JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Jumlah pengungsi akibat gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah. Hingga Ahad (16/8), jumlah pengungsi tercatat mencapai 9.290 jiwa. Hal itu disampaikan Plt Kepala
Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton SP Panjaitan di Jakarta.
Konsentrasi pengungsi terbesar di NTT berada di Kabupaten Sikka, yakni sebanyak 3.356 jiwa dan Kabupaten Manggarai sebanyak 2.078 jiwa. Pengungsi di Kabupaten Sikka tersebar di GOR Samador sebanyak 1.356 jiwa, dan sebanyak 2.000 jiwa mengungsi di 10 titik lokasi.
Di luar kedua kabupaten itu, ribuan warga lainnya juga dilaporkan mengungsi di berbagai titik yang dinyatakan aman. Titik pengungsian tercatat ada di Kabupaten Nagekeo, Kota Bima (NTB), hingga Kepulauan Selayar (Sulawesi Selatan).
Secara keseluruhan, ada 9.290 pengungsi yang terdampak gempa dan kini bertahan di pengungsian. “Pemenuhan hak-hak dasar dan kebutuhan logistik di area pengungsian kini menjadi fokus utama penanganan masa darurat,” ujar Berton sebagaimana dilansir JPG.
Di kawasan Kabupaten Manggarai, lanjutnya, para pengungsi membutuhkan bantuan mendesak berupa puluhan tenda darurat. Juga 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 selimut, 1.000 velbed, 1.000 lembar tikar, pasokan air bersih beserta tandon, hingga genset untuk penerangan.
Selain pengungsi, BNPB juga mencatat hingga semalam ada sebanyak 47 orang meninggal dunia dan 101 warga luka-luka dalam perawatan medis. Sebaran korban meninggal dunia terbanyak berada di Kabupaten Manggarai sebanyak 23 jiwa dan Manggarai Timur 17 jiwa. Kemudian di Kabupaten Sikka sebanyak empat jiwa, Manggarai Barat satu jiwa, Ende satu jiwa, dan Nagekeo satu jiwa.
Guncangan gempa yang berpusat di laut itu juga merusak pemukiman warga, dengan rincian 914 rumah rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan. Kerusakan parah juga menimpa puluhan fasilitas publik mencakup 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, serta 38 kantor pemerintahan di wilayah NTT.
Desak Enam Daerah Tetapkan Status Darurat
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendesak enam pemerintah daerah (pemda) di Nusa Tenggara Timur (NTT) segera menetapkan status darurat bencana gempa. Langkah itu dinilai penting untuk mempercepat penyaluran bantuan dan penanganan dampak gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores.
Enam daerah yang diminta menetapkan status darurat adalah Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Ende, Nagekeo, dan Sikka. Pemerintah Provinsi NTT juga diminta menetapkan status serupa. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto meminta status darurat ditetapkan. Instruksi tersebut disampaikan dalam rapat di Kantor Bupati Manggarai Barat, Ahad (16/8). “Mohon hari ini (kemarin, red) segera dikeluarkan status daruratnya,” tegas Suharyanto.
Menurut dia, status kedaruratan bukan sekadar urusan administrasi. Payung hukum tersebut diperlukan agar dukungan pemerintah pusat dapat disalurkan secara optimal. “Anggaran BNPB dan bantuan teknis Kementerian PU tidak bisa mengalir maksimal ke daerah bencana tanpa payung hukum tersebut,” paparnya.
Suharyanto juga meminta pemda segera membangun posko satgas dengan komando lapangan dari unsur TNI dan Polri. Seluruh pergerakan personel, logistik, dan relawan harus berada dalam satu kendali. “Ini adalah peta jalan penanganan darurat gempa Flores,” jelasnya.
BNPB sendiri membuka Posko Nasional Pendampingan di Labuan Bajo untuk menangani wilayah barat Flores. Posko taktis kedua didirikan di Maumere untuk melayani Sikka, Nagekeo, dan Ngada. Bantuan dari luar daerah juga dipusatkan melalui Posko Logistik Nasional di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Bantuan dari BUMN, swasta, dan masyarakat akan dikirim langsung ke Flores.
Upaya Pemulihan Mulai Jalan
Basarnas mengambil alih kepemimpinan operasi kemanusiaan. TNI, Polri, dan relawan dikerahkan dalam satu koordinasi. Pencarian korban di reruntuhan terus dilakukan hingga lokasi dinyatakan aman.
