RIAUPOS.CO - NASA pantau kebakaran hutan dan lahan di Indonesia khususnya lahan gambut. NASA mencatat kebakaran gambut diperkirakan menghasilkan tiga kali lebih banyak partikulat halus, lima kali sulfur dioksida, tiga kali karbon organik, serta dua kali metana dan karbon monoksida dibandingkan kebakaran hutan tropis lainnya.
Citra satelit NASA pada 1 September 2026 memperlihatkan asap tebal menutupi sebagian wilayah Indonesia dan Malaysia, dengan titik panas tersebar di Kalimantan. Api tidak hanya menyala di permukaan, tetapi juga membara di bawah tanah.
Kondisi ini membuat kebakaran gambut lebih sulit ditangani daripada kebakaran vegetasi biasa.
Baca Juga: APBD P Ditolak, Bupati Inhu Gelar Rapat Bersama TAPD dan Bahas Langkah Strategis serta Usulan Pokir
Dilansir dari NASA Science, Rabu (30/9/2026), aktivitas kebakaran di Indonesia terpantau melalui instrumen MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) pada satelit Aqua NASA.
Sensor ini mendeteksi anomali panas yang ditandai titik merah pada citra satelit sebagai indikasi kebakaran, meski satu kejadian dapat menghasilkan beberapa titik deteksi.
Indonesia menjadi salah satu wilayah yang rentan karena memiliki sekitar 36 persen lahan gambut tropis dunia. Saat gambut mengering akibat kekurangan hujan, api lebih mudah menyebar dan merambat ke bawah permukaan.
Baca Juga: Rara Raih Penghargaan Khusus di Voice of Turan 2026, Harumkan Nama Indonesia di Kazakhstan
Kondisi kering itu sudah terlihat sejak awal Agustus. Sekitar 90 persen wilayah Indonesia menerima sedikit atau bahkan tidak mendapat hujan, menurut data badan meteorologi Indonesia yang dikutip NASA.
Situasi ini diperkuat oleh El Niño yang menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), badan kelautan dan atmosfer Amerika Serikat, mulai muncul dan menguat pada Agustus.
Fase positif Indian Ocean Dipole (IOD), yaitu pola perubahan suhu permukaan laut di Samudra Hindia yang dapat memengaruhi curah hujan Indonesia, turut membuat kondisi lebih kering.
Baca Juga: Penertiban Serentak, Polres Kuansing Tindak 16 Rakit PETI di Empat Lokasi, Seluruhnya Dimusnahkan
Robert Field, peneliti Columbia University, mengatakan, "Indonesia baru sekitar tiga minggu memasuki musim kebakaran, tetapi aktivitas kebakaran meningkat tajam, mirip dengan 2015."
Menurutnya, "El Niño yang kuat membuat musim kemarau semakin kering di wilayah rawan kebakaran dan memperparah pembakaran, persis seperti yang kami perkirakan."
Risiko itu mengingatkan pada 2015, ketika kebakaran berlangsung lebih dari tiga bulan dan melepaskan 1,75 miliar ton setara gas rumah kaca, lebih banyak daripada emisi Jepang dalam setahun.
Baca Juga: Kolaborasi BRI dan Arkiv Vilmansa, BRIZZI ARKIV Tawarkan 5 Desain Eksklusif
Sampai dengan 2 September 2026, kebakaran tahun ini diperkirakan menghasilkan emisi sekitar 10 persen dari angka 2015.
Field memperingatkan, "Kebakaran permukaan tidak terlalu mengkhawatirkan, tetapi ketika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti." Menurutnya, api dapat terus membakar hingga hujan turun pada Oktober atau November.
Untuk mengikuti perkembangan kebakaran, pemerintah Indonesia menggunakan pemantauan hotspot berbasis satelit, termasuk data dari NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20.
Baca Juga: Menurut Studi, Rasio Utang Pengguna Kredivo Hanya 10-19 Persen
Pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan RI hingga Selasa (29/9/2026) pukul 21.10 WIB mencatat 893 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional, meningkat dari 365 titik sehari sebelumnya.
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan kenaikan paling mencolok, dari 37 menjadi 132 titik. Kalimantan Barat juga meningkat dari nihil menjadi 30 titik, sedangkan Kalimantan Selatan naik dari empat menjadi 28 titik.
Kementerian Kehutanan menegaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot.
Baca Juga: Roni Amriel Sebut APBD-P Pekanbaru 2026 Sudah Akomodir Program Pro Rakyat
Karena itu, jumlah hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran ataupun luas area yang terbakar dan tetap harus diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan.
Keterbatasan deteksi satelit membuat angka titik panas perlu dibaca dengan hati-hati. Mark Cochrane, ekolog University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan jumlah deteksi satelit tidak selalu mencerminkan tingkat kebakaran.
"Peristiwa asap terburuk, secara paradoks, bisa menjadi yang paling sulit diamati dari luar angkasa dengan MODIS dan VIIRS," ujarnya. Ketika kebakaran semakin intens, jumlah api yang terdeteksi bahkan dapat menurun.
Baca Juga: Korban MiChat di Pekanbaru, Booking Online, Korban Diperas dan HP Dirampas
Sulitnya mendeteksi api dari udara juga berkaitan dengan perubahan tata air lahan gambut. Pembangunan kanal dan pengeringan rawa pada 1990-an untuk proyek persawahan menurunkan muka air tanah sehingga gambut menjadi lebih kering dan mudah terbakar.
Kawasan yang sama juga banyak digunakan untuk perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman. Setelah kebakaran besar pada 2015, pemerintah dan berbagai organisasi berupaya membendung sebagian kanal, memulihkan lahan basah, memperkuat pemadaman, serta mengurangi kebakaran yang dipicu aktivitas manusia.
Dampak asap juga mulai dirasakan masyarakat. Kementerian Kehutanan RI melaporkan sebagian wilayah Kalimantan dan Sumatera menunjukkan kualitas udara dari kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat berdasarkan pemantauan PM2,5.
Baca Juga: QLola by BRI Bantu Perusahaan Kelola Payroll dalam Satu Sistem Terintegrasi
Masyarakat di wilayah terdampak diminta mengikuti informasi kualitas udara, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi memburuk, serta menggunakan masker jika harus beraktivitas di luar.
Editor : M. ErizalSumber : jawapos.com