Presiden berada di tengah-tengah. Dan kalau yang dipertanyakan adalah posisi dari Bapak Wakil Presiden, kalau menurut kami ini hanya masalah kebutuhan teknis semata. Tidak ada hal-hal lain yang mungkin perlu dikhawatirkan," tegasnya.
Ia mengajak masyarakat untuk lebih menyoroti substansi Sidang Kabinet Paripurna, khususnya soal evaluasi terhadap kinerja Kabinet Merah Putih.
Serta arahan Presiden mengenai percepatan pelaksanaan program-program prioritas nasional pada paruh kedua tahun ini.
"Sudah banyak sekali prestasi-prestasi yang berhasil dicapai, dan tentunya diakhiri dengan bagaimana beliau menghendaki untuk kita, di sisa semester yang kedua ini melakukan percepatan-percepatan terhadap program-program prioritas yang masih harus kita kebut pelaksanaannya," jelasnya.
Baca Juga: Piala Soeratin U-13 Mulai Babak 8 Besar, Berikut Tim yang Bersaing
Prasetyo juga membantah anggapan yang berkembang di publik bahwa perubahan posisi duduk tersebut mencerminkan hubungan yang tidak harmonis atau ketidaksejajaran antara Presiden dan Wakil Presiden.
Menurut dia, seluruh jajaran pemerintahan tetap solid dalam menjalankan agenda kerja nasional hingga tuntas.
"Kami pada posisi kita sekarang sedang kompak-kompaknya, sedang semua berusaha keras mencapai apa yang menjadi garis dari Bapak Presiden. Menjadi garis dari program kerja dan prioritas nasional semata-mata semua untuk kepentingan masyarakat, kepentingan bangsa dan negara," pungkasnya.***
Editor : Edwar YamanSumber : jawapos.com