Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Gavi dan Keanehan Formasi Spanyol

Tim Redaksi • Kamis, 18 Juni 2026 | 11:23 WIB
Pablo Martin Paez Gavira. (JPG)
Pablo Martin Paez Gavira. (JPG)

 

RIAUPOS.CO - SPANYOL tidak ka­lah saat melawan Cape Verde di Stadion Atlanta, Amerika Serikat (AS), Senin (15/6). Keduanya bermain imbang tanpa gol. Spanyol menguasai permainan sepanjang pertandingan dengan statistik yang fantastis, namun gagal mencetak gol dan menang. Menurut Soccerway, mereka mengurung dengan unggul persentase penguasaan bola 74 berbanding 26 persen. Melakukan percobakan tembakan 27 kali, 6 yang on target. Cape Verde hanya 7 dan 1 on target. Dari sini kita sudah tahu, negara kepulauan kecil di timur Afrika ini bukan lawan seimbang bagi raksasa juara dunia tahun 2010 ini.

Namun, kenyataannya, statistik yang tercatat tak berarti apa-apa dalam hasil akhir pertandingan di Grup H Piala Dunia 2026 ini. Spa­nyol kehilangan 2 poin, dan Cape Verde mengejutkan dunia. Memang tak sefenomenal kemenangan Senegal atas Prancis di pembukaan Piala Dunia 2002 –Prancis datang sebagai juara bertahan;  atau saat 9 pemain Kamerun menjungkalkan Diego Maradona dkk di Piala Dunia 1990; atau saat Arab Saudi menang atas Lionel Messi dkk di pertandingan pertama keduanya di Piala Dunia 2022 lalu yang malah mengantarkan Argentina menjadi juara. Ini sebenarnya kejutan yang biasa dalam setiap perhelatan Piala Dunia, tetapi jelas ini memberi konfirmasi atas kontroversi Spanyol saat berangkat ke kejuaraan ini.

Saat menentukan 26 pemain yang akan dibawa ke Kanada-AS-Meksiko ini, pelatih Luis De la Fuente meninggalkan Real Madrid. Iya, tak satu pun pemain Madrid –peraih gelar terbanyak juara La Liga Spanyol, terbanyak Liga Champions dengan 15 trofi, dan runner-up kompetisi musim lalu— yang masuk dalam skuadnya. Dia menganggap tak ada satu pun pemain Spanyol di Madrid yang layak masuk tim yang diasuhnya meskipun dalam pertandingan uji coba melawan Irak jelang berangkat, dia memanggil penyerang Madrid, Gonzalo Garcia. Mungkin hanya untuk menyenangkan fans Madrid di seluruh dunia yang sudah terlanjur marah. Padahal, ada beberapa pemain Madrid yang dianggap khalayak layak. Seperti Dean Huijsen, Gonzalo Garcia, Alvaro Carreras, Thiago Pitarc, atau Raul Asensio. Sebaliknya, ada 8 pemain Barcelona yang dipanggil sebagai fondasi tim, termasuk Gavi yang selama semusim hanya 13 kali bermain.

Baca Juga: Piala Dunia 2026: Ghana Raih Kemenangan Berharga atas Panama di Menit Akhir

Saat melawan Cape Verde, Fuente menurunkan 4 pemain Barcelona sebagai starter dan 4 lainnya di bangku cadangan. Yang membuat banyak orang bingung, adalah penempatan Gavi sebagai pemain sayap kiri dan Ferran Torres di sayap kanan. Di Barcelona, Gavi tak pernah bermain di posisi itu. Dia seorang gelandang. Begitu juga Torres yang posisi naturalnya adalah penyerang tengah atau sayap kiri. Banyak pendukung Spanyol berujar, “Begitu sayangnya Fuente kepada Gavi, hingga dia ingin menunjukkan bahwa sang pemain bisa bermain di posisi apa pun.” Ini seperti pembelaannya kenapa dia membawa Gavi yang tak punya menit bermain di kompetisi, tetapi diangkut ke Piala Dunia meski sebenarnya menjadi pengganti Fermin Lopez –yang juga pemain Barcelona-- yang cedera.


Dalam pertandingan, Gavi tak memperlihatkan kapasitasnya sebagai seorang pemain sayap. Dia tak melakukan tusukan ke kotak penalti, cute back, atau crossing. Setiap dapat bola, dia memberikan ke pemain lain yang jaraknya dekat dengannya. Gavi justru kalah cermerlang dibanding Marc Cucurella, bek kiri, yang malah sering berada di sayap kiri. Ia masuk ke kotak penalti, memberi umpan matang, atau melakukan eksekusi langsung. Hal yang sama juga terjadi pada Torres. Tak terlihat ada di lapangan. Shoot on target La Furia Roja ke jala Vozina justru banyak dilakukan para gelandang seperti Rodri, Fabio Ruiz, atau para pemain belakang seperti Aymeric Laporte, Cubarsi, dan Marcos Llorente.

Lalu bagaimana dengan Mikel Oyarzabal? Kapten Real Sociedad yang diplot sebagai striker tunggal ini mencatat rekor dan sejarah: satu-satunya striker yang tak menyentuh bola di 30 menit pertama pertandingan. Meski akhirnya dia melakukan 5 kali tendangan ke arah gawang dengan 1 on target, tiga off target, dan satu kena blok, namun ini memperlihatkan betapa tidak efektifnya formasi lini depan Spanyol. Bisa jadi ini yang terburuk sepanjang keikutsertaan Spanyol di Piala Dunia. Banyak pundit yang heran. Jika pun tak mau menurunkan Lamine Yamal (posisi Torres) atau Nico Williams (posisi Gavi) karena baru sembuh dari cedera, Fuente masih punya Alex Baena, Yeremi Pino, Victor Munoz, atau Dani Olmo di posisi dua flank tersebut. Toh ketika Olmo, Yamal, dan Nico dimainkan jelang akhir pertandingan, tak bisa mengubah situasi. Pemain-pemain Cape Verde dengan fisik yang kuat, sudah membangun tembok kokoh dan tinggi di depan gawang mereka.

Baca Juga: Alex Marquez Bakal Comeback di Brno

Ada nuansa meremehkan dalam formasi serang Fuente ini. Dari awal seolah dia yakin, siapa pun yang ada di lini depan, atau di posisi lain, akan dengan mudah menembus gawang yang dijaga kiper berusia 40 tahun itu. Termasuk menyulap Gavi jadi pemain sayap. Sikap meremehkan inilah yang akhirnya jadi bumerang: tim yang datang membawa label juara Piala Eropa 2024, tak mampu mencetak gol ke gawang negara berpopulasi separuh dari penduduk Jakarta Pusat yang baru sekali ini tampil di Piala Dunia. Padahal, kurang megah apa kompetisi La Liga, kurang hebat apa 8 pemain Barcelona yang dibawa yang ikut mengantar juara La Liga musim ini, juga pemain lainnya yang dianggap terbaik dan paling pantas masuk tim oleh Fuente, selain pemain Madrid.

Masih ada dua pertandingan lagi melawan Uruguay dan Arab Saudi yang juga bermain imbang 1-1 di pertandingan pertama mereka. Ini juga membuat pertarungan semakin menarik. Jika tak hati-hati, Spanyol malah bisa tak lolos ke babak knock-out, meski terbuka lebar dalam satu grup ada tiga tim yang lolos. Tetapi, kita tentu tak mau mendoakan itu. Spanyol tetap sangat layak lolos ke babak 32 besar.***

Editor : Arif Oktafian
#Cape Verde #piala dunia 2026 #spanyol