Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Kasta Tertinggi Sepakbola Indonesia Ganti Nama Lagi, dari Liga 1 Jadi Super League, Berikut Transformasinya dari Masa ke Masa

Redaksi • Selasa, 8 Juli 2025 | 13:51 WIB
Persib Bandung juara Liga 1 2024/25
Persib Bandung juara Liga 1 2024/25

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Setleh berjalan selama tujuh musim, Liga 1 kompetisi tertinggi sepakbola Indonesia ganti nama jadi Super League. Ini setelah Hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tahunan dan luar biasa PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) 2025 mengumumkan beberapa perubahan mendasar, salah satunya pergantian nama kompetisi. Dengan BRI tetap menjadi sponsro, maka komperisi musim 2025/2026 menjadi BRI Super League.

"Labeling kita, liga utamanya adalah Super League, siapa pun sponsornya," ucap Direktur Utama PT LIB Ferry Paulus.

Sepanjang sejarah kompetisi sepakbola Tanah Air, perubahan ini telah terjadi beberapa kali. Pergantian nama kerap dilakukan seiring dengan perkembangan filosofis yang mendasarinya. Berikut adalah transformasi Liga Indonesia sepanjang masa.

1. Perseritakan

Kompetisi Perseritakan merupakan ajang pertandingan sepakbola pertama yang hadir di Indonesia. Pengaruh persebaran sepakbola paling besar datang dari orang-orang Belanda yang saat itu menduduki wilayah Nusantara.

Gelaran Perseritakan erat kaitannya dengan pendirian PSSI pada 1930 atau di masa sebelum kemerdekaan. Soeratin, salah satu tokoh pendiri PSSI sekaligus ketua umum pertama segera menelurkan program berupa pelaksanaan kompetisi internal di tiap perserikatan.

Perseritakan sendiri merujuk pada organisasi atau kelompok sepakbola yang telah ada sebelumnya. Kelompok tersebut masih eksis hingga kini dan dikenal sebagai pendiri PSSI. Yakni VIJ (Persija Jakarta), BIVB (Persib Bandung), IVBM (PPSM Magelang), PSM (PSIM Jogjakarta), VVB (Persis Solo), MVN (PSM Madiun), dan SIVB (Persebaya Surabaya).

Di tingkatan yang lebih tinggi dari kompetisi internal terdapat kejuaraan antarperserikatan berjuluk Steden Tournooi. Gelaran ini pertama kali dilaksanakan di Surakarta secara terpusat pada 1931 dan bertahan hingga 1994.

Meski dikenal sebagai tonggak persepakbolaan Indonesia, Perserikatan masih hanya diikuti klub-klub lokal di Pulau Jawa.

2. Galatama

Liga Sepakbola Utama atau lebih dikenal sebagai Galatama merupakan kompetisi yang muncul pada tahun 1979. Kejuaraan ini berjalan seiringan dengan kompetisi Perserikatan yang telah reguler digelar sejak 1931.

Berbeda dengan Perserikatan yang bergantung pada APBD dan sangat erat dengan identitas kedaerahan, Galatama mengakomodasi klub-klub yang didirikan secara mandiri oleh perseorangan maupun swasta.

Kompetisi ini juga merupakan kompetisi pertama di Indonesia yang dikelola secara profesional dan meninggalkan status amatir. Inisiatornya merupakan klub-klub seperti Pardedetex, Jayakarta, Warna Agung, Beringin Putra, Bangka Putra, Buana Putra, dan Tunas Jaya.

Sejatinya, kedelapan tim tersebut merupakan anggota dari masing-masing perserikatan. Contohnya Jayakarta, Warna Agung, Beringin Putra, dan Tunas Jaya, berada di bawah naungan Persija Jakarta.

Galatama bertahan selama 15 tahun dan menggelar 13 kompetisi secara reguler. Kompetisi ini menjadi cetak biru perjalanan kejuaraan profesional di Indonesia.

 Baca Juga: Naik, Harga TBS Kelapa Sawit Mitra Pekan Ini Dihargai Rp3.316 per Kg

3. Ligina (Liga Indonesia)

Era Ligina lahir ketika PSSI memutuskan peleburan dua kompetisi yang telah ada sebelumnya yaitu Perserikatan dan Galatama. Hal ini karena kedua kompetisi tersebut sudah tidak mampu lagi bertahan.

