JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Liga 2 Indonesia telah memasuki matchday ketiga di Grup A. Saat ini ada tiga tim yang belum terkalahkan. Yakni pemuncak klasemen PSPS Pekanbaru, PSKC Cimahi, dan Dejan FC. Jika PSPS dan PSKC mengantongi 4 poin dari dua laga, Dejan FC baru main sekali dengan hasil kemenangan.
Sabtu (21/9/2024) besok, PSPS Pekanbaru akan menantang tuan rumah PSKC Cimahi di Si Jalak Harupat, Bandung. Kedua tim sama-sama memburu kemenangan untuk berada di puncak klasemen. PSKC tentunya tak ingin kehilangan poin di kandang sendiri untuk menjaga kans mereka promosi ke Liga 1. Tim besutan Kas Hartadi itu telah menghadapi dua tim Sumatera, yakni PSMS Medan dan Srwijaya FC.
Hasilnya menang 1-0 saat menjamu PSMS Medan dan imbang 1-1 saat tandang ke markas Sriwijaya FC di Gelora Srwijaya Jakabaring Palembang. Ini jadi bukti bahwa tim berjuluk Laskar Sangkuriang itu tak bisa dipandang remeh.
Dalam tim ini ada pemain yang jadi pusat perhatian. Namanya King Erick Cantona. Bukan pemain asal Prancis, yang melegenda bersama Manchester United, tapi dia adalah seorang bek. Bek muda berbakat yang siap menunjukkan potensinya di sepakbola Indonesia.
King Erick Cantona kini berusia 20 tahun, secara resmi menjadi bagian dari PSKC Cimahi sejak 1 September 2024. Ia hengkang dari Dewa United U-20 secara gratis, sebuah langkah yang mengundang perhatian publik.
Berdasarkan data dari Transfermarkt, kepindahannya terbilang menarik. Apalagi dengan potensinya sebagai salah satu pemain muda berbakat di sepakbola nasional. Nama King Erick Cantona memang membawa nuansa yang unik, terutama bagi para pecinta sepakbola.
Sosok Eric Cantona, legenda asal Prancis yang dikenal karena kontribusinya untuk Manchester United, sering disebut sebagai inspirasi utama dari nama sang pemain muda ini. Tidak hanya sekadar mirip nama, tetapi sang ayah, Kas Hartadi, memang secara khusus memberikan nama anak-anaknya berdasarkan pemain-pemain legendaris sepakbola dunia.
Kas Hartadi, yang tak lain adalah ayah dari King Erick Cantona, merupakan pelatih PSKC Cimahi dan telah malang melintang di dunia kepelatihan sepakbola Indonesia. Kariernya sebagai pelatih cukup panjang, dengan berbagai pengalaman di klub-klub besar Liga Indonesia, termasuk PSIM Yogyakarta yang ia tangani pada musim sebelumnya. Keputusan untuk membawa putranya ke PSKC Cimahi di bawah kepemimpinannya menjadi salah satu sorotan utama musim ini.
King Erick Cantona bukanlah satu-satunya anak Kas Hartadi yang memiliki nama besar di dunia sepakbola. Putra keduanya diberi nama Luis Figo Madeira, merujuk pada gelandang legendaris asal Portugal, Luis Figo. Sementara putra ketiganya diberi nama Franz Beckenbauer, sesuai dengan nama bek legendaris Jerman yang dikenal sebagai "Der Kaiser." Pemberian nama ini jelas menunjukkan kecintaan Kas Hartadi terhadap sepakbola dan keinginannya agar anak-anaknya mengikuti jejak para legenda tersebut.
Meski masih sangat muda, King Erick Cantona sudah menunjukkan potensi besar sebagai seorang pesepakbola profesional. Lahir pada 23 Desember 2004, Erick Cantona tumbuh dengan semangat besar untuk mengikuti jejak para pemain legendaris yang menjadi inspirasinya.
Di usianya yang baru menginjak 20 tahun, ia sudah memiliki pengalaman bermain di beberapa klub, termasuk Kalteng Putra FC U-16 dan Dewa United U-20. Salah satu keunggulan King Erick Cantona adalah kemampuannya bermain di dua posisi berbeda.
