Perlawanan Subkultur Geng Motor
Rindra Yasin • Senin, 12 Maret 2012 | 08:20 WIB
Geng motor menjadi salah satu persoalan sosial yang dihadapai bangsa Indonesia saat ini. Keberadaan geng motor sering menimbulkan persoalan, mulai dari pelanggaran berlalu lintas sampai perkelahian di antara geng motor.
Bahkan perilaku anarkis telah menjadi identitas negatif yang melekat dalam diri mereka. Sering pula ditemukan geng motor mengkonsumsi narkoba.
Salah satu perilaku anarkis baru saja ditunjukkan oleh geng motor yang berada di Pekanbaru.
Para geng motor mengguncang kota Pekanbaru. Mereka menyerang markas polisi dengan sangat berani untuk menunjukkan solidaritas terhadap anggota mereka yang ditahan polisi.
Kejadian ini sangat ironis sebab polisi yang memiliki tugas untuk menjaga keamanan justru diserang balik oleh geng motor yang masih remaja dan berstatus pelajar. Serangan geng motor ke markas polisi ibarat masuk ke kandang harimau.
Anggota geng motor memang mempunyai nyali yang luar biasa sehingga mereka tidak takut masuk ke kandang harimau. Kita terkejut! Kok markas polisi diserang?
Kejadian ini sungguh di luar dugaan dan menampar kesadaran sosial kita. Kita tersentak mengapa generasi muda Riau begitu nekat melakukan perbuatan anarkis terhadap polisi.
Apakah mereka tidak mempunyai akal sehat lagi untuk bertindak sehingga mereka melakukan tindakan-tindakan yang destruktif? Apakah orang tua tidak lagi memberikan perhatian yang cukup kepada anak-anak mereka?
Apakah pendidikan kita tidak gagal membangun siswa yang berkarakter padahal pendidikan berkarakter telah menjadi visi pendidikan nasional? Apakah aparat kita telah gagal mendekati mereka dengan pendekatan lebih humanis.
Dalam kajian budaya (cultural studies) komunitas geng motor ini disebut sebagai kaum bricoleur, yakni sekelompok orang yang mengkreasikan gaya mereka sendiri untuk menunjukkan eksistensinya yang berbeda dari kelompok lain.
Motor merupakan alat utama yang mereka gunakan untuk menunjukkan identitas mereka. Penggunaan kendaraan sebagai gaya tertentu untuk menunjukkan identitas suatu kelompok sangat lazim dalam masyarakat.
Kelompok elit tertentu seperti pejabat, pengusaha dan orang kaya biasa menggunakan merek kendaraan tertentu untuk menunjukkan identitas mereka sebagai kelompok elit.
Bagi geng motor, motor dijadikan ikon membangun jati diri. Mereka mempersepsikan bahwa geng motor merupakan trend anak muda masa kini sehingga mereka berupaya menciptakan identitas-identitas tersendiri yang berbeda dengan kelompok lain. Misalnya dengan penampilan sepeda motor, jaket, baju, helm, rambut, nama komunitas, pin dan aksesioris lainnya.
Geng motor sebagai subkultur sekelompok individu yang mempunyai kesamaan identitas, semangat, kepentingan dan ideologi ingin mengadakan perlawanan secara simbolik terhadap realitas orang kebanyakan atau mainstream.
Mereka ingin tampil beda dan ada kepuasan bagi diri mereka bila bisa tampil beda. Adanya keinginan untuk menolak kondisi biasa menunjukkan adanya spirit perlawanan yang terdapat dalam setiap komunitas geng motor.
Spirit perlawanan ini menjadi ideologi yang mendasari para anggota geng motor dalam menjalankan aktivitas organisasi mereka. Mereka ingin melakukan perlawanan secara simbolik terhadap realitas kekinian yang tidak sesuai dengan dinamika hidup mereka.
Mereka merasa tidak nyaman dengan kondisi biasa yang ada di lingkungan mereka sehingga mereka menciptakan dunia baru dengan menjadikan motor sebagai identitas utama.
Bagi geng motor, motor tidak hanya digunakan sebagai alat transportasi tetapi lebih dari pada itu. Motor menjadi inspirasi dan urat nadi yang menggerakan kehidupan mereka. Bahkan bagi mereka motor adalah nyawa.
Spirit perlawanan yang ada dalam komunitas geng motor ini perlu benar-benar dipahami untuk menangani persoalan-persoalan yang timbul akibat keberadaan geng motor. Apabila kita salah mendekati spirit perlawanan yang terdapat dalam komunitas geng motor maka akan menghasilkan tindakan kekerasan.