Perserikatan yang mengandalkan dana APBD dan bersifat amatir mulai kehilangan daya pikat terutama di mata sponsor. Begitu pula Galatama yang kolaps lantaran praktik suap merajalela.

Ide PSSI untuk menyatukan dua kejuaraan tersebut lantas tertuang dalam format kompetisi baru bernama Liga Indonesia. Ligina memulai musim pertama pada 1994 dan menjadi perwajahan baru sepak bola Indonesia.

Di musim perdana, Ligina diikuti 34 klub yang terbagi dalam dua wilayah, Barat dan Timur. Kejuaraan ini sudah diikuti klub dari seluruh penjuru Indonesia. Profesionalisme di ajang ini semakin ditegakkan terutama ketika pemerintah melalui Kemendagri mengeluarkan peraturan pelarangan penggunaan APBD untuk membiayai klub sepak bola sejak 2008. 

Ligina sendiri juga telah memiliki sponsor secara mandiri untuk membiayai operasional liga. Di antara yang pernah menjadi sponsor Ligina adalah Bank Mandiri, perusahaan rokok (Dunhill, Kansas, Djarum), dan Extra Joss.

Baca Juga: Umat Buddha Jalani Ritual Pemindahan Patung Dewa

4. ISL dan IPL

Setelah pemerintah melarang penggunaan APBD untuk membiayai klub, kompetisi sepakbola di Indonesia akhirnya menggunakan sistem profesional secara penuh. Sebagai format baru, diperkenalkanlah gelaran Indonesia Super League (ISL).

ISL dapat dibilang merupakan era kejayaan kompetisi sepak bola di Indonesia. Kepopuleran ISL bahkan tembus hingga manca negara dan sempat menduduki peringkat delapan kompetisi di Asia.

Namun, kompetisi ini ternoda akibat dualisme yang terjadi di tubuh PSSI. Ketua Umum PSSI saat itu, Nurdin Halid kehilangan kredibilitasnya lantaran tersandung kasus korupsi.

Sejak itu, tapuk kepemimpinan PSSI diambil alih Arifin Djohar yang kemudian membentuk kompetisi anyar bertajuk Indonesia Premier League (IPL). Masalahnya, pembentukan IPL oleh PSSI dianggap tidak sah oleh operator ISL yang mengaku sebagai satu-satunya kompetisi resmi. Liga Indonesia akhirnya terpecah dan membentuk dualisme.

Era tersebut merupakan masa kelam sejarah liga Indonesia, sebab tidak hanya perpecahan dalam kompetisi dan tubuh federasi, tetapi juga muncul dualisme klub. Kisruh ini pada akhirnya juga memengaruhi kondisi tim nasional yang hanya boleh diisi pemain dari IPL.

 Baca Juga: Ajak Bikers Honda Matic Rolling City

5. Liga 1

Kisruh di tubuh PSSI semakin melebar dan puncaknya terjadi ketika FIFA menjatuhkan sanksi pembekuan PSSI pada 2015. Akibat pembekuan tersebut, liga Indonesia terhenti kurang lebih satu tahun lamanya hingga Federasi Sepakbola Dunia itu mencabut sanksi pada 2016.

Era baru kompetisi Indonesia baru terjadi pada 2017 dengan mengusung nama yang lebih segar yaitu Liga 1. Ajang ini menjadi perwajahan modern kejuaraan sepakbola di Indonesia.

Liga 1 telah berjalan selama tujuh musim dan menghasilkan lima juara. Bali United dan Persib Bandung menjadi dua klub yang berhasil meraih back-to-back gelar juara yaitu masing-masing pada 2019-2021 dan 2023-2025.

Kompetisi ini sempat menghadapi goncangan ketika pandemi Covid-19 melanda dunia pada 2020. Musim yang baru terlaksana selama dua pekan itu terpaksa harus dibatalkan.***

Editor : Edwar Yaman
#Super League #pssi #pt lib #liga 1 #Kasta Tertinggi Sepakbola Indonesia