Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Ke Liga Champions setelah Dua Kali Bangkrut

Tim Redaksi • Selasa, 26 Mei 2026 | 12:02 WIB
Lucas Da Cunha. (JPG)
Lucas Da Cunha. (JPG)

 

CREMONA (RIAUPOS.CO) -  Sensasi Como 1907 musim ini mencapai puncak dengan kepastian  lolos ke Liga Champions musim depan. Il Lariani-julukan Como-menyegel tiket debut ajang antarklub Eropa paling bergengsi itu setelah finis empat besar di Serie A. Dalam laga pemungkas (giornata ke-38) kemarin (25/5), Como menang 4-1 atas tuan rumah US Cremonese di Stadio Giovanni Zini, Cremona.

Bagi Como, ini jadi momen titik balik mereka setelah dua kali mengalami kebangkrutan. Masing-masing pada musim 2004-2005 dan 2016-2017. Como bangkit setelah diakuisisi investor asal Indonesia, Djarum Group (keluarga Hartono), tujuh tahun lalu (2019).

Bersama Djarum Group, Como sukses promosi beruntun, 2023-2024 (Serie C ke Serie B) dan 2024-2025 (Serie B ke Serie A). Setelah musim lalu tembus sepuluh besar, musim ini Lucas Da Cunha dkk finis posisi keempat. Posisi terbaik Como di Serie A.

Baca Juga: Antonelli Serasa Sudah Juara Dunia 


“Sungguh luar biasa. Setelah membayangkan apa yang terjadi di masa lalu (bangkrut), kami sekarang berada di Liga Champions,” sebut Da Cunha, kapten sekaligus gelandang bertahan Como, seperti dikutip dari Calcio Como.

Kiprah Pertama Investor Indonesia

Musim ini jadi musim ketujuh Djarum Group mengakuisisi kepemilikan Como. Di belakangnya terdapat sosok dua pengusaha dari Indonesia, Robert Budi Hartono dan mendiang Michael Bambang Hartono. Klub yang dipresideni Mirwan Suwarso itu jadi klub milik investor tanah air pertama yang mampu bersaing dalam perebutan Si Kuping Besar-sebutan trofi juara Liga Champions.

Dalam akun Instagram, Mirwan menyebut Como siap jadi underdog di Liga Champions musim depan. “Buktikan kalau semangat kalian bisa lebih besar dari angka-angka,” tulis Mirwan.

Baca Juga: Perang Kontra AS dan Israel Bukan Penghalang, Team Melli Kuda Hitam Asia!

Efek Fabregas Bertahan

Kelolosan Como ke Liga Champions sejatinya sempat diragukan ketika allenatore Cesc Fabregas dirumorkan ingin melatih klub yang pernah dibelanya sebagai pemain, Chelsea. Enam giornata (ke-32 sampai ke-37) sebelum giornata pemungkas, Como keluar dari empat besar.

Namun, seiring Chelsea kemudian mengumumkan Xabi Alonso sebagai tactician baru musim depan, Fabregas memilih bertahan. 

“Aku berterima kasih kepada kalian karena ini mungkin sekumpulan pemain terbaik yang pernah kulatih selama hidupku. Aku yakin kita semua akan selalu dikenang,” beber Fabregas yang mulai menangani Como tiga tahun lalu sebagai interim di laman resmi klub. 

Baca Juga: Presiden Bayern Sebut Barcelona Tidak Punya Uang untuk Rekrut Harry Kane

Masa Depan Paz

Seiring tampil di Liga Champions musim depan, Como perlu skuad yang kompetitif. Artinya, selain harus merekrut nama-nama mumpuni, Lariani dituntut mempertahankan pemain pilar seperti gelandang serang Nico Paz. Masalahnya, Paz menjadi pemain buruan klub-klub top Eropa.

Menilik Transfermarkt, market value jebolan La Fabrica (akademi Real Madrid) berusia 21 tahun itu meroket hingga EUR 65 juta atau sekitar Rp1,34 triliun. Ban­dingkan dengan nilai transfer Como kala merekrut pemain berkebangsaan Argentina itu dari Real dua tahun lalu yang hanya EUR 6 juta (Rp123,8 miliar).(ren/dns/jpg)

 

Editor : Arif Oktafian
#Como 1907 #liga champions #sepak bola eropa