PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Budaya Indonesia menyimpan beragam cerita yang selalu menarik untuk ditelusuri. Mulai dari ritual sakral masyarakat adat, perjuangan tokoh perempuan, hingga kejayaan kerajaan Melayu, setiap warisan budaya memiliki nilai yang tetap relevan untuk diperkenalkan kepada generasi masa kini, pada Senin (12/10/2026).
Semangat tersebut tercermin dalam penampilan sejumlah tim dance di panggung AQUA DBL Dance 2026 Riau. Mengusung tema besar "100% Indonesia", mereka ditantang untuk menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya menarik dari segi koreografi, tetapi juga mampu menyampaikan kisah tentang identitas, sejarah, dan keberagaman Nusantara melalui interpretasi masing-masing.
TIM HORE dari SMAN 1 Seberida dan Ivory4 dari SMAN 4 Pekanbaru sama-sama mengangkat tradisi Bulian yang erat kaitannya dengan masyarakat Talang Mamak. Sementara itu, SMA Kalam Kudus Pekanbaru menghadirkan kisah perjuangan Raden Ajeng Kartini, sedangkan Gladius dari SMA Cendana Mandau mengajak penonton mengenal kembali kejayaan Kerajaan Siak Sri Indrapura.
Baca Juga: Capella Honda Perkuat Pendampingan Vokasi SMK Binaan AHM se-Riau
Lantas, bagaimana setiap tim mengolah kekayaan budaya Indonesia menjadi pertunjukan dance yang sarat makna di panggung AQUA DBL Dance 2026 Riau?
SMAN 1 Seberida
TIM HORE dari SMAN 1 Seberida memilih Tari Rantak Bulian sebagai konsep penampilan mereka. Tarian tradisional yang berasal dari masyarakat Talang Mamak di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, ini berkaitan dengan ritual pengobatan adat yang dipimpin oleh seorang Kumantan.
Baca Juga: Polsek Singingi Tindak Empat Rakit PETI di Desa Kebun Lado, Seluruhnya Dibakar
Melalui konsep tersebut, TIM HORE berusaha memperkenalkan salah satu warisan budaya lokal kepada penonton dengan memadukan nuansa sakral dan gerakan yang energik. Penampilan mereka menggambarkan prosesi ritual yang diawali dengan penghormatan, kemudian dilanjutkan dengan gerakan hentakan kaki atau rantak yang dilakukan secara serempak.
Iringan alat musik tradisional, seperti gendang, gong, dan calempong, turut memperkuat suasana pertunjukan. Hal menarik lainnya, seluruh anggota TIM HORE merupakan laki-laki sesuai dengan arahan pihak sekolah.
Lewat penampilan ini, mereka ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga hubungan manusia dengan alam, menghormati warisan leluhur, serta menumbuhkan semangat gotong royong.
Baca Juga: Bandara SSK II Pekanbaru Gelar Latihan Penanggulangan Keadaan Darurat Skala Penuh
SMA Kalam Kudus Pekanbaru
Perjuangan perempuan Indonesia menjadi inspirasi utama dalam konsep penampilan tim dance SMA Kalam Kudus Pekanbaru. Mereka mengangkat kisah Raden Ajeng Kartini, sosok yang dikenal atas perjuangannya dalam mendorong pendidikan dan kesetaraan bagi perempuan.
Kisah tersebut dimulai dari masa remaja Kartini ketika ia harus menjalani masa pingitan sehingga tidak leluasa memperoleh pendidikan di luar rumah. Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Kartini tetap mengembangkan pemikirannya melalui kegiatan membaca dan berkirim surat dengan sahabat-sahabatnya di Eropa. Dari sana, tumbuh gagasan mengenai pentingnya pendidikan serta kesempatan yang lebih luas bagi perempuan pribumi.
Baca Juga: Letak Geografis Siak, Lahirkan Generasi Dayung Profesional Melalui Iven Nasional dan Internasional
Pemikiran Kartini kemudian dikenal melalui kumpulan suratnya yang dibukukan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Melalui kisah tersebut, SMA Kalam Kudus Pekanbaru ingin menyampaikan pesan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti belajar maupun memperjuangkan perubahan.
Semangat Kartini menjadi pengingat bahwa pendidikan merupakan salah satu jalan penting untuk membuka peluang dan membangun masa depan yang lebih baik bagi perempuan Indonesia.
SMAN 4 Pekanbaru
Baca Juga: Polda Riau Tetapkan 5 Tersangka Pasca Razia MP Club 63 Orang Positif Narkoba, 4 Merupakan Pekerja
Tradisi masyarakat Talang Mamak kembali menjadi inspirasi dalam penampilan Ivory4 dari SMAN 4 Pekanbaru. Kali ini, mereka membawakan konsep Magical Heal of Mambang Bulian yang terinspirasi dari tradisi pengobatan adat untuk menangani penyakit yang dipercaya berkaitan dengan gangguan batin atau kekuatan gaib.
Dalam pertunjukannya, Ivory4 berusaha membangun suasana ritual melalui gerakan tari dan penggunaan properti yang berkaitan dengan prosesi pengobatan tradisional. Konsep ini memperlihatkan kekayaan budaya Riau yang erat dengan sistem kepercayaan dan tradisi leluhur.
