Tahun 2025 menjadi tahun yang penuh denyut bagi olahraga Riau. Dari sorak sorai dan kekecewaan suporter PSPS di Stadion Kaharuddin Nasution hingga tepuk tangan di arena SEA Games XXXXIII Thailand yang bikin bangga Riau dan Indonesia.
Laporan DOFI ISKANDAR, Pekanbaru
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Di Pekanbaru, nama PSPS kembali menggema. PSPS bangkit dari luka, melangkah dengan harapan bagi masyarakat Pekanbaru. PSPS bukan sekadar klub sepakbola, Askar Bertuah adalah identitas. Setiap musim adalah perjalanan emosional tentang menang yang dirayakan bersama dan kalah yang diterima dengan kepala tegak.
Mengawali Liga 2 2024/2025 dengan persiapan bagus dengan mendatangkan pelatih Aji Santoso dan pemain berkualitas, PSPS menargetkan lolos ke Liga 1. Namun, pada Februari
2025, dipastikan PSPS gagal mengamankan tiket promosi ke Liga 1 setelah takluk 0-1 dari Persijap Jepara.
Kegagalan itu menjadi titik evaluasi besar. Musim 2024/2025 ditutup dengan rasa kecewa, namun juga tekad untuk membangun ulang. Manajemen memilih jalan panjang. Agustus 2025, PSPS resmi meluncurkan skuad baru. Pelatih kepala berganti, Kurniawan Dwi Yulianto dipercaya sebagai Direktur Teknik dan Ilham Romadhona memimpin Askar Bertuah menggantikan Aji Santoso.
Filosofi kolektif, disiplin, dan keberanian memainkan talenta muda menjadi fondasi. Tapi, prestasi PSPS justru tak berubah. Hasil kurang memuaskan yakni hanya 2 poin dari 3 laga awal memicu kekecewaan suporter. Tekanan suporter dan hasil buruk membuat Ilham Romadhona beserta jajaran pelatih lainnya, termasuk Dirtek Kurniawan Dwi Yulianto memutuskan mundur dari PSPS pada akhir September/awal Oktober 2025.
Manajemen bergerak cepat dan berhasil mendatangkan kembali Aji Santoso sebagai pelatih kepala, yang resmi dikontrak untuk satu musim ke depan pada 13 Oktober 2025. PSPS juga melakukan kontrak dengan tiga pelatih lainnya yakni, asisten pelatih Ambrizal, pelatih penjaga gawang Abdul Rohman dan pelatih fisik Abda Alief.
PSPS Pekanbaru akhirnya mampu mencatat kemenangan perdananya bersama, Aji Santoso pada laga pekan ke-7 saat melawan Persekat Tegal di Stadion Trisanja, Slawi, Tegal, Jumat, 24 Oktober 2025. Askar Bertuah yang sempat tertinggal, akhirnya mampu menang dengan skor ketat 3-2.
Kemenangan lewat gol telat menjadi simbol bahwa tim ini masih belajar, masih mencari ritme. Tantangan konsistensi dan kedalaman skuad terus menguji. Hingga November, manajemen melakukan langkah berani merombak total pemain asing, mendatangkan amunisi baru demi target besar bersaing di papan atas dan mengejar posisi runner-up Liga 2.
Namun, hingga laga ke 12, PSPS masih menempati peringkat 8 klasemen sementara Grup 1 dengan 14 poin hasil 3 kali menang, lima seri, dan 4 kali kalah. Di tengah dinamika itu, satu hal tak pernah berubah. Tribun Stadion Kaharuddin Nasution tetap bergema. Suporter PSPS tetap bernyanyi, tetap datang, dan tetap percaya. Di sanalah denyut PSPS hidup.
Di tengah belum stabilnya permainan PSPS, pencinta olahraga di Riau bisa berbangga hati atas prestasi atlet Riau di pentas Asia Tenggara. Atlet Riau mengibarkan Merah Putih di SEA Games XXXIII Thailand. Sebanyak 10 atlet Riau memperkuat Kontingen Indonesia dan menyumbangkan 10 medali yang terdiri dari 2 emas, 4 perak, dan 4 perunggu. Cabor senam dan panjat tebing menjadi sorotan.
Nama Abiyu Rafi mencuat setelah meraih emas senam. Sehari sebelumnya, M Aprizal menyumbangkan perak. Selain senam, atlet panjat tebing Puja Lestari juga menyumbangkan emas untuk Indonesia. Prestasi itu bukan datang tiba-tiba dan lahir dari latihan panjang dan disiplin bertahun-tahun. Tak hanya atlet, dua pelatih Riau Matrab Binhar dari ski air dan M Tri Saputra senam turut mengantarkan anak-anak didiknya ke podium.
Sambutan Hangat, Harapan yang Dijaga
Setiap medali membawa cerita pulang. Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru menjadi saksi penyambutan hangat bagi para pahlawan olahraga. Abiyu Rafi dan M Aprizal disambut pengalungan bunga oleh jajaran Pemprov Riau dan Pemko Pekanbaru. Begitu pula Puja Lestari, yang disambut langsung Plt Gubernur Riau SF Hariyanto. “Ini kebanggaan besar bagi Provinsi Riau,” ujar Sekdaprov Riau Syahrial Abdi.
Pemerintah daerah memastikan komitmen pembinaan dan penghargaan bagi atlet berprestasi. Bagi Puja, SEA Games 2025 adalah awal dan akhir. Targetnya kini satu Olimpiade Los Angeles 2028.
Riau dan Masa Depan Olahraga
Tahun 2025 juga menunjukkan Riau bukan hanya penghasil atlet, tapi juga tuan rumah event internasional. Dari Riau Bhayangkara Run, Indonesia Masters Super 100, hingga Tanjak Riau International Cup Pekanbaru menjelma panggung olahraga yang hidup.
Ketua KONI Riau Iskandar Hoesin menilai capaian atlet Riau patut dibanggakan, meski target emas belum sepenuhnya tercapai. “Dua emas di SEA Games sudah luar biasa. Ke depan, pembinaan harus lebih kuat,” ujarnya.
Kisah olahraga Riau 2025 adalah kisah tentang proses. Tentang PSPS yang belajar bangkit dari kegagalan. Tentang atlet-atlet yang berlatih dalam sunyi lalu bersinar di podium Asia Tenggara. Selama Askar Bertuah terus melangkah dan para atlet muda Riau terus bermimpi, harapan itu tak akan pernah padam di lapangan, di arena, dan di hati masyarakat Riau.(das)
Editor : Bayu Saputra