Pemulihan kebutuhan dasar juga dipercepat. Jaringan listrik, air bersih, bahan bakar minyak (BBM), dan telekomunikasi ditargetkan dapat berfungsi secara terbatas dalam tujuh hari. Pendataan rumah yang rusak dilakukan sejak masa tanggap darurat. Langkah tersebut diperlukan agar pembangunan hunian sementara (huntara) dapat segera dimulai.
Untuk menjangkau desa yang terisolasi akibat jalan terputus dan longsor, TNI mengerahkan empat helikopter dan kapal laut. Basarnas menerjunkan pesawat dan kapal. BNPB juga mengerahkan dua pesawat serta satu helikopter untuk distribusi logistik. BNPB membuka Media Center untuk menangkal informasi palsu. Pembaruan data akan disampaikan setiap hari pukul 17.00 WITA.
Delapan RSUD Terdampak Gempa
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga mempercepat penanganan korban. Seluruh RSUD di delapan kabupaten/kota terdampak ditargetkan dapat memberikan layanan medis dasar maksimal dalam sepekan. Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Agus Jamaludin mengatakan, layanan difokuskan pada operasi trauma, keselamatan ibu dan anak, serta pasien hemodialisis.
Kondisi paling kritis berada di Nagekeo. RSUD di wilayah tersebut dilaporkan rusak berat sehingga tidak dapat beroperasi normal. Kemenkes akan mengirim satu unit rumah sakit mobil pada Senin (17/8). Fasilitas tersebut dilengkapi ruang operasi.
Pasien dengan luka berat dari Nagekeo akan dirujuk ke RSUD Borong dengan waktu tempuh sekitar dua jam. Alternatif lainnya adalah RSUD Komodo dengan waktu tempuh sekitar empat jam. Kemenkes menargetkan seluruh puskesmas yang rusak dapat kembali beroperasi secara terbatas dalam dua pekan. Tenaga medis juga diminta memprioritaskan ibu hamil, persalinan, dan imunisasi.
Kemenkes bersama dinas kesehatan daerah, direktur RSUD, dan kepala puskesmas menyiapkan tim Health Emergency Operation Center (HEOC). Tim tersebut akan memetakan kerusakan fasilitas kesehatan, ketersediaan alat kesehatan, serta stok obat. Data itu menjadi dasar pengerahan relawan medis. Evaluasi operasi kesehatan dilakukan setiap malam melalui rapat maksimal 90 menit.
Kemensos Kirim 48 Ton Beras
Kementerian Sosial (Kemensos) mengirim 48 ton beras untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat terdampak gempa. Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono juga berangkat ke NTT untuk memperkuat penanganan sosial. Selain beras, Kemensos telah menyalurkan bantuan logistik dengan nilai awal Rp4,52 miliar.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan, Agus Jabo akan memastikan bantuan menjangkau warga yang membutuhkan sekaligus memetakan kebutuhan yang masih belum terpenuhi. “Sekarang yang paling utama adalah menyelamatkan dan melindungi warga,” kata pria yang akrab disapa Gus Ipul tersebut.
PLN Pulihkan Jaringan Listrik
PT PLN (Persero) mengerahkan personel dan peralatan untuk mempercepat pemulihan jaringan listrik di Flores setelah gempa M7,7 pada Sabtu (15/8). Dalam waktu kurang dari 12 jam, seluruh 11 gardu induk yang terdampak telah kembali beroperasi. Namun, sejumlah gangguan masih terjadi pada jaringan distribusi hingga ke pelanggan.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, pemulihan sistem utama menjadi prioritas. Petugas tetap memperhitungkan potensi gempa susulan dan kondisi akses menuju lokasi kerusakan. “Alhamdulillah, dari sisi pembangkitan daya mampu pasok sudah mencapai 111 MW,” ujar Darmawan, Ahad (16/8).
Daya tersebut berada di atas beban listrik Flores yang saat ini sekitar 95 MW dan kondisi normal sekitar 105 MW. Dengan seluruh gardu induk kembali beroperasi, persoalan utama kini berada pada jaringan distribusi.
PLN mencatat satu penyulang masih mengalami gangguan akibat gempa dan longsor. Sejumlah tiang listrik roboh atau patah sehingga harus diperbaiki dan diganti. “Seluruh kekuatan dan personel kami kerahkan secara all-out untuk memperbaiki dan mengganti tiang-tiang yang rusak,” kata Darmawan.
PLN menargetkan penyulang tersebut kembali beroperasi pada Minggu, sepanjang kondisi di lapangan memungkinkan petugas bekerja dengan aman.(idr/wan/bry/oni/jpg)
Editor : Arif Oktafian