Gas Murah Hidupkan Manufaktur

Tim Redaksi • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 11:43 WIB
FEBRI HENDRI. (JPG)
FEBRI HENDRI. (JPG)

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Setelah empat bulan tertekan, sektor manufaktur mulai menunjukkan napas baru. Aktivitas produksi kembali meningkat, pabrik-pabrik mulai membuka lowongan kerja, dan optimisme pelaku industri menguat. Pemerintah menilai kebijakan harga gas murah bagi industri serta relaksasi bea masuk bahan baku menjadi penopang utama kebangkitan tersebut.

Sinyal pemulihan itu tercermin dari Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang kembali masuk zona ekspansi. Berdasarkan survei S&P Global, PMI naik menjadi 50,2 pada Juli 2026 dari 46,9 pada Juni. Posisi di atas level 50 menandakan aktivitas manufaktur kembali bertumbuh.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, kenaikan PMI menjadi bukti bahwa industri pengolahan mulai pulih meski tekanan ekonomi global belum sepenuhnya mereda. ”Kenaikan 3,3 poin ini mengonfirmasi roda produksi industri pengolahan kembali bergerak cepat. Peningkatan output dan bertambah­nya lapangan kerja menunjukkan kepercayaan konsumen serta permin­taan domestik terus membaik,” ujarnya, Rabu (5/8).

Baca Juga: KPK Ungkap Dugaan Pemotongan TPP ASN

Survei S&P Global mencatat produksi manufaktur kembali tumbuh untuk pertama kalinya sejak Februari 2026. Permintaan baru mulai stabil seiring pulihnya kepercayaan pelanggan dan bergulirnya sejumlah proyek baru. Kondisi itu mendorong perusahaan kembali merekrut tenaga kerja setelah empat bulan berturut-turut melakukan penyesuaian jumlah karyawan.

Menurut Febri, salah satu faktor yang menopang pemulihan adalah keberlanjutan program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang menjaga biaya energi tetap kompetitif. ”Kepastian pasokan dan harga gas yang terjangkau berhasil menjaga daya saing industri. Mulai pupuk, petrokimia, keramik, kaca, baja, sarung tangan karet hingga oleokimia,” katanya.

Selain itu, relaksasi bea masuk impor bahan baku plastik juga mulai memberikan dampak positif. Kebijakan tersebut membantu menekan biaya produksi bagi industri kemasan, makanan dan minuman, otomotif, hingga elektronika. ”Kombinasi HGBT dan relaksasi bea masuk bahan baku plastik terbukti meredam tekanan biaya input sekaligus meningkatkan optimisme pelaku industri,” tuturnya.

Baca Juga: Halmahera Barat Diguncang Gempa M5,6, BMKG Imbau Warga Tidak Panik, Tidak Berpotensi Tsunami

Optimisme dunia usaha pun meningkat. Survei S&P Global menunjukkan keyakinan pelaku industri terhadap prospek usaha dalam 12 bulan ke depan mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Tekanan kenaikan harga bahan baku juga mulai melandai dan menjadi yang terendah dalam empat bulan terakhir. Meskipun demikian, Kemenperin mengingatkan pemulihan belum sepenuhnya aman. ”Ketidakpastian ekonomi global, gangguan rantai pasok, serta fluktuasi nilai tukar masih menjadi tantangan yang harus diantisipasi pada paruh kedua tahun ini,” ucapnya.

Di kawasan Asia, PMI manufaktur Indonesia kembali masuk kelompok negara yang berekspansi. Nilai 50,2 sejajar dengan Malaysia dan berada di atas Myanmar (49,3), namun masih di bawah Filipina (51,8), Tiongkok (50,9), Australia (52,0), dan Vietnam (52,9).(bry/dio/jpg)

 

Editor : Arif Oktafian
PMI Manufaktur Harga Gas Murah manufaktur indonesia