Ulama Gelar Halaqah dan Soroti Kepemimpinan PBNU

Tim Redaksi • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 10:10 WIB
Ratusan ulama, tokoh NU, pengasuh pesantren, pengurus badan otonom, serta warga Nahdliyin mengikuti Halaqah Refleksi Kepemimpinan PBNU yang digelar FUN di Aula Universitas Darul Ulum, Rabu (26/8/2026).  (JPG)
Ratusan ulama, tokoh NU, pengasuh pesantren, pengurus badan otonom, serta warga Nahdliyin mengikuti Halaqah Refleksi Kepemimpinan PBNU yang digelar FUN di Aula Universitas Darul Ulum, Rabu (26/8/2026). (JPG)

 

JOMBANG (RIAUPOS.CO) - Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), ratusan ulama, tokoh NU, pengasuh pesantren, pengurus badan otonom, serta warga Nahdliyin berkumpul di Jombang, Jawa Timur. 

Mereka mengikuti Hala­qah Refleksi Kepemimpinan PBNU yang digelar Forum Ulama Nahdliyin (FUN) di Aula Universitas Darul Ulum, Rabu (26/8).

Ketua Forum Ulama Nahdliyin KH Mujib Qulyubi mengatakan, halaqah tersebut menjadi bagian dari upaya melakukan refleksi terhadap kondisi organisasi. Menurutnya, langkah itu merupakan bentuk ikhtiar sebagaimana pesan Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi kemungkaran.

“Apabila melihat kemungkaran maka ubahlah dengan kekuasaan, jika tidak bisa, maka dengan lisan. Jika tidak bisa, maka selemah-lemahnya iman adalah dengan hati,” kata KH Mujib dalam keterangannya, Rabu (26/8). 

Baca Juga: Polisi Minta Massa Sampaikan Aspirasi dengan Damai

Ia juga menyinggung keputusan Rais Syuriyah PWNU Provinsi Gorontalo, dr KH Burhanudin Umar, yang memilih mengundurkan diri. Menurut KH Mujib, keputusan tersebut menjadi salah satu bentuk keprihatinan terhadap dinamika yang terjadi di internal NU. 

“Rois Syuriyah PWNU Provinsi Gorontalo dr KH Burhanudin Umar, karena tidak kuat melihat pertengkaran elit-elit kita, maka mengundurkan diri sebagai Rois Syuriyah. Mudah-mudahan sekecil apapun ikhtiar kita, semoga upaya NU Kultural kita ini dicatat sebagai bagian dari perjuangan tersebut,” ujar Kiai Mujib.

Tokoh NU Andi Najmi Fuadi menjelaskan, tema yang diangkat dalam halaqah adalah refleksi terhadap kepemimpinan PBNU. Kegiatan tersebut digelar sehari sebelum pembukaan Muktamar ke-35 NU, sehingga diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi para muktamirin.

Baca Juga: Pakar: Faktor Manusia Dominan, Pencegahan Karhutla Harus Menyentuh Perubahan Perilaku

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Wali Salatiga KH Anis Maftuhin menyampaikan kritik terhadap kepemimpinan PBNU saat ini. Ia bahkan meminta peserta muktamar tidak kembali memilih kepemimpinan yang sedang berjalan. “Pemimpin sekarang la qowiyyan walaa amiinan. Jangan dipilih kembali,” ujar Kiai Anis.

Ia mengatakan, kondisi internal NU saat ini telah menimbulkan keprihatinan di kalangan ulama. Karena itu, menurutnya, kehadiran para peserta dalam muktamar menjadi penting agar organisasi tetap mendapatkan arah kepemimpinan yang membawa kemaslahatan.

“Ada tiga L dari PBNU hari ini: Luntur keulamaannya, Luntur tradisi tabayun, Luntur ri’ayatul ummah. PBNU hari ini lemah manajerialnya dan tidak membuat maslahat. Warga nahdliyin, ibu-ibu muslimat itu tetap jalan tahlilan, istighotsah, dan kegiatan-kegiatan NU. Tapi muktamar hari ini begitu mencekam, tegang, ada pengondisian,” ujar Kiai Anis Maftuhin.

Baca Juga: Dua Hasil Audit Buktikan Nany Widjaja Tak Bisa Pertanggungjawabkan Uang PT JFC Rp 21,4 Miliar

Kiai Anis juga menyoroti persoalan kaderisasi di lingkungan NU. Menurut dia, kaderisasi semestinya diarahkan untuk memperkuat organisasi dan pelayanan kepada masyarakat, bukan semata-mata menjadi jalan menuju kekuasaan atau jabatan.(jpg)

Editor : Arif Oktafian
Muktamar ke-35 NU\ muktamar nu nu nahdlatul ulama