Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Ini Alasan Mundurnya Sepakbola Italia

Hary B Koriun • Minggu, 5 April 2026 | 13:01 WIB
Hary B Koriun
Hary B Koriun

 Catatan Sepakbola Hary B Koriun

KEGAGALAN Italia lolos ke Piala Dunia 2026, meninggalkan banyak catatan. Italia disingkirkan Bosnia-Herzegovina dalam final play-off zona Eropa tengah pekan lalu. Dalam pertandingan yang berlangsung Stadion Bilino Polje, Zenica, kartu merah yang didapat Allesandro Bastoni pada menit ke-41, mengubah arah pertandingan. Italia –yang meski kalah dalam ball possition dari tuan rumah—sudah unggul 1-0 lewat Mouse Kean pada menit ke-15. Secara keseluruhan sebelum kartu merah itu, permainan Gli Azzurri stabil dan sesekali membuat peluang berbahaya. Namun, kartu merah itu memang menjadi awal malapetaka.

Bosnia yang kelebihan satu pemain, mengurung pertahanan lawan sepanjang pertandingan setelah itu, akhirnya mencetak gol melalui rekan Kevin Diks di Borussia Moenchengladbach, Haris Tabakovic, memanfaatkan kamelut di depan jala Gianluigi Donnarumma menit ke-79. Italia tak kalah dalam waktu normal dan perpanjangan waktu. Kans lolos tetap terbuka mengingat kualitas Donnarumma (Manchester City) yang harus diakui lebih baik dari kiper Bosnia, Nikola Vasilj (St Pauli). Namun, dua kegagalan penalti yang dilakukan pemain muda Inter Milan, Pio Esposito, dan gelandang AS Roma, Bryan Cristante, membuat Italia melakukan hattrick gagal lolos ke Piala Dunia.

Italia lolos terakhir di Piala Dunia 2014 Brazil. Di sana, juara Piala Dunia empat kali itu tak bisa lolos dari babak penyisihan. Empat tahun sebelumnya, di Afrika Selatan, Italia juga gagal lolos ke ronde kedua. Dari sini, kita sudah melihat bahwa –bahkan hanya berselang empat tahun setelah meraih Piala Dunia 2006 di Jerman— ada kemunduran dalam prestasi Italia di iven paling besar di dunia ini. Kemunduran ini sebenarnya bisa dijawab dengan keberhasilan mereka meraih Piala Eropa 2020 setelah menyingkirkan tuan rumah Inggris lewat adu penalti. Namun, untuk urusan Piala Dunia, Italia kembali ke setelan pabrik.

Banyak orang berspekulasi –jika tak boleh disebut analisis— dengan opini masing-masing. Namun, muaranya, menurut saya, mengerucut pada dua persoalan. Pertama, gagalnya regenerasi karena para pemain muda kehilangan tempat di klub, terutama klub-klub besar. Yang kedua, sejak pemain Uni Eropa tidak dianggap sebagai pemain asing, Serie A Italia kebanjiran pemain-pemain semenjana, yang ikut membenamkan potensi pemain-pemain muda tersebut. Dua hal yang saling terkait kelindan.

Baca Juga: Komposter Jadi Solusi Kurangi Sampah Organik

Kita tahu, sebelum aturan Uni Eropa itu, Serie A kedatangan bintang-bintang grade A dunia. Semua pemain non-Italia dianggap pemain asing ketika itu, kecuali pemain yang memegang dua paspor, salah satunya harus paspor Italia. Kita tentu ingat trio Belanda di AC Milan (Ruud Gullit, Marco van Basten, dan Frank Rijkaard) yang muncul bersamaan dengan trio Jerman di Inter Milan (Lotthar Matthaus, Juergen Klinsman, dan Andreas Brehme). Selain mereka, ada nama-nama legenda dari semua negara dengan sepakbola terbaik dunia. Dari Argentina misalnya, ada Diego Maradona (Napoli), Gabriel Batistuta (Fiorentina dan AS Roma), Hernan Crespo (Parma, Inter Milan, dan AC Milan), Nestor Sensini (Parma dan Udinese), Julio Ricardo Cruz (Lazio dan Inter Milan), Claudio Caniggia (Verona, Atalanta, dan AS Roma), Abel Balbo (AS Roma, Parma, dan Fiorentina), Walter Samuel (AS Roma dan Inter Milan), hingga ke generasi Diego Milito (Genoa dan Inter Milan) dll.

