SALZBURG (RIAUPOS.CO) -Laju Paris Saint-Germain (PSG) memenangi trofi di ajang Eropa masih belum terhentikan. Jumat (13/8), PSG memenangi Piala Super Eropa setelah mengungguli Aston Villa 2-1 di Red Bull Arena, Salzburg.
Bagi klub berjuluk Les Parisiens tersebut, ini kali kedua mereka mampu memenangi Piala Super Eropa secara beruntun. Tahun lalu, Marquinhos dkk mengalahkan klub Premier League lainnya, Tottenham Hotspur, via adu penalti 4-3 (2-2) di Stadio Friuli, Udine.
Capaian juara back-to-back Piala Super Eropa membuat skuad besutan Luis Enrique semakin konfiden menatap Liga Champions musim ini. Misi menorehkan hat-trick juara disuarakan. Hanya Real Madrid yang pernah mengangkat Si Kuping Besar –sebutan trofi juara Liga Champions– pada 2015-2016, 2016-2017, dan 2017-2018. “Kami sudah memikirkan bintang ketiga itu,” koar wide attacker PSG Desire Doue dalam wawancara dengan Canal+.
“Awal musim kami sangat menjanjikan. Ambisi kami selalu memenangi gelar-gelar juara,” sambung pencetak gol penentu kemenangan PSG pada menit ke-61 itu. Sebelumnya, keunggulan PSG melalui wide attacker Khvicha Kvaratskhelia (20’) disamakan striker muda Aston Villa Brian Madjo (45’).
Ada yang Baru dari Lucho
Di balik kesuksesan PSG, nama Enrique kembali disorot. Pelatih yang mencatat tiga kali juara di Liga Champions dan Piala Super Eropa itu selalu berusaha mengaplikasikan hal-hal yang baru. Dari formasi maupun dalam pemilihan pemain.
Seperti yang dikatakan kiper PSG Matvey Safonov. “Dia (Lucho) selalu siap untuk mencoba hal baru dan dia beradaptasi. Dia banyak berpikir tentang sepak bola dan terus-menerus berusaha untuk mengembangkan cara bermain kami,” beber kiper asal Rusia itu di laman resmi klub.
“Musim lalu, kami pun mencoba beberapa hal yang belum pernah terjadi sebelumnya, hal-hal yang mungkin belum pernah terlihat di klub lain,” imbuh kiper yang musim ini mendapat pesaing baru selain Lucas Chevalier, yakni Alessandro Longoni asal Italia.(ren/dns/gem)
Laporan JPG, Salzburg
Editor : Arif Oktafian