AIRLINGTON (RIAUPOS.CO) - Menurut gelandang serang Austria Romano Schmid, Lionel Messi adalah pemain terbaik yang pernah ada. Rekan setimnya yang berposisi penyerang, Michael Gregoritsch, menjuluki mahabintang Argentina tersebut berada di “level tanpa pesaing”. Sang kapten, David Alaba, bahkan menyebutnya sebagai “manusia super”.
Jadi, sebelum bicara taktik saat timnya meladeni Argentina di Stadion AT&T, Arlington, Amerika Serikat, dini hari nanti WIB (siaran langsung TVRI Nasional pukul 00.00 WIB), tugas pertama pelatih Austria Ralf Rangnick, barangkali adalah meredam dulu ketakjuban para penggawanya terhadap Messi. Agar tim asuhannya tak bernasib serupa Aljazair.
Saat takluk 0-3 dari Argentina di laga pertama Grup J pada 17 Juni lalu, terlihat bagaimana para penggawa Aljazair seperti terlalu “respek” kepada Messi. Tak ada pressing ketat kepada pemain seberbahaya dia. Penggawa Inter Miami itu jadi punya ruang sangat luas dan akhirnya memborong ketiga gol La Albiceleste.
Baca Juga: Pelatih Pantai Gading Emerse Faa Kecam Kurangnya Fair Play Jerman saat Timnya Kalah 2-1
“Messi tidak lagi mengejar setiap bola seperti dulu. Namun, justru itu yang membuatnya berbahaya karena dia selalu berada di ruang yang tepat ketika serangan balik terjadi,” kata Rangnick, seperti dikutip dari Krone.
Gregoritsch mengaku, awalnya dia sempat berada di “kubu Cristiano Ronaldo”. “Sejak Piala Dunia terakhir (2022), tidak ada lagi perdebatan bagi saya. Messi adalah pesepak bola terbaik sepanjang masa,” kata penyerang FC Augsburg itu.
Adapun gelandang RB Leipzig Xaver Schlager melihat perbedaan keduanya dari sudut pandang yang berbeda. “Yang satu pekerja keras, yang lainnya memiliki bakat pemberian Tuhan,” katanya.
Baca Juga: Kapten Australia Maty Ryan Utamakan Tim meskipun Duduk di Bangku Cadangan
Perlakuan di Ruang Ganti
Pada 2023, Alaba sempat menjadi sorotan saat dia kedapatan memilih Messi di posisi teratas voting FIFA The Best, mengungguli rekan setimnya di Real Madrid, Karim Benzema.
Kini, menjelang duel melawan La Albiceleste, Alaba kembali melontarkan pujian kepada mahabintang yang dua hari lagi akan berusia 39 tahun itu. “Apa yang bisa dilakukan Messi sungguh luar biasa,” katanya.
Kekaguman terhadap Messi tidak hanya datang dari para pemain lawan, tetapi juga di ruang ganti Argentina. “Orang-orang selalu bertanya apakah kami memperlakukan Messi secara berbeda di tim nasional. Jawabannya, ya,” ujar wakil kapten Argentina Nicholas Otamendi, seperti dikutip dari akun Instagram FACB Fans Nation.
“Kita sedang berbicara tentang pemain terbaik dalam sejarah. Saat Messi berbicara, semua orang mendengarkan. Saat Messi berada di lapangan, semua orang berlari sedikit lebih keras. Bukan karena dia meminta, tetapi karena dia menginspirasi,” lanjutnya.
Tapi, Austria berpotensi menjadi lawan terberat bagi juara bertahan Argentina di fase grup Piala Dunia 2026. Bukan hanya karena Das Team, julukan Austria– menempati peringkat lebih baik (ke-21) dari Aljazair (30) dan Jordania (68) di Grup J. Tetapi juga karena Austria bermain dengan pressing agresif atau langsung menekan setelah kehilangan bola.
Itu tak lepas karena Austria ditangani Ralf Rangnick. Sosok yang dikenal sebagai godfather of gegenpressing. Julukan yang datang bukan tanpa alasan. Sepanjang kualifikasi Piala Dunia 2026, Austria mencatat nilai PPDA (passes per defensive action) terendah di antara seluruh tim. Semakin rendah angka tersebut, semakin agresif tekanan yang dilakukan sebuah tim.
Namun, Argentina punya senjata menghadapi taktik tersebut. Data Opta menunjukkan bahwa La Albiceleste mampu menyelesaikan 89 persen operan saat berada di bawah high-intensity pressure. Angka itu merupakan yang terbaik di antara seluruh tim kontestan Piala Dunia 2026.
”Argentina dan Austria sama-sama memenangkan laga pertama. Kemenangan kedua berarti tiket lolos ke fase knockout. Mereka (Austria) tentu akan berupaya mempertahankan skema main terbaiknya,” kata entrenador Argentina Lionel Scaloni seperti dilansir dari TyC Sports. Dalam laga pertama (17/6), Argentina mengalahkan Aljazair 3-0 dan Austria menekuk Jordania 3-1.
Opsi Bola Mati
Austria sejatinya tidak hanya mengandalkan pressing. Das Team juga bisa mengancam lewat bola mati. Tepatnya, dari striker jangkung Sasa Kalajdzic yang memiliki tinggi 2 meter. Kehadirannya mengingatkan Argentina saat menghadapi striker Belanda Wout Weghorst (1,97 meter) di perempat final Piala Dunia 2022.
Kala itu, Weghorst mampu mencetak brace, dengan salah satunya tercipta melalui sundulan. Beruntung, Argentina berhasil menang via adu penalti setelah bermain imbang 2-2 di waktu normal dan babak perpanjangan waktu.
Hanya, Kalajdzic belum tentu jadi pilihan starter seperti saat menang 3-1 atas Yordania. Saat itu, Kalajdzic hanya main di babak pertama. Saat turun minum, striker LASK tersebut digantikan oleh striker veteran Marko Arnautovic. ”Aku akan memilih (siapa starter) berdasar kondisi terakhir pemain,” ucap Rangnick di laman resmi OFB (PSSI-nya Austria).
Ganti Starting XI
Bukan hanya Austria yang bisa mengubah starting XI, Argentina juga melakukannya. La Albiceleste hampir pasti tampil tanpa bek kanan Gonzalo Montiel dini hari nanti (23/6). Bek kanan River Plate itu hanya tampil selama 45 menit lawan Aljazair karena mengalami cedera otot paha. Posisinya kemungkinan digantikan Nahuel Molina (Atletico Madrid).
Terlepas dari cedera Montiel, Scaloni memang hampir tidak pernah menurunkan susunan pemain yang sama secara beruntun selama menangani Argentina sejak 2018. Dia fleksibel menyesuaikan dengan karakter tim lawan.
Lalu, siapa yang akan kehilangan tempat lawan Austria? Thiago Almada salah satunya. Posisinya bisa digantikan oleh Nicolas Gonzalez. Sementara, di lini depan, persaingan melibatkan antara Lautaro Martinez dan Julian Alvarez sebagai pendamping kapten tim Lionel Messi.
”(Lautaro) Martinez adalah finisher yang brilian. Sementara Julian (Alvarez) punya penyelesaian akhir, tetapi juga lebih aktif di luar kotak penalti,” tutur Sergio Aguero, mantan striker La Albiceleste, kepada Clarin.(ka/dns/jpg)
Editor : Arif Oktafian