Brazil, negara dengan “agama” sepakbola, hampir semua pemain terbaiknya juga bermain di Italia. Misalnya Antonio Careca (Napoli), Ronaldo Lima (Inter dan AC Milan), Cafu (AS Roma dan AC Milan), Luis Adriano (Inter Milan), Antonio Branco (Genoa), Carlos Dunga (Pisa, Fiorentina) dan sekian nama lainnya. Selain itu, nama-nama besar dari berbagai negara juga ada, seperti George Weah (Liberia, AC Milan), Tomas Skuhravy (Cekoslowakia, Genoa), Andriy Shevchencko (Ukraina, AC Milan), , dan Sinisa Mihajlovic (Yugoslavia, Sampdoria dan Lazio). Dari Inggris ada Des Walker (Sampdoria) dan David Plat (Bari, Juventus, Sampdoria); dari Prancis ada Jean Pierre-Papin (AC Milan), Lilian Thuram (Parma, Juventus), Allain Boghossian (Napoli, Parma, dan Sampdoria), Youri Djorkaeff (Inter Milan); dari Swedia ada Tomas Brolin (Parma) dan Kenneth Andersson (Bari, Bologna, dan Lazio); Rumania mengirim Florin Raduciou (Bari, AC Milan, Verona, Brescia) dan Marius Lacatus (Fiorentina), dan yang lainnya. Seperti ada pepatah, belum disebut bintang dunia jika belum bermain di Serie A.

Pada masa itu, klub-klub Italia seperti Juventus, AC Milan, Inter Milan, Parma, dll, sangat kuat dan juara di berbagai level kejuaraan antarklub Eropa, seperti Piala (Liga) Champions, UEFA Cup, dan Winners Cup. Kedatangan bintang-bintang besar dunia dalam jumlah terbatas itu membuat kualitas para pemain lokal Italia ikut terdongkrak. Siapa pun yang menjadi pelatih timnas, akan kesulitan memilih siapa pemain terbaik di masing-masing posisi dalam skuatnya. Meski tidak selalu juara di berbagai iven besar yang diikuti, tetapi setidaknya Italia selalu datang dan diperhitungkan.

***

Baca Juga: Chelsea Hancurkan Port Vale 7-0 untuk Melaju ke Semifinal Piala FA

Dalam masa emas Serie A, muncul nama-nama ikonik yang terus dikenang hingga kini. Mulai dari kiper, ada nama Dino Zoff (Napoli dan Juventus),  Angelo Peruzzi (Juventus, AS Roma, Inter Milan, dan Lazio), Walter Zenga (Inter Milan, Padova, Sampdoria), Gianluca Pagliuca (Sampdoria, Inter Milan, Bologna), Sabastiano Rossi (AC Milan, Perugia, dan Empoli), hingga generasi Gianluigi Buffon (Parma dan Juventus). Lalu di lini belakang, bek-bek terbaik berjubel di sini, bersaing dengan bek asing. Misalnya, sekadar menyebut nama: Franco Baressi (AC Milan), Paolo Maldini (AC Milan), Giuseppe Bargomi (Inter Milan), Antonio Bennarrivo (Parma), Luigi Apollini (Parma), Ciro Ferarra (Juventus), Mark Iuliano (Juventus), Pietro Vierchowod (Sampdoria dan Juventus), Fabio Cannavarro (Parma dan Juventus), Allesandro Costacurta (AC Milan), dll.

