Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Mengenang Masa Kecil Rasulullah

Rindra Yasin • Sabtu, 4 Februari 2012 | 05:43 WIB
(Sempena Maulid Nabi)

Bagi umat Islam di seluruh belahan dunia ini, bulan Rabiul Awal yang sedang kita jalani hari ini merupakan bulan yang bersejarah karena kelahiran manusia agung bernama Muhammad Bin Abdullah. Untuk mengenang kelahiran orang suci ini, di Indonesia dan sebagian negara muslim lainnya digelar hajatan besar yang lazim disebut maulid atau maulud nabi dengan berbagai even yang mengiringi peringatan tersebut.

Tulisan ini mengajak pembaca untuk mengenang kembali sejarah agung masa kecil sang Rasul, mudah-mudahan dapat diambil ibrah dan mempertebal iman kita kepada kerasulan beliau.

Sebagaimana yang diyakini oleh hampir seluruh umat Islam di Indonesia, Rasulullah dilahirkan di Makkah pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah. Disebut tahun Gajah karena saat itu terjadi ekspedisi Raja Abrahah ke Makkah dengan pasukan bergajahnya, sementara di tanah Arab belum dikenal perhitungan tahun dengan angka layaknya tahun Masehi.

Agak berbeda dengan tanggal tersebut, Shafiuyyurrahman al-Mubarakfuri dalam kitab al-Rahiq al-Makhtum (1978) menuturkan bahwa Rasulullah dilahirkan di Makkah pada hari senin tanggal 9 Rabiul Awal bersamaan dengan tanggal 20 atau 22 April 571 Masehi.

Sesaat setelah dilahirkan, beliau dibawa oleh sang kakek (Abdul Muththalib) ke dalam kabah dan diberikan sebuah nama yang belum pernah dikenal di kalangan bangsa Arab, yaitu Muhammad yang berarti orang terpuji.

Bertepatan dengan kelahiran Rasulullah telah terdapat tanda-tanda yang mendukung kerasulan beliau, antara lain robohnya sepuluh balkon Istana Kisra, padamnya api yang menjadi sembahan kaum Majusi dan runtuhnya beberapa gereja di sekitar Buhairah (Lihat Muhammad al-Ghazali, Fiqh al-Sirah).

Wanita pertama yang beruntung dapat memberikan susunya kepada Rasulullah adalah Tsuwaibah yang merupakan hamba shaya Abu Lahab yang saat itu juga sedang menyusui anaknya yang bernama Masruh. Wanita ini pernah pula menyusui paman Rasulullah yaitu Hamzah Bin Abdul Muththalib. Lalu untuk menjaga anak-anak mereka tertular penyakit yang melanda kota maju seperti Makkah kala itu, ada tradisi di kalangan bangsa Arab untuk mencari wanita dari suku pedalaman Arab untuk menyusui bayi mereka.

Selain itu, diharapkan agar tubuh bayi menjadi kuat, ototnya menjadi kokoh dan keluarga yang menyusui dapat mengajarkan bahasa Arab yang fasih kepadanya. Karenanya, setelah disusui oleh Tsuwaibah, Rasulullah diserahkan kepada seorang wanita dari bani Sad bin Bakr yang bernama Halimah Binti Abu Dzuaib untuk disusui atau dikelan dengan Halimah al-Sadiyyah.

Ketika Rasulullah diserahkan kepada Halimah untuk disusui, Bani Sad dalam keadaan paceklik. Hanya sedikit persediaan makanan dan kekakayaan yang mereka miliki. Sehingga para wanita Bani Sad yang sedang menyusui anak mereka mengadu nasib untuk mengambil upahan menyusui anak-anak orang kota Makkah, termasuk di antara mereka adalah Halimah.

Setibanya di Makkah Halimah langsung mencari bayi untuk disusui, namun ia tidak mendapat bayi untuk disusui kecuali seorang anak yatim bernama Muhammad yang setiap kali ditawarkan kepada mereka selalu ditolak lantaran ayah bayi tersebut sudah meninggal dunia sedangkan mereka datang mengharap imbalan yang memadai dari ayah sang bayi.

Lalu setelah semua wanita bani Sad yang lain telah mendapatkan bayi dan mulai bersiap untuk pulang, ia berkata kepada suaminya: Demi Allah, aku tidak ingin kembali bersama teman-temanku tanpa membawa bayi untuk disusui. Demi Allah, aku benar-benar akan mendatangi anak yatim itu dan membawanya.

Dituturkan oleh Halimah, bahwa ketika ia pertama kali menggendong Rasulullah ia seolah tidak merasakan beban apa-apa. Suami Halimah berkata,Demi Allah, tahukah engkau Halimah, engkau telah mengambil satu jiwa yang penuh barakah. dijawab olehnya Halimah: Demi Allah aku pun berharap demikian.

Setibanya di perkampungan Bani Sad, Halimah mendapati tanahnya yang ia tinggalkan karena kepergiannya ke Makkah seolah menjadi tanah yang subur. Domba-domba milik mereka yang sebelumnya kurus dan kelaparan menjadi gemuk karena kekenyangan dan air susu mereka menjadi banyak sehingga dapat diperah.

Begitulah, selama dua tahun menyusui Rasulullah keluarga Halimah merasakan barakah yang luar biasa dari Allah SWT. Selama itu pula Rasulullah tumbuh dengan baik dan pesat tidak seperti kebanyakan bayi-bayi lainnya.

Diriwayatkan Ibnu Hisyam dalam kitab Sirah al-Nabawiyah (1959: 162-165), bahwa setelah dua tahun menyusui Rasulullah, Halimah membawa beliau kepada Aminah ibunda Rasulullah dalam keadaan masih berharap agar tetap diizinkan memelihara beliau karena masih merasakan berkah kehadiran beliau di sisi mereka. Lalu ia merayu Aminah dengan berkata: Kiranya nyonya sudi membiarkan anak nyonya ini tetap bersama kami hingga menjadi besar, karena saya kahwatir dia akan terserang penyakit yang biasa menjakar di Makkah.

Karena rayuan Halimah tersebut akhirnya Rasulullah diizinkan bersamanya sampai berusia 4 tahun, itupun setelah ada peristiwa pembelahan dada Rasulullah oleh malaikat Jibril.

Peristiwa ini diriwayatkan imam Muslim dari Anas, bahwa ketika Rasulullah bermain-main dengan anak lainnya datanglah Jibril memegangi dan menelentangkan beliau. Lalu Jibril membelah dada dan mengeluarkan hati serta segumpal darah dari dada beliau seraya berkata: Ini adalah bagian setan yang ada dalam dirimu. Lalu Jibril mencucinya di sebuah bejana dari emas dengan air zamzam dan memasukkan kembali ke dada beliau. Melihat hal tersebut anak-anak lainnya berlarian mencari ibu susu mereka dengan mengatakan bahwa Muhammad telah dibunuh. Hal ini membuat Halimah khawatir sehingga mengembalikan rasulullah kepada ibunda beliau di usia 4 tahun.

Demikianlah manusia agung yang bulan ini kita peringati kelahirannya, sejak masih balita sudah mendatangkan kebaikan kepada siapa saja yang bersama beliau. Semoga dari kisah ini kita dapat mengambil pelajaran dan menjadi makin yakin akan kerasulan beliau seraya berdoa agar dapat bersama beliau dan merengkuh berkah Allah yang ada pada beliau. Allahumma Amin. Wallahualam.***


M Arqom Pamulutan
Hakim Pengadilan Agama Pangkalan Kerinci Editor : Rindra Yasin