JAKARTA (RIAUPOS.CO)- Jonatan Christie mengamankan tiket ke babak 16 Besar Indonesia Open 2026. Jojo-sapaan akrabnya-lolos usai mengalahkan wakil Singapura, Jia Heng Jason Teh, dengan skor 21-18, 21-15 di Istora Senayan, Jakarta kemarin. Jojo hanya butuh waktu 44 menit.
Meski menang cukup meyakinkan, Jojo mengaku tidak langsung menemukan permainan terbaiknya. Seperti turnamen-turnamen sebelumnya, ia harus lebih dulu beradaptasi dengan kondisi lapangan dan suasana pertandingan.
“Puji Tuhan bisa lolos ke babak berikutnya. Tadi (kemarin, red) masih sedikit adaptasi pada awal-awal pertandingan. Yang pasti, di setiap turnamen pertandingan pertama itu tidak mudah karena harus beradaptasi dengan lapangan,” ujar atlet 28 tahun itu.
Baca Juga: Moises Caicedo dan Enner Valencia Pimpin La Tri
Jojo datang ke Indonesia Open 2026 setelah mengalami hasil kurang memuaskan pada Singapura Open 2026. Pada turnamen tersebut, ia harus angkat koper lebih cepat setelah tersingkir di babak pertama.
Meski demikian, Jojo enggan menyebut kegagalan tersebut sebagai sesuatu yang membawa keberuntungan bagi penampilannya di Indonesia Open. Menurut dia, setiap kekalahan tetap menyisakan kekecewaan. “Karena target awalnya adalah melangkah sejauh mungkin.’’
Diuntungkan Pemulihan Kondisi
Tersingkir lebih awal pada Singapore Open 2026 membuat Jojo memiliki waktu lebih banyak untuk memulihkan kondisi fisik. “Faktor itu memang cukup membantu untuk menghadapi turnamen besar di kandang sendiri,” ujarnya.
Baca Juga: Hadapi Petenis Rusia Mirra Andreeva di Semifinal French Open, Marta Kostyuk Sampaikan Hal Ini
Indonesia Open memang menjadi salah satu target utama Jojo tahun ini. Meski memiliki ambisi besar, dia tidak ingin terbebani dengan target juara. Ia memilih fokus menjalani pertandingan satu demi satu agar bisa menjaga konsentrasi sepanjang turnamen.
Mengenai performanya yang belum konsisten setelah mencapai final India Open awal 2026, Jonatan menilai setiap turnamen memiliki karakteristik berbeda.
“Dalam tiga turnamen terakhir saja shuttlecock yang digunakan berbeda-beda. Masing-masing punya karakter dan feeling touch yang berbeda. Jadi, tidak bisa disimpulkan bahwa kegagalan di satu turnamen akan sama penyebabnya dengan turnamen lain. Tidak apple to apple,” pungkas Jonatan.(fiq/bas/jpg)
Editor : Arif Oktafian