Namun, Ivory4 tidak hanya berupaya menggambarkan ritual tersebut. Mereka juga memberikan sentuhan modern agar penampilannya lebih dekat dengan generasi muda.
Baca Juga: Dance SMA Stella Gracia Tampil Memukau, Aqua Hadir sebagai Penyelamat
Melalui konsep ini, Ivory4 ingin menunjukkan bahwa perkembangan zaman tidak harus membuat budaya kehilangan jati dirinya. Sebaliknya, tradisi dapat menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan karya yang lebih segar dan mudah dipahami oleh masyarakat masa kini.
SMKN 4 Pekanbaru
QUANDR4 dari SMKN 4 Pekanbaru menerjemahkan tema besar "100% Indonesia" melalui perpaduan tari tradisional Nusantara dan modern dance. Konsep ini menjadi cara mereka mengekspresikan kebanggaan terhadap identitas bangsa sekaligus menunjukkan bahwa budaya tradisional dapat terus berkembang melalui kreativitas generasi muda.
Baca Juga: Ketua DPRD Kota Pekanbaru Dukung Penuh Razia Pekat Kepolisian
Perpaduan kedua gaya tari tersebut tidak hanya bertujuan menghadirkan pertunjukan yang dinamis. QUANDR4 juga menyampaikan pesan mengenai perempuan modern yang mampu bangkit menghadapi tekanan sosial dan stigma tanpa harus kehilangan jati diri budayanya.
Melalui penampilan mereka, tradisi dan modernitas digambarkan dapat berjalan beriringan. Keduanya tidak harus saling bertentangan, tetapi justru dapat saling melengkapi dalam menciptakan karya yang relevan dengan perkembangan zaman.
SMA Cendana
Baca Juga: Pemko Pekanbaru Tutup Kembali Tiga RTH dan Taman Kota
Gladius dari SMA Cendana mengajak penonton menelusuri sejarah Melayu Riau melalui konsep yang terinspirasi dari kejayaan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Dengan mengangkat identitas Riau sebagai Bumi Lancang Kuning, mereka menggambarkan perjalanan kerajaan, perjuangan mempertahankan wilayah, hingga bersatunya Melayu Riau dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kisah tersebut disajikan melalui perpaduan gerakan tari, musik, dan kostum yang terinspirasi dari kebudayaan Melayu. Warna biru dipilih untuk melambangkan lautan, sedangkan warna emas menggambarkan kejayaan kerajaan. Berbagai unsur tersebut memperkuat nuansa sejarah yang ingin dihadirkan Gladius di atas panggung.
Bagi Gladius, Melayu bukan sekadar bagian dari masa lalu, melainkan identitas dan warisan yang harus terus dijaga. Mereka ingin mengingatkan penonton akan nilai keberanian, perjuangan, persatuan, dan pengorbanan yang turut mewarnai perjalanan sejarah bangsa.
Baca Juga: Operasi Polres Inhu di Rakit Kulim, Sejumlah Peralatan PETI Dibakar
SMA Dharma Loka Pekanbaru
Keberagaman Indonesia menjadi inti dari konsep The Weave of Nusantara yang dibawakan DLS Stunners dari SMA Dharma Loka Pekanbaru. Melalui penampilan ini, mereka mengajak penonton menjelajahi kekayaan budaya dari Riau, Karimunjawa, hingga Papua.
Setiap daerah memiliki karakter dan cerita tersendiri. Namun, seluruhnya dirangkai menjadi satu pertunjukan yang menggambarkan keberagaman sekaligus kekayaan budaya Nusantara.
Baca Juga: Pemko Pekanbaru Dorong Penambahan Dapur SPPG, Sasar Balita hingga Lansia
Pertunjukan dibuka dengan semangat kebersamaan yang tercermin dalam tradisi Pacu Jalur dari Riau. Perjalanan kemudian berlanjut ke Karimunjawa yang menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir Jawa, sebelum ditutup dengan kekuatan dan keberanian yang merepresentasikan budaya Papua.
Pemilihan ketiga wilayah tersebut bertujuan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki beragam tradisi, lingkungan, dan karakter masyarakat yang dapat saling melengkapi. Pesan yang ingin disampaikan DLS Stunners terangkum dalam tagline mereka, "Berbeda Langkah, Satu Indonesia".
Bagi mereka, persatuan bukan berarti setiap orang harus memiliki latar belakang dan budaya yang sama. Sebaliknya, perbedaan justru dapat menjadi kekuatan ketika setiap orang mampu berjalan bersama dengan saling menghargai.
Baca Juga: 21 Kantong Darah Terkumpul, Ketua DPC Kuansing: Ini untuk Ibu Pertiwi
Di panggung AQUA DBL Dance 2026 Riau, budaya tidak sekadar menjadi warisan masa lalu yang dikenang, tetapi juga cerita yang terus dihidupkan melalui kreativitas generasi muda. Lewat berbagai konsep dan interpretasi, para pelajar menunjukkan bahwa kekayaan Indonesia dapat terus diperkenalkan, diapresiasi, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Editor : M. Erizal