PARIS (RIAUPOS.CO) - Gregoria Mariska Tunjung benar-benar impresif saat menaklukkan Ratchanok Intanon di babak perempat final Olimpiade Paris 2024 di Adidas Arena kemarin (3/8). Kombinasi pukulan ajaib dan mental yang kuat mengantarkannya menang dua game langsung (25-23, 21-9).
Game pertama menjadi kunci bagi Jorji, sapaan Gregoria Mariska Tunjung. Di tengah pertarungan ketat, dia bisa terus menempel poin Intanon. Termasuk tiga kali memaksakan deuce saat angka 20-21, 21-22, 22-23. Hasil itu membuat Jorji bisa membalas kekalahan di Olimpiade Tokyo 2020. Saat itu Jorji harus mengakui keunggulan Intanon 12-21, 19-21.
’’Saya coba berpikir bahwa pertandingan ini bila saya menang itu buat saya sendiri. Saya tidak mau berpikir terlalu banyak yang membuat saya lebih tertekan,’’ katanya dalam keterangan resmi.
Bermain lepas tanpa tekanan juga jadi salah satu kredit keberhasilannya melenggang ke semifinal. ’’Aku berpikir bagaimana aku mau all-out, mau kasih yang terbaik dan tadi aku praktekin. Aku happy juga bisa beneran melaksanakan itu,’’ bebernya.
Pemain binaan PB Mutiara Cardinal Bandung itu juga tidak memusingkan bagaimana caranya bermain ataupun hasil yang akan didapat. ’’Tapi bagaimana mencoba untuk fokus per poin. Jadi, walaupun dia dapat poin, aku gak mau kalah, aku dapat poin juga,’’ ujarnya.
Hal itulah yang membuatnya merasa bisa unggul pada set pertama. Sedangkan, pada set kedua, Jorji menyebut seperti battle mental antara dirinya dan Intanon. ’’Jadi mungkin itu yang buat game kedua dia banyak melakukan kesalahan sendiri. Jadi, kita tight banget di game awal,’’ jelasnya. Lawan juga sudah terlihat turun saat berhadapan pada game kedua.
Kredit tetap diberikan Jorji atas Intanon. Apalagi, pemain Thailand itu merupakan salah seorang pemain yang diidolakannya. ’’Sangat senang bisa bertemu dia di lapangan di ajang sebesar Olimpiade,’’ ucapnya.
Jefri Franalis selaku pelatih yang melatih Jorji di klub menuturkan, dari hasil analisisnya, Intanon yang sudah berusia 29 tahun sadar kondisi fisiknya tidak sebaik dulu. Karena itu, dia berusaha ambil set pertama untuk menjaga mentalnya. ’’Alhamdulillah Grego bisa menunjukkan bahwa dia ngotot gak mau kalah,’’ ujarnya kepada JPG.
Kemenangan tersebut mengantarkan tunggal putri Indonesia kembali ke semifinal setelah 16 tahun. Terakhir, pemain Indonesia yang bisa tembus minimal semifinal adalah Maria Kristin Yulianti pada edisi Beijing 2008. Maria akhirnya berhasil meraih medali perunggu usai menundukkan wakil Tiongkok Lu Lan (11-21, 21-13, 21-15).
Sebelumnya, Susi Susanti meraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 dan perunggu Atlanta 1996. Sedangkan Mia Audina merebut perak Atlanta 1996. ’’Ini adalah pencapaian yang bagus untuk saya, tapi kembali lagi saya tidak mau terlalu berpuas diri. Pertandingan besok (hari ini, Red) akan lebih berat dan saya harus segera kembali bersiap,’’ ujarnya.
Ya, Jorji bakal menghadapi jagoan Korea Selatan An Se-young (ASY) di semifinal. Sebelumnya, ASY menundukkan wakil Jepang Akane Yamaguchi (15-21, 21-17, 21-8).
ASY menjadi salah seorang pebulu tangkis yang paling sulit bagi Jorji. Dari tujuh laga yang sudah dijalani, belum sekali pun Jorji mengalahkan ASY. Bahkan, lima laga yang dijalani selalu berakhir dengan kekalahan 0-2.
Jefri menuturkan, ada hal positif yang bisa diambil dari rekor yang tidak baik. ’’Biasanya kalau menang terus kemungkinan akan lebih tegang karena takut kalah,’’ ucapnya.
Dia menegaskan, kuncinya lagi-lagi bagaimana Jorji bisa main lepas, tanpa beban, dan jaga pikiran agar selalu positif di lapangan. ’’Semoga keajaiban bisa terjadi di laga semifinal. Ngotot dan gak mau kalah harus makin ditunjukkan supaya ASY bisa tegang seperti di game pertama lawan Intanon,’’ harapnya.
Jorji sadar betul bakal sulit melawan pemain nomor satu dunia. ’’Target aku melakukan yang terbaik, berusaha semaksimal mungkin. Aku gak mau geter, aku mau berusaha terbaik semampu aku. Saya tidak akan memikirkan hasilnya, tapi saya ingin berjuang sekuat tenaga,’’ tegasnya.(raf/c17/fal/jpg)
Editor : RP Bayu Saputra