ALBACETE (RIAUPOS.CO) – Nasib buruk belum berakhir dari Real Madrid. Setelah kekalahan 2-3 dari Barcelona di final Piala Super Spanyol yang berujung kepada pemutusan kontrak Xabi Alonso, Real Madrid kembali kalah. Yang menyakitkan, tim berjuluk Los Blancos itu kalah dari tim Divisi 2, Albacete di ajang Copa del Rey.
Pelatih Alvaro Arbeloa bertanggung jawab atas kekalahan 2-3 timnya dari Albacete di Carlos Belmonte Stadium, Kamis (15/1/2026) dini hari WIB. Ini karena keputusannya untuk mengistirahatkan sejumlah pemain senior yang harus dibayar mahal dengan kekalahan.
Gol kemenangan di menit ke-94 dari Jefte Betancor memberi Albacete -- yang saat ini berada di peringkat ke-17 di Divisi 2-- kemenangan pertama mereka atas Madrid, setelah Gonzalo García tampaknya memaksa perpanjangan waktu di Estadio Carlos Belmonte dengan sundulan di menit ke-91.
Arbeloa baru mengambil alih kepemimpinan Madrid pada hari Selasa, naik jabatan dari melatih tim cadangan setelah kepergian Xabi Alonso.
"Di klub ini, hasil imbang itu buruk, sebuah tragedi, jadi bayangkan kekalahan seperti ini," kata Arbeloa dalam konferensi pers pascapertandingan.
"Ini menyakitkan, terutama melawan tim divisi bawah. Jelas kami harus meningkatkan performa. Saya bertanggung jawab. Saya yang mengambil keputusan: tim, bagaimana kami ingin bermain, pergantian pemain. Kami akan mencoba memulihkan moral dan kondisi fisik kami, serta meningkatkan performa untuk pertandingan hari Sabtu [melawan Levante di LaLiga]."
Ya, kekalahan Madrid di Copa del Rey terjadi hanya tiga hari setelah mereka dikalahkan Barcelona di final Supercopa Spanyol di Jeddah, Arab Saudi, hasil yang mendahului pemecatan Alonso sebagai pelatih.
Arbeloa mencoret beberapa pemain kunci dari skuad untuk perjalanan ke Albacete, termasuk Thibaut Courtois, Jude Bellingham, Aurélien Tchouaméni, Alvaro Carreras, Rodrygo, dan Kylian Mbappé, yang sedang berjuang dengan cedera lutut.
"Saya yakin skuad yang kami turunkan sudah tepat, dan saya masih berpikir begitu," tegas Arbeloa.
"Kami memiliki skuad yang luar biasa, dengan pemain-pemain hebat. Tidak mudah bagi mereka untuk melakukan semua yang saya minta setelah hanya satu hari [bekerja]. Kami memiliki banyak pemain yang harus kembali ke level fisik terbaik mereka. Saya tidak menyesali apa pun. Saya akan memilih tim yang sama lagi," ujarnya.
Sebelumnya, Madrid hanya berhasil lolos ke babak 16 besar Copa, membutuhkan dua gol Mbappe untuk mengalahkan Talavera de la Reina dari divisi ketiga dengan skor 3-2 pada bulan Desember.
"Saya pikir kami telah mencapai titik terendah hari ini," kata bek Dani Carvajal kepada wartawan.
"Kami tersingkir oleh tim divisi kedua. Selamat kepada mereka. Mulai besok kami semua akan melakukan introspeksi diri, secara individu dan kolektif," lanjutnya,
Masih ada waktu untuk membalikkan keadaan musim ini. Jika orang ingin menyebut ini sebagai kegagalan, saya akan memahaminya," kata Arbeloa.
"Bagi saya, kegagalan adalah jalan menuju kesuksesan. Saya tidak takut dengan kata itu. Saya telah banyak mengalami kegagalan dalam hidup saya, saya menderita kekalahan di piala, saya bersemangat untuk pergi ke Valdebebas besok dan bekerja dengan para pemain, untuk menjadi jauh lebih baik pada hari Sabtu."
Pelatih baru itu menyebutkan perlunya skuadnya untuk meningkatkan kondisi fisik, dan menolak untuk melihat eliminasi piala sebagai hal positif dalam hal mengurangi beban kerja ke depannya.
"Kalah bukanlah hal yang melegakan di Real Madrid," kata Arbeloa.
"Jelas itu bisa memiliki beberapa konsekuensi positif, tetapi bukan tujuan kami untuk kalah hari ini. Secara fisik kami memiliki banyak ruang untuk berkembang, itulah mengapa [pelatih kebugaran] Antonio [Pintus] ada di sini, saya pikir kami membutuhkannya."
Adegan emosional saat peluit akhir dibunyikan, para pemain Albacete melakukan putaran kehormatan, sementara mantan bek Madrid Jesus Vallejo -- yang absen pada pertandingan Rabu karena cedera -- meninggalkan lapangan sambil menangis.
"Ini adalah hal terbesar yang pernah saya alami dalam sepak bola," kata pencetak gol kemenangan Albacete, Betancor.
"Ini adalah hal yang Anda impikan. 9 tahun yang lalu saya ingin meninggalkan sepakbola. Sekarang, dengan bermimpi dan bekerja keras, lihatlah di mana kita berada. Saya rasa kita pantas mendapatkannya," ujarnya mengakhiri.***
Editor : Edwar Yaman