MASSACHUSETTS (RIAUPOS.CO) - Kegagalan Jerman di Piala Dunia 2026 terus memunculkan cerita baru yang semakin memperburuk situasi. Setelah tersingkir lewat adu penalti dari Paraguay, kini muncul laporan yang menyebut ada empat pemain Die Mannschaft yang enggan mengambil tendangan penalti saat momen krusial.
Kekalahan tersebut menjadi pukulan telak bagi Jerman. Selain menjadi eliminasi ketiga secara beruntun di Piala Dunia, itu juga merupakan kekalahan adu penalti pertama mereka dalam sejarah turnamen.
Padahal, Jerman selama ini dikenal sebagai salah satu negara dengan rekor adu penalti terbaik. Sebelum laga melawan Paraguay, mereka selalu memenangkan enam adu penalti terakhir di turnamen besar, termasuk dua kali mengalahkan Inggris.
Kekalahan terakhir Jerman dalam adu penalti terjadi pada final Piala Eropa 1976 melawan Cekoslowakia, saat Antonín Panenka menciptakan penalti ikonik yang kemudian dikenal sebagai “Panenka”.
Baca Juga: Australia V Mesir: Sejarah Menanti
Empat Pemain Dikabarkan Enggan Maju
Melansir Metro Sport, Jonathan Tah sebenarnya bukan pilihan utama untuk menjadi penendang penalti keenam Jerman.
Bek Bayern Munich itu disebut maju setelah empat rekan setimnya menunjukkan keraguan untuk mengambil tanggung jawab tersebut. Ironisnya, Tah sendiri belum pernah menjadi eksekutor penalti di level profesional.
Empat pemain yang dikabarkan enggan maju adalah Leon Goretzka, Waldemar Anton, Nathaniel Brown, dan Malick Thiaw.
Yang paling mengejutkan adalah nama Goretzka. Gelandang Bayern Munich yang telah mengoleksi 72 penampilan bersama timnas Jerman itu disebut dua kali diminta oleh kapten Joshua Kimmich untuk menjadi algojo berikutnya. Namun, ia dikabarkan tetap menolak.
Tah akhirnya mengambil tanggung jawab tersebut, tetapi tendangannya justru melambung jauh di atas mistar gawang. Setelah itu, Jose Canale sukses menjalankan tugasnya untuk Paraguay dan memastikan kemenangan tim Amerika Selatan tersebut.
Media Jerman Bereaksi Keras
Kekalahan ini memicu gelombang kritik tajam dari media Jerman. Media Bild memasang tajuk utama “Mimpi Buruk Sepak Bola Jerman Berikutnya”, sementara sejumlah kolumnis menilai kegagalan tersebut sebagai cerminan kemunduran sepak bola Jerman.
Kolumnis Bild, Marion Horn, bahkan mengkritik pernyataan Kanselir Jerman Friedrich Merz yang tetap memberikan dukungan kepada tim. Merz sebelumnya menulis di media sosial:
“Meskipun tersingkir itu menyakitkan: Pertandingan yang luar biasa, @DFB_Team! Dengan komitmen dan semangat tim kalian di Piala Dunia ini, kalian telah membuat negara kami gembira. Kami bangga pada kalian”.
Baca Juga: PS Sinkay Pelalawan Harumkan Nama Daerah Lewat Raihan 13 Medali di Kejurnas UNP
Namun, Horn menilai pernyataan tersebut tidak mencerminkan kenyataan. “Kanselir, itu sama sekali tidak benar!!! Saya tidak akan menerima perlakuan kelas dua. Saya tidak bangga. Saya marah. Saya kecewa. Saya geram! Anak-anak kita hanya mengenal Jerman sebagai negara pecundang!”
Ia juga menyebut kemerosotan sepakbola Jerman mencerminkan kondisi negara secara umum, sembari mengutip komentar legenda Jerman Lothar Matthäus yang menilai ada persoalan internal di dalam skuad.
Senada dengan itu, kolumnis Die Welt, Ulf Poschardt, menerbitkan artikel berjudul “Hanya Jerman yang Sukses yang Layak untuk Ditinggali”, sedangkan media sepak bola Kicker menyebut hasil tersebut sebagai “kecaman keras terhadap sepak bola Jerman dan Julian Nagelsmann.”
Kini, tekanan terhadap Nagelsmann dan Federasi Sepak Bola Jerman semakin besar. Setelah tiga kali beruntun gagal melangkah jauh di Piala Dunia, Die Mannschaft dihadapkan pada tuntutan untuk melakukan perubahan besar demi mengembalikan status mereka sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola dunia.(jpg)
Editor : Arif Oktafian