Transfermarkt mencatat bahwa selain berperan sebagai gelandang bertahan, ia juga piawai bermain sebagai bek sayap kanan. Fleksibilitas ini menjadi aset berharga bagi PSKC Cimahi, terutama dalam menghadapi ketatnya persaingan di Liga 2 Indonesia musim ini.
Pemain dengan kemampuan multi posisi seperti Erick Cantona akan menjadi kunci dalam strategi tim, terlebih dengan pengalamannya yang terus berkembang. Tentu saja, nama besar yang disandangnya membawa beban tersendiri bagi King Erick Cantona.
Banyak warganet yang menganggap bahwa bermain dengan nama besar "Cantona" merupakan sebuah tantangan besar, bahkan seperti uji nyali. Pasalnya, nama tersebut begitu melekat pada sosok Eric Cantona, yang dikenal sebagai salah satu striker paling kontroversial dan berpengaruh dalam sejarah Manchester United.
Sosok Eric Cantona dihormati, tapi juga sering disorot karena karakternya yang keras dan sikapnya yang arogan di lapangan, yang membuatnya dijuluki sebagai "King" oleh para pendukung Setan Merah. Namun, beban nama besar ini tampaknya tidak menjadi masalah bagi King Erick Cantona.
Sebaliknya, ia justru melihat hal ini sebagai motivasi untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya di lapangan. Sebagai seorang pemain muda yang sedang merintis karier, Erick Cantona terus berusaha menunjukkan bahwa dirinya tidak hanya sekadar "menumpang nama besar," tetapi mampu menciptakan identitas sendiri di dunia sepakbola.
Ia memiliki mimpi besar untuk bisa mengikuti jejak para pemain legendaris yang menjadi inspirasinya, dan Liga 2 musim ini menjadi ajang penting bagi Erick Cantona untuk membuktikan kualitasnya. Dengan bergabungnya Erick Cantona di PSKC Cimahi, ia juga akan bermain di bawah asuhan langsung sang ayah, Kas Hartadi.
Meski ini bisa menjadi keuntungan, karena adanya pemahaman lebih dalam antara pelatih dan pemain, situasi ini juga dapat menjadi tantangan tersendiri. Sebagai pelatih, Kas Hartadi tentu harus bersikap profesional dalam memperlakukan anaknya di lapangan, tanpa memberikan perlakuan khusus.
Di sisi lain, Erick Cantona harus berjuang keras untuk membuktikan bahwa dirinya layak mendapatkan tempat di tim bukan karena hubungan keluarga, tetapi karena kualitas dan kerja kerasnya di lapangan. Keputusan King Erick Cantona untuk bergabung dengan PSKC Cimahi di Liga 2 musim ini menjadi sorotan publik sepak bola Indonesia.
Di usianya yang masih muda, ia memiliki banyak waktu untuk terus berkembang dan menunjukkan potensi terbaiknya. Liga 2 bisa menjadi batu loncatan penting dalam perjalanan kariernya, dengan harapan suatu saat nanti ia bisa menembus Liga 1 Indoneisa atau bahkan berkiprah di level internasional seperti para pemain yang menjadi inspirasinya.
Tantangan bagi King Erick Cantona tentu tidak mudah, terutama dengan sorotan besar yang datang karena nama besarnya. Namun, dengan dukungan dari keluarga, pelatih, serta semangat dan dedikasi yang tinggi, ia memiliki peluang besar untuk mencapai prestasi-prestasi yang lebih tinggi dalam karier sepak bolanya.
Dengan tekad dan kerja keras yang sudah ia tunjukkan sejauh ini, Erick Cantona berpeluang menjadi salah satu bek muda paling potensial di Indonesia. PSKC Cimahi bisa menjadi panggung yang tepat bagi Erick Cantona untuk terus mengasah kemampuannya dan menunjukkan bahwa pemain lokal juga bisa bersinar di tengah persaingan ketat sepak bola Indonesia. Nama besar memang menjadi sorotan, tapi kualitas dan prestasi di lapanganlah yang akan berbicara lebih banyak.***
Editor : RP Edwar Yaman