Semangat perlawanan yang terdapat dalam komunitas geng motor sebaiknya tidak didekati dengan tindakan represif.
Alangkah eloknya, semangat perlawanan remaja didekati dengan pendekatan yang lebih persuasif. Pendekatan refresif akan mendorong terjadinya kekerasan dan bila mereka telah memiliki pengalaman untuk melakukan kekerasan maka besar kemungkinan mereka melakukan kekerasan itu lagi.
Para geng motor dengan sengaja menampilkan ikon-ikon tertentu untuk membangun identitas tersendiri yang berkaitan dengan motor. Penciptaan identitas tersendiri motor merupakan manifestasi dari kreatifitas yang dimiliki remaja atau anak muda.
Sebagai remaja mereka mempunyai energi besar untuk mengkreasikan kegiatan yang berkaitan motor. Proses kreativitas itu sendiri merupakan bagian dari pencarian jati diri bagi mereka sebagai anak muda. Mereka ingin diakui bahwa mereka orang yang kreatif dan mereka berbeda dengan orang lain.
Di satu kota atau daerah keberadaan geng motor tidak hanya satu. Biasanya ada beberapa komunitas. Setiap komunitas akan menampilkan identitas-identitas tersendiri dan berusaha tampil beda dengan komunitas lainnya.
Meskipun ada berbagai komunitas geng motor, para anggota geng motor mempunyai motif yang sama untuk bergabung ke dalam komunitas geng motor, yakni ingin mengaktulisaikan diri mereka.
Aktualisasi diri dengan melakukan perbuatan tertentu sebenarnya hal yang wajar karena manusia pada hakekatnya manusia ingin mengaktualisasikan dirinya. Tidak ada yang salah dari kreativitas yang mereka lakukan jika apa yang mereka lakukan tidak bertentangan dengan nilai, etika, dan peraturan yang ada.
Kita tidak boleh membunuh kreativitas mereka sebab energi besar yang mereka miliki kita perlukan untuk membangun masa depan bangsa. Yang perlu kita lakukan adalah memberikan perhatian secara khusus kepada mereka sebab mereka telah berupaya untuk menarik perhatian kita dengan menunjukkan kreatifitas mereka.
Kita sering tidak mau memberikan perhatian secara khusus kepada mereka. Mereka membangun dunia mereka sendiri dengan seperangkat kebudayaan yang sesuai dengan dinamika gerak kehidupan anak muda.
Sehingga untuk menangani persoalan geng motor harus ada upaya untuk masuk ke dalam dunia mereka agar mereka tidak merasa diberlakukan secara represif.
Kita sebaiknya lebih mengedepankan pendekatan kultural untuk memahami dunia mereka dari pada pendekatan hukum formal. Kita sebaiknya tidak langsung menyalahkan mereka sebab apa yang mereka lakukan bertujuan untuk menyalurkan energi yang ada dalam diri mereka.
Pendekatan hukum justru akan semakin membuat mereka kebal hukum dan semakin tidak menghargai hukum.
Lebih buruknya lagi bila terbangun persepsi dalam diri mereka bahwa mereka menikmati pelanggaran hukum atau mereka merasa bangga melanggar hukum sebab citra penegakkan hukum pun buruk di mata masyarakat.
Dalam pandangan mereka hukum hanyalah mainan sebab ketidaktegasan hukum adalah realitas kasat mata yang mereka lihat pada hari ini. Dijadikan tersangka dan bahkan terdakwa sekalipun bagi anak-anak muda itu asik-asak saja. Malahan ada yang merasa bangga bila ditampilkan sebagai terdakwa.
Bila ini terjadi maka semakin rusaklah generasi muda kita. Alih-alih menegakkan hukum kepada mereka.
Mereka justru antipati terhadap hukum sebab ideologi perlawanan yang dianut geng motor membuat mereka memandang hukum secara oposisi.
Pendekan kultural lebih menyentuh kesadaran kemanusian para geng motor sebab pendekatan kultural lebih menekankan aspek-aspek kemanusian, kasih sayang, dan perasaan.
Karena itu, mari kira dekati semangat perlawan geng motor dengan rasa kemanusian yang terdalam. Pandanglah mereka sebagai menusia yang memiliki kreativitas dan kebudayaan. ***
Dr. Junaidi, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unilak Editor : Rindra Yasin