Pada posisi gelandang, Italia tak kekurangan pemain-pemain elegan yang diperhitungkan secara luas. Misalnya, Nicola Berti (Inter Milan, Parma, Fiorentina), Carlo Ancelotti (Parma, Roma, AC Milan), Fernando Di Napoli (Napoli dan AC Milan), Demitrio Albertini (AC Milan), Roberto Donadoni (AC Milan), Dino Baggio (Parma dan Juventus), Roberto Di Matteo (Lazio), Antonio Conte (Juventus), dan sekian pemain lainnya. Lalu, di lini depan, meski penyerang-penyerang terbaik dunia berjubel. Paolo Rossi (Juventus, AC Milan), Aldo Serena (Inter Milan, AC Milan, Juventus), Alessandro Altobelli (Inter Milan, Juventus, Brescia), Aberigo Evani (AC Milan, Sampdoria), Roberto Baggio (Fiorentina, Juventus, AC Milan, Brescia, Bologna), Gianlugi Lentini (Torion, AC Milan), Gianfranco Zola (Parma, Napoli, Cagliari), Pierluigi Casiraghi (Lazio, Juventus), Giuseppe Signori (Lazio, Sampdoria, Bologna), Roberto Mancini (Sampdoria, Lazio), Gianluca Vialli (Sampdoria, Juventus), Allesandro Melli (Parma, Perugia, AC Milan), Sandro Tovaliari (Bari, Atalanta, Perugia, Sampdoria, dll), Allesandro Del Piero (Juventus), Francesco Totti (AS Roma), Christian Vieri (Juventus, Inter Milan, AC Milan, Atalanta), Fillipo Inzaghi (Parma, Atalanta, AC Milan, Juventus), Enrico Chiesa (Sampdoria, Parma, Fiorentina, Lazio), Igor Protti (Bari, Lazio, Napoli), Dario Hubner (Brescia, Piacenza), Vicenzo Montella (AS Roma, Empoli, Genoa, Sampdoria), hingga Luca Toni (Palermo, Fiorentina, Juventus, Genoa, Verona), hanyalah beberapa nama yang bisa disebutkan.

Mengapa saya sebutkan segitu banyak nama –bahkan masih banyak pemain bintang yang belum ada dalam daftar itu? Dengan menyebut mereka, saya ingin menjelaskan, begitu dahsyatnya Serie A dalam melahirkan pemain-pemain bintang, yang tidak hanya diakui di Italia, tetapi juga ke liga Eropa lainnya. Banyak dari mereka yang pindah ke La Liga Spanyol, Bundesliga Jerman, hingga Liga Primer Inggris. Dan rata-rata mereka juga jadi bintang di sana. Ini terjadi karena Serie A punya regulasi jelas: setiap klub hanya boleh membeli tiga pemain asing dengan pemain Uni Eropa tetap disebut pemain asing. Dengan begitu, para pemain lokal berkembang karena stok pemain asing terbatas, dan banyak slot yang harus diisi oleh pemain lokal. Namun, Serie A perlahan mulai ditinggalkan bintang top setelah banyak kasus terjadi. Mulai masalah calciopoli (suap), keuangan klub yang mulai menurun, dan bangkitnya Liga Inggris membangun kompetisi yang kemudian menjadi tujuan utama banyak  bintang grade A. Mulai dari sini, pemain-pemain semenjana dari banyak negara berdatangan ke Italia

***.

Baca Juga: Erling Haaland Akui Musimnya Belum Cukup Baik setelah Hattrick ke Gawang Liverpool di Perempatfinal Piala FA

Di era sekarang, ketika pemain-pemain Uni Eropa membanjiri Serie A tanpa batas –sebenarnya terjadi di hampir semua kompetisi besar Eropa dengan disebut pemain asing kalau dia datang dari benua Asia, Afrika, Australia, Amerika—membuat slot untuk pemain lokal sangat terbatas. Kalau pun ada, mereka banyak bermain di klub-klub menengah atau kecil. Ini tak hanya berlaku di Serie A, tetapi juga Serie B dan kompetisi lain di bawahnya. Sebenarnya ini pernah dikeluhkan Roberto Donadoni ketika melatih Italia di Piala Dunia 2010 Afsel saat mereka tersingkir, termasuk kalah 1-4 di penyisihan dari Jerman. Roberto Baggio bahkan pernah membuat proposal perencanaan yang dibuat dari hasil penelusuran secara holistik oleh timnya ketika dia diminta menjadi kepala pengembangan teknis Federasi Sepakbola Italia (FIGC). Proposal setebal 900 halaman yang merupakan rancangan menyeluruh untuk reformasi sepakbola Italia –salah satunya membangun basis pemain muda—itu dibaikan oleh FIGC.

