NAGOYA (RIAUPOS.CO) – Teqball baru lahir di Hungaria pada 2012. Delapan tahun kemudian, cabang olahraga (cabor) baru yang menggabungkan sepakbola dan tenis meja itu masuk ke Indonesia seiring disahkannya Pengurus Pusat Indonesia Tekbal (PP InaTeq, kini menjadi PP POTSI) yang dideklarasikan di Jakarta pada 8 Maret 2020.
Tapi, di usia yang sebelia itu, juga di partisipasi pertama di Asian Games, atlet teqball langsung mengharumkan nama Indonesia. Medali perak diraih pada nomor tunggal putri di Nagoya City Higashi Sports Center, Jepang, Ahad (20/9). Medali tersebut dipersembahkan Sumaya, atlet Riau asal Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis.
Sumaya kalah dari wakil Myanmar Wai Khin Hnin dalam pertandingan final yang ketat. Atlet 21 tahun itu sempat memenangi gim pertama 12-10, tetapi kemudian kehilangan dua gim berikutnya dengan skor 8-12 dan 9-12. “Medali perak ini saya persembahkan untuk diri sendiri, keluarga, dan negara,” ujar Sumaya.
Baca Juga: Sumaya Sumbang Perak Pertama Indonesia, Atlet Teqball Torehkan Sejarah di Asian Games 2026
Sumaya mengakui, beberapa kesalahan kecil membuat peluangnya meraih emas terlepas. Dia pun masih menyimpan rasa penasaran untuk kembali menghadapi wakil Myanmar tersebut. “Saya bangga dengan diri sendiri walaupun kalah. Saya ingin latihan lebih keras lagi,” ujar Sumaya.
Sumaya berharap, pencapaian tersebut menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kemampuannya di ajang berikutnya. “Sebenarnya pikiran saya cuma ingin satu poin naik, tetapi karena banyak kesalahan jadi susah untuk menang. Saya masih penasaran untuk mengalahkan wakil Myanmar itu,” jelasnya.
Ia menyebutkan, dukungan suporter Tim Indonesia yang hadir langsung turut memberikan energi tambahan selama pertandingan. Kehadiran sejumlah pejabat olahraga Indonesia juga menambah semangatnya di lapangan.
Baca Juga: Pelari Kampong Sukses Gelar Mini Offline Run Kelas Nasional di Selatpanjang
Sumaya mengaku dukungan penonton membantunya mengatasi rasa gugup. Dirinya tidak terlalu tertekan. Nervous masih bisa dialihkan, tetapi memang keadaannya tidak memungkinkan.
Perjalanan Sumaya di tekbal bermula setelah sebelumnya menekuni sepaktakraw sejak duduk di bangku SMP. Ia kemudian beralih ke teqball setelah tidak terpilih memperkuat tim Riau di PON XXI Aceh-Sumatera Utara 2024.
Menurut Sumaya, tekbal memiliki tingkat kesulitan tersendiri karena gerakan dan ukuran mejanya berbeda. Meski demikian, ia justru menikmati tantangan dari olahraga tersebut. “Kalau sulit, lebih sulit tekbal. Gerakannya berbeda, mejanya kecil, tapi saya lebih menikmati main teqball karena lebih menantang. Saya tidak menyesal pindah ke tekbal,” jelasnya.
Baca Juga: Menjelang Derby Madrid, Diego Simeone Sangat Menghormati Jose Mourinho
Karier Sumaya kemudian berkembang melalui berbagai kompetisi. Mulai dari kejuaraan nasional, International Series di Bangkok, SEA Games, hingga Asian Games. Sebelumnya, ia juga meraih medali perunggu SEA Games pada nomor mixed double.
Perjuangan Sumaya di final mendapat dukungan langsung dari suporter Indonesia. Hadir pula Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, Ketua NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari, dan Chef de Mission Tim Indonesia Todotua Pasaribu.
Didukung Warga Rupat
Antusiasme tinggi ditunjukkan oleh warga Pulau Rupat yang menggelar nonton bareng (nobar) demi memberikan dukungan moral jarak jauh bagi Sumaya. Ketua KONI Bengkalis, Darma Firdaus Sitompul juga memberikan apresiasi atas prestasinya Sumaya. Jajaran pengurus KONI merasa sangat bangga dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya.
Baca Juga: SMP Stella Gracia Pekanbaru Juara
“Sumaya membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas atau asal daerah dari pulau terluar seperti Rupat tidak mengubur bakat anak watan untuk berbicara di level dunia. Mentalitasnya yang pantang menyerah, sejak berpindah dari sepaktakraw hingga fokus ke teqball. Patut menjadi contoh bagi atlet muda Bengkalis lainnya,” ujarnya.
Medali perak Sumaya melengkapi perunggu yang lebih dulu diraih Yoga Ardika Putra dari nomor tunggal putra. Yoga menjadi atlet yang mempersembahkan medali pertama teqball Indonesia dalam sejarah Asian Games.
Yoga sebenarnya tidak memiliki latar belakang olahraga secara khusus sebelum mengenal teqball. Kecintaannya terhadap sepak bola membuka jalan menekuni olahraga yang diciptakan duo Hungaria, Gábor Borsányi dan Viktor Huszár, itu.
Baca Juga: Dua Gol Antonio Antar PSPS Pekanbaru Gilas Persiraja
”Saya memang suka olahraga, main bola tentunya. Dan tekbal juga sejalur, sama-sama main bola, jadi kenapa nggak dicoba,” ucap Yoga.
Pondasi Penting
Ketua Umum PP POTSI Calvin Legawa menyebut, pencapaian Yoga dan Sumaya menjadi pondasi penting untuk pengembangan teqball di Indonesia. “Untuk pertama kali debut di Asian Games, kita berhasil membawa pulang medali,” kata Calvin.
Sementara itu, Menpora Erick Thohir berharap, perjuangan Yoga dan Sumaya bisa menjadi pemantik semangat bagi atlet Indonesia dari cabang olahraga lainnya. “Mari kita buka keran medali berikutnya,” ujar Erick.
Baca Juga: Roberto De Zerbi Menolak Berbicara dengan Pemain Tottenham Usai Dipermalukan Aston VIlla di Kandang
Hingga pukul 16.40 WIB kemarin, Indonesia telah mengoleksi lima medali di Asian Games 2026. Rinciannya, satu perak dan empat perunggu. Medali perunggu dipersembahkan Seraf Naro Siregar dari wushu, Yoga Ardika dari tekbal, tim regu putra soft tennis (Fernando Sanger, Fahlevi, Laluyan Rizky, Bagus Pradewa, dan Tio Hutauruk), serta Leica Al Humaira Lubis dari karate.(ksm/dof/fiq/ttg/jpg)
Editor : Arif Oktafian