Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Hari Terakhir, Dayung Tambah 1 Perunggu di PON XXI

Denny Andrian • Rabu, 18 September 2024 | 14:55 WIB

Pelatih dayung Riau Eka Okatatoruanus berserta atlet terjun ke Bendungan Keuliling, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh usai bertanding, Rabu (18/9/2024).
Pelatih dayung Riau Eka Okatatoruanus berserta atlet terjun ke Bendungan Keuliling, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh usai bertanding, Rabu (18/9/2024).
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) -- Pedayung Riau menambah satu perunggu di hari terakhir dayung Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut 2024 yang digelar di Bendungan Keuliling, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Rabu (18/9/2024) hari ini. Perunggu ini diraih Gathan Sholehalbi yang turun di Coastal Men's Solo (CW1X).

Gathan Sholehalb masuk finish dengan catatan waktu 2 menit 03,8 detik, mengalahkan atlet asal Maluku Rusdi Ellyyang mencatat waktu 2 menit 23,94 detik. "Medali penutup dayung kami raih hari ini berupa satu perunggu dari Gathan Sholehalbi," ujar Sekretaris Umum Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Riau, Khairul Rizal kepada Riaupos.co, Rabu (18/9/2024).

Sebelumnya, tiga perak dipersembahkan Nopriadi di nomor man kayak 1 dan nomor man canoe 1 (52-1-1) serta Parela Rizky di nomor 1.000 meter kayak 1. Sedangkan 3 perunggu dipersembahkan Gathan Solehalbi dan Dzulyandri Aliyyu Shota di light weight double sculls (LM2X) dan Dzulyandri Aliyyu Shota yang turun pada nomor rowing Light Weigth Single Sculls (LM1X).

Pria yang juga menjabat Kepala Bidang (Kabid) Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi Riau ini mengatakan, akan melakukan evaluasi agar prestasi dayung Riau ke depannya lebih baik lagi.

"Kekurangan yang perlu di tingkatkan dari sisi atlet adalah daya juang dan mental juara. Hal ini dapat dilihat dari catatan waktu yang hanya kalah beberaoa detik dari peraih emas. Sementara dari sisi pelatih, perlu ditingkatkan pengetahuan untuk manajemen pelatihan dan juga pengetahuan teknis dari sisi sport science," jelasnya.

Khairul Rizal juga menyimpulkan sisi peralatan dan perlengkapan menjadi salah satu foktor. "Perahu milik pedayung Riau kebanyakan adalah sisa PON Riau 2012 sehingga secara teknologi dan bahan jauh tertinggal dari provinsi lain yang sudah upgrade peralatan dan perlengkapannya pada 2023 dan 2024. Kita hanya upgrate perahu slalom dan rowing coastal, dan alhamdulillah dapat menyumbangkan medali pada PON kali ini," jelasnya.

Selain itu, venue latihan dayung Riau di Danau Kebun Nopi Kuansing saat ini sangat memprihatinkan karena kurangnya perawatan terhadap fasilitasnya. Kondisi airnya pun sudah banyak tercemar karena aktivitas PETI di area hulu sungai. "Hal tersebut sangat mempengaruhi aktivitas latihan atlet. Perlu juga dibangun mess atlet di venue ini agar pemusatan latihan dapat lebih optimal," harapnya.

Terakhir, Khairul Rizal menyoroti kondisi anggaran yang belum cukup untuk mencover pemusatan latihan yang terpadu dan berkelanjutan. "Ini menyebabkan banyak atlet dayung Riau tidak fokus dan tidak berlanjut dengan baik. Selain itu, kompetisi yang terbatas sebagai ajang seleksi dan try out catatan waktu atlet, menjadi penyebab kurangnya daya juang dan mental juara sang atlet sendiri. Membina atlet bukan hal instan, diperlukan waktu, kosentrasi, kesabaran, kontinuitas sehingga dapat menghasilkan atlet yang punya peluang prestasi tertinggi," ujarnya.

Editor : RP Rinaldi
#atlet dayung riau #PON XXI 2024 Aceh Sumatera Utara #medali perunggu