Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Kasus Folarin Balogun Berbuntut Panjang

Tim Redaksi • Kamis, 9 Juli 2026 | 11:47 WIB
Pemain Amerika Serikat Folarin Balogun  berdebat dengan wasit Adham Makhadmeh dalam pertan­dingan babak 16 besar Piala Dunia FIFA 2026 melawan Belgia di Stadion Seattle, Senin (6/7/2026).(afp)
Pemain Amerika Serikat Folarin Balogun berdebat dengan wasit Adham Makhadmeh dalam pertan­dingan babak 16 besar Piala Dunia FIFA 2026 melawan Belgia di Stadion Seattle, Senin (6/7/2026).(afp)

 

KANADA (RIAUPOS.CO) - Puluhan ang­gota parlemen Eropa secara resmi mendorong dibukanya penyelidikan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino. Inisiatif itu berkaitan dengan dugaan keterlibatan Infantino dalam keputusan kontroversial yang mengizinkan penyerang Timnas Amerika Serikat, Folarin Balogun, tetap bermain meski telah menerima kartu merah. 

Balogun mendapat kartu merah saat Amerika Serikat meraih kemenangan atas Bosnia dan Herzegovina dalam laga Piala Dunia 2026 pada 2 Juli. Berdasarkan aturan yang berlaku, hukuman itu semestinya membuat Balogun absen pada pertandingan berikutnya. Namun, FIFA secara mengejutkan mencabut sanksi yang dijatuhkan sehingga Balogun dapat tampil kembali saat pertandingan melawan Belgia pada Selasa (7/7). 

Keputusan itu memunculkan kritik keras dari sejumlah legislator Uni Eropa. Dalam pernyataan bersama, anggota Parlemen Eropa Barry Andrews, Lara Wolters, dan Niels Fuglsang menilai langkah FIFA sebagai tindakan yang mencederai prinsip keadilan dalam olahraga.

Baca Juga: Lolos dalam Laga Paling Membosankan

“Mengubah aturan terkait sanksi kartu merah di tengah turnamen merupakan sebuah aib dan bentuk penyimpangan terhadap keadilan,” tulis pernyataan itu dikutip dari AP. Para legis­lator juga menuding bahwa keputusan itu tidak lepas dari campur tangan politik, khususnya setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut melakukan intervensi langsung kepada Infantino.

Para legislator menilai peristiwa ini sebagai bukti bahwa FIFA kembali tunduk pada tekanan politik. “Sekali lagi, kita melihat Infantino dan FIFA menyerah pada tuntutan pemerintahan Trump,” lanjut pernyataan itu.

Sebagai tindak lanjut, para anggota parlemen Eropa meminta asosiasi sepak bola nasional di negara-negara Uni Eropa untuk mendorong Komite Etik FIFA agar menyelidiki Infantino. Penyelidikan itu diharapkan dapat mengungkap apakah tekanan dari pemerintah Amerika Serikat sebenarnya memengaruhi keputusan pencabutan sanksi, serta menelusuri kemungkinan pelanggaran lain terkait netralitas politik, termasuk pemberian FIFA Peace Prize kepada Trump

Baca Juga: Didier Deschamps Tak Khawatir dengan Wasit Argentina dalam Pertandingan Piala Dunia Prancis vs Maroko

“Kami merasa sudah saatnya asosiasi sepak bola Eropa yang semuanya merupakan anggota FIFA, turun tangan dan meminta FIFA menyelidiki proses pengambilan keputusan terkait kasus Balogun tersebut,” tulis pernyataan itu.

Sementara itu, FIFA sebelumnya telah menyatakan bahwa keputusan pencabutan sanksi terhadap Balogun merupakan hasil keputusan komite disiplin, bukan intervensi individu. 

Hingga saat ini, sedikitnya 35 anggota parlemen Eropa telah menandatangani surat dukungan untuk penyelidikan tersebut. Mereka menegaskan bahwa esensi olahraga terletak pada aturan yang adil, transparan, dan tidak memihak. “Keindahan olahraga terletak pada aturan yang tidak memihak dan transparan. Ketika tekanan politik menentukan siapa yang boleh bermain, maka rasa keadilan itu hilang,” tegas para legislator.(jpg)

Editor : Arif Oktafian
#gianni infantino #Folarin Balogun #fifa