Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Azteca Plan Jadi Kambing Hitam

Tim Redaksi • Jumat, 17 Juli 2026 | 09:31 WIB
Penggemar muda Argentina menangis bahagia merayakan kemenangan saat nonton bareng pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris melawan Argentina di Miami Beach, Florida, Kamis (16/7/2026). (CHANDAN KHANNA/AFP)
Penggemar muda Argentina menangis bahagia merayakan kemenangan saat nonton bareng pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris melawan Argentina di Miami Beach, Florida, Kamis (16/7/2026). (CHANDAN KHANNA/AFP)

 

ATLANTA (RIAUPOS.CO) - Keputusan Thomas Tuchel mengubah formasi Inggris dari 4-2-3-1 menjadi 5-4-1 setelah memimpin 1-0 malah menjadi titik balik kebangkitan Argentina. Azteca Plan, sebutan strategi yang sebelumnya sukses dimainkan Inggris saat menghadapi Meksiko di 16 besar gagal total. Inggris justru kalah 1-2 dalam semifinal Piala Dunia 2026 di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, Kamis (16/7).

Inggris sempat berada di atas angin setelah wide attacker Anthony Gordon mencetak gol lebih dulu pada menit ke-55. Namun, situasi berubah setelah Tuchel menarik Gordon dan memasukkan bek Ezri Konsa pada menit ke-72. Beberapa saat kemudian, dua bek, Dan Burn dan Nico O’Reilly, juga diturunkan sehingga Inggris praktis bermain bertahan dengan lima bek.

Penguasaan Bola 12 Persen

Keputusan itu memang membuat Argentina leluasa menguasai permainan. Sejak gol Gordon hingga gol penyeimbang via gelandang Enzo Fernandez pada menit ke-85, Inggris hanya menguasai bola sekitar 12 persen. Sebaliknya, Argentina mencatat 276 operan, berbanding 73 milik Inggris.

Tekanan tanpa henti La Albiceleste, julukan Argentina akhirnya membuahkan hasil. Setelah gol Enzo, tujuh menit kemudian Scaloneta, sebutan para pemain yang dimainkan pelatih Argentina Lionel Scaloni memastikan kemenangan lewat sundulan striker Lautaro Martinez.

Baca Juga: Selebrasi Tirukan Gerakan Mini Pedro

”Kami menjalankan rencana dengan cukup baik. Unggul 1-0. Lalu kami terlalu pasif dan kebobolan karena terlalu banyak umpan silang dan peluang dari lawan. Bermain melawan tim berkualitas seperti Argentina, Anda harus siap merasakan akibat dari permainan seperti itu,” beber Burn seperti dikutip dari BBC. “Saya rasa, (kalah dengan cara seperti) ini akan menghantui saya untuk waktu yang lama,” tambah bek berpostur 201 Cm tersebut.

Ramai-Ramai Mengritik 

Pilihan strategi Tuchel langsung menuai kritik. Media-media Inggris mempertanyakan kenapa pelatih berjuluk si Profesor itu tidak belajar dari pendahulunya. Kegagalan Ing­gris di semifinal Piala Dunia 2018 (kalah 1-2 oleh Kroasia) juga karena strategi pelatih Gareth Southgate mengendurkan serangan setelah memimpin 1-0 sejak menit kelima. The Three Lions, julukan Inggris kemudian kebobolan dalam waktu penuh lalu keok di babak perpanjangan waktu.

Sejumlah mantan pemain The Three Lions, salah satunya Wayne Rooney, menilai pilihan untuk bertahan total saat unggul adalah sebuah kesalahan. Dengan bertahan semakin dalam, kapten sekaligus striker Argentina Lionel Messi semakin sering menerima bola di depan kotak penalti yang berujung dua umpan gol untuk Enzo dan Lautaro.

Baca Juga: Isyarat dari Unggahan Lama 

”Jika Anda membiarkan (Lionel) Messi dan Argentina terus menyerang, Anda memang sedang mencari masalah,” kecam Rooney seperti dikutip dari The Sun.

Tidak Sesali Keputusan

Terpisah, Tuchel tidak menyesali keputusan terkait pilihan strateginya setelah unggul 1-0. Menurut Tuchel, pertahanan The Three Lions banyak celah dan hampir selalu kalah dalam duel bola udara saat itu sehingga dia beralih ke formasi lima bek. 

”Saya sama sekali tidak menyesal. Kami memainkan salah satu pertandingan terbaik kami, bahkan mungkin yang terbaik. Kalau hasilnya tidak berakhir baik, tentu mudah untuk mengatakan keputusan saya yang salah,” kata pelatih yang menangani The Three Lions sejak 1 Januari 2025 itu.(ka/dns/gem)

Laporan JPG, Atlanta

Editor : Arif Oktafian
Inggris piala dunia 2026 argentina