TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) -- Sekitar 1.700 hektare (ha) kebun masyarakat di Desa Kuala Selat, Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), terdampak abrasi sejak 2021. Kondisi tersebut mendorong pemerintah dan berbagai pihak memperkuat upaya pemulihan pesisir melalui rehabilitasi mangrove dalam skala besar.
Komitmen pemulihan itu mengemuka dalam Ekspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau di Kuala Selat, Sabtu (15/8/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, Wamen PPA/TPPO Veronica Tan, Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, Bupati Inhil Herman, Founder Tumbuh Institute Rocky Gerung, Sosiolog Robertus Robet serta sejumlah pejabat dan tokoh lainnya.
Selain penanaman mangrove, kegiatan diisi penyerahan bantuan sembako, bantuan ketinting dan matching grants kepada 13 kelompok masyarakat dampingan PPIU M4CR Riau.
Baca Juga: Usai Mengikuti Pusdiklat, Bupati Inhu Kukuhkan 27 Anggota Paskibraka
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengatakan, kawasan Kuala Selat membutuhkan pemulihan lingkungan dalam skala besar. Ia berkomitmen mendorong penanaman mangrove seluas 500 hektare di kawasan terdampak abrasi, dengan harapan dapat diperluas hingga 1.000 hektare.
"Saya berkomitmen untuk ikut memastikan penanaman mangrove 500 hektare di tempat yang terabrasi. Mudah-mudahan bisa terpenuhi 1.000 hektare untuk ditanam di wilayah ini sebagai bagian dari pemulihan lingkungan sekaligus pemulihan sosial ekonomi," kata Jumhur.
Menurutnya, rehabilitasi tersebut tidak berhenti pada penanaman. Pembibitan hingga pemeliharaan mangrove juga akan menjadi bagian dari program selama tiga tahun. Masyarakat nantinya dapat dilibatkan dalam pemeliharaan sekaligus memperoleh manfaat ekonomi.
Baca Juga: Kabupaten Simalungun Diguncang Gempa Bumi M 6.4, Tidak Berpotensi Tsunami
"Jadi bukan sekadar menanam lalu ditinggalkan. Mulai dari pembibitan, penanaman sampai pemeliharaan itu teranggarkan, sehingga masyarakat bisa mendapatkan honor untuk pemeliharaan selama tiga tahun," ujarnya.
Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan mengatakan, Ekspedisi Merah Putih Presisi merupakan upaya menghadirkan negara hingga wilayah pesisir sekaligus menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
"Kita ingin masyarakat yang berada jauh di pesisir juga merasakan kehadiran negara. Kita datang membawa kepedulian sekaligus bergerak bersama mencari solusi," kata Herry.
Baca Juga: 75 Persen Rudal dan Drone Iran Masih Utuh dan Siap untuk Perang Panjang, Trump: Cuma 22 Persen
Ia menegaskan, abrasi tidak semata persoalan lingkungan. Kerusakan pesisir juga mengancam ruang hidup dan sumber penghidupan masyarakat.
"Ketika pesisir tergerus, yang kita pertaruhkan bukan hanya tanah. Ada kebun masyarakat, sumber penghidupan dan masa depan generasi berikutnya. Menjaga mangrove berarti menjaga masyarakat yang hidup di belakangnya," ujarnya.
Kondisi geografis Kuala Selat menjadi salah satu tantangan dalam penanganan abrasi. Dari Mako Polsek Kateman menuju kawasan terdampak dibutuhkan perjalanan sekitar 25 kilometer atau 45 hingga 60 menit menggunakan speedboat.
Baca Juga: Tim Basket Putri SMAN 1 Kampar Pertahankan Gelar Juara Riau Pos-HSBL 2026 Seri Bangkinang
Sejumlah jalur perairan juga sangat dipengaruhi kondisi pasang surut. Sementara kawasan pantai memiliki lumpur cukup dalam yang dapat mencapai lutut hingga paha.
Ekspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau merupakan rangkaian menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Ekspedisi tersebut menyasar wilayah pesisir, terluar dan kawasan yang memiliki keterbatasan akses.
Di Kuala Selat, upaya tersebut diarahkan tidak hanya pada bantuan masyarakat, tetapi juga pemulihan kawasan yang terdampak abrasi. Rehabilitasi mangrove diharapkan menjadi benteng alami sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui keterlibatan dalam pembibitan dan pemeliharaan.(*2)
Editor : Rinaldi