RABAT (RIAUPOS.CO) - Bek sayap Paris Saint-Germain (PSG) Achraf Hakimi berdiri tegak di panggung utama Rabat, Rabu (19/11/2025) malam waktu setempat. Sorotan tertuju kepada mantan bek Real Madrid dan Inter Milan itu saat namanya diumumkan sebagai Pemain Terbaik Afrika 2025.
Hakimi menutup tahun yang luar biasa, menyisihkan dua nama besar, Mohamed Salah dan Victor Osimhen. Kemenangan Hakimi terasa lebih dari sekadar penghargaan individual bagi sepakbola Afrika.
Pemain berusia 27 tahun tersebut menjadi bek pertama yang meraih gelar ini sejak Bwanga Tshimen pada 1973. Untuk Maroko, momen itu kian simbolik karena sang bintang berdiri di hadapan Presiden FIFA Gianni Infantino dan Presiden CAF Patrice Motsepe.
Baca Juga: Terkait THM, DPMPTSP Tidak Keluarkan Izin Operasional
Mereka menyerahkan langsung penghargaan bersejarah tersebut kepada Hakimi.
“Merupakan momen yang sangat membanggakan bagi saya untuk memenangkan penghargaan bergengsi ini,” ujar Hakimi, suaranya stabil namun sarat emosi.
Ia menekankan bahwa trofi itu bukan semata miliknya. Ia mendedikasikannya bagi mereka yang tumbuh dengan mimpi sepak bola di Afrika, bagi keluarga dan orang-orang yang mempercayainya sejak kecil.
Baca Juga: BPBD Inhil Salurkan Bantuan ke Korban Kebakaran
“Trofi ini bukan hanya untuk saya, tetapi untuk semua pria dan wanita tangguh yang bermimpi menjadi pesepakbola di Afrika. Saya ingin berterima kasih kepada mereka semua,” lanjutnya.
Penghargaan yang diberikan di ibu kota Maroko itu datang setelah musim gemilang yang dijalani Hakimi bersama PSG. Dengan lima trofi yang dikumpulkannya musim ini, pencapaian terbesar tentu saja gelar Liga Champions pertama sepanjang sejarah klub.
Hakimi memainkan peran vital di final. Ia membuka skor dalam kemenangan telak 5-0 atas Inter Milan pada Mei lalu, sebuah partai yang langsung dikenang suporter sebagai malam magis paling berkesan PSG.
Performa konsisten itu yang membuat ia memuncaki perolehan suaranya dalam pemilihan Pemain Terbaik Afrika. Salah tetap kompetitif, Osimhen masih menjadi bomber paling mematikan benua itu, namun torehan Hakimi dianggap paling lengkap dan menentukan.
CAF menilai kontribusinya tidak hanya dalam serangan, tetapi juga kedewasaan permainan dan kepemimpinannya di momen besar. Sebuah paket lengkap yang jarang dimiliki full-back modern.
Baca Juga: Pelajar SMP Guang Ming Belajar Literasi di Riau Pos
Upacara itu juga menjadi panggung untuk sejarah lain. Gelandang Ghizlane Chebbak resmi menjadi wanita Maroko pertama yang merebut penghargaan Pemain Terbaik Afrika Tahun Ini.
Ia mengungguli Sanaa Mssoudy, yang juga berasal dari Maroko dan Rasheedat Ajibade dari Nigeria. Untuk timnas putri Maroko, capaian Chebbak menandai kemajuan signifikan setelah beberapa tahun terakhir tampil mencuri perhatian regional.
Sementara itu, Bubista, pelatih Tanjung Verde, mendapatkan sorotan tersendiri. Ia dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik Tahun Ini setelah membawa negara kepulauan itu meraih tiket Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya.
Sebuah pencapaian yang digambarkan CAF sebagai “kisah paling inspiratif tahun ini”. Di sisi lain, penghargaan kepada Hakimi dinilai sebagai penanda generasi baru pemain Afrika yang tampil menonjol di kompetisi elite Eropa.
Ia kini berdiri sejajar dengan para legenda benua tersebut, namun tetap menyebut bahwa perjalanannya masih jauh. Di Rabat malam itu, para undangan berdiri memberikan tepuk tangan panjang untuk pemain berusia 27 tahun tersebut.
Ia menunduk, memeluk trofi, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Momen sederhana, namun sarat simbol. Seorang bocah dari Madrid yang memilih membela tanah leluhurnya, kini menjadi wajah sepak bola Afrika.
Dan, untuk banyak anak muda yang tumbuh dengan mimpi serupa, perjalanan Hakimi menjadi bukti bahwa mimpi itu bisa terwujud, dengan dedikasi, disiplin, dan keberanian melangkah jauh dari zona nyaman. Penghargaan itu menutup malam dengan catatan hangat.
Bagi Hakimi, ini mungkin puncak karier sejauh ini. Namun, bagi Afrika, ini adalah bab baru dalam kisah pesepak bola benua hitam yang terus mengukir prestasi di panggung dunia.***
Editor : Edwar Yaman