Banyaknya pemain Uni Eropa dengan harga murah, membuat Serie A menjadi tempat pemain-pemain “buangan” dari La Liga, Liga Inggris, Bundesliga, atau dari Prancis. Mereka yang gagal bersaing di sana, baik karena usia tua atau karena usia muda untuk mencari pengalaman, serasa jadi bintang, yang membuat pemain muda sulit berkembang. Kita ambil contoh: dalam skuad Gennaro Gatusso saat menang atas Irlandia Utara dan kalah dari Bosnia, adalah pemain-pemain yang mampu besaing –bukan berarti jadi bintang— di klub, di luar mereka yang bermain di luar negeri seperti Donnarumma, Sandro Tonali (Newcastle), atau Davide Calafiori (Arsenal). Misalnya, dalam skuad awal lawan Bosnia, ada tiga pemain Inter: Federico Dimarco, Allesandro Bastoni, dan Nicolo Barella. Mereka memang mendapat tempat reguler di Inter, yang kini ada di puncak klasemen dan calon juara. Tapi, lihatlah komposisi penyerangnya: Kean berasal dari Fiorentina yang kini di papan bawah. Sedang Matteo Retegui adalah pemain naturalisasi kelahiran Argentina yang kini bermain di Liga Arab bersama Al Qadsiah. Bahkan Pio Esposito, sang penyerang cadangan dan dimainkan di babak kedua, adalah penyerang ke sekian di Inter Milan setelah Lautaro Martinez dan Marcus Thuram.

Salah satu ironi pemain muda yang kini sedang ramai dibahas di Italia saat ini adalah Marco Palestara. Dia masuk menggantikan Matteo Politano di awal babak kedua saat melawan Bosnia, dengan posisi bek sayap kanan. Dia baru berusia 21 tahun. Pemilik aslinya adalah Atalanta. Musim ini dipinjamkan ke Cagliari. Di sana dia mendapatkan tempat reguler dan bermain bagus, yang akhirnya dipanggil Gattusso. Bayangkan, pemain tim nasional tapi pemain buangan Atalanta –sekarang menjadi salah satu klub papan atas Italia dan sering lolos ke Liga Champions—dan berkembang di klub kecil karena diberi kesempatan. Kita tahu, Cagliari bukan klub kaya yang bisa membeli pemain bintang. Memanfaatkan pemain pinjaman ternyata bisa disulap menjadi bintang. Ini tak jauh berbeda dengan Daniel Maldini, yang pernah dipinjamkan AC Milan ke Spezia, Empoli, Monza, dan kini di Atalanta. Sempat dipanggil sebagai pemain cadangan di timnas. Dari dua contoh ini, bisa dibayangkan, betapa sulitnya Serie A menciptakan predator di kotak penalti seperti dulu ketika banyak penyerang tajam berebut ke timnas.

Coba cari di 10 besar top skor Serie A saat ini, adakah pemain asli Italia? Tak ada. Nama pemain Italia ada di posisi ke-11, yakni Kean (8 gol), lalu di posisi 15-23 ada nama Domenico Berardi dan Andrea Pinamonti (7 gol, keduanya tidak dipanggil Gattuso). Pio Esposito dan Dimarco yang dipanggil timnas ada di bawahnya lagi dengan masing-masing mencetak 6 gol. Statistik ini menjelaskan dengan gamblang wajah pemain lokal Italia di Serie A seperti apa.

Kini, ketika Gattuso pergi meninggal luka, apakah yang akan dilakukan oleh FIGC untuk mengembalikan prestasi agar Italia tetap disegani?***

 

Hary B Kori’un, wartawan utama, Redaktur Pelaksana Riau Pos.

 

Editor : Edwar Yaman
#sepakbola #italia #serie a #catatan sepakbola