Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Muka Badak

Rindra Yasin • Senin, 2 April 2012 | 08:16 WIB
Konon, kata orang-orangtua kita dahulu, badak (rhinosores)  adalah binatang yang paling bebal dan sedikit tuli, jika dibandingkan dengan makhluk hewan lainnya.

Badannya besar dan gemuk, dimukanya terdapat cula yang hampir menutupi wajahnya, sehingga muka badak tidak sempurna oleh culanya, apalagi yang bercula dua (badak Sumatera).

Kepalanya besar perkasa tapi telinganya kecil. Jika berjalan badak lurus ke depan, menerobos apa saja yang mungkin menjadi penghalangnya. Bila ada sesuatu (mangsanya) yang datang dari belakang jangan diharap badak akan berputar mengatasinya. Seolah-olah badak sama sekali tidak punya insting, layaknya hewan-hewan lainnya.

Alkisah, kata yang mempunyai cerita, seekor badak yang sedang berada di atas tumpukan batu/tanah yang ada di tengah sungai, badak tidak akan pernah beranjak dari tempatnya berdiri atau berusaha menghindar dari luapan air yang datang dari hulu. Badak sama sekali tidak mempergunakan instingnya untuk menyelamatkan dirinya sekalipun air telah mencapai ketinggian sebatas kakinya.

Dan ketika air semakin tinggi mencapai leher, badak tetap berdiam diri ditumpukan itu, hingga akhirnya iapun diterjang arus deras sungai, membawanya tubuhnya yang besar itu kelaut. Dan iapun mati.

Tidak perlu kita menelaah kebenaran cerita ini. Sebuah  cerita lahir dari suatu imajinasi yang diterima oleh seseorang penyerita, dengan mata dan hatinya ia dapat melihat berbagai makna dari sebuah kehidupan lalu menginterprestasikan ke dalam suatu bentuk, yang disebut dengan cerita.

Hanya saja, yang perlu disadari realita kehidupan makhluk yang hidup di muka bumi ini,  pasti ada yang dapat dijadikan suri tauladan serta yang harus ditemui hakekatnya.

Kalau kita renungkan, sebenarnya badak itu tidak bodoh dan tidak pula tuli. Badak badannya yang besar dan gemuk, kulitnya berlapis-lapis keratin (lemak) tebal dan disambung dengan lapisan yang sedikit tipis. Karena badannya yang besar dan gemuk disertai dengan kulit yang tebal itulah penyebab badak jadi lamban, susah bergerak.

Karena itu  terkesan badak hewan yang pemalas, sehingga sekalipun instingnya ada akan tetapi fisiknya tidak mampu mengatasi segala sesuatu yang menimpanya.  

Sedang telinganya yang kecil  tidak sebanding dengan kepalanya, badak tidak mampu mendeteksi datangnya suara-suara keselaput gendang telinganya. Akibatnya refleksi badak tidak serta merta.

Nenek moyang kita dahulu, dengan mata hati dan nalurinya dapat melihat realita kehidupan hewan badak. Lalu membuat suatu analogi bahwa seorang manusia yang bersifat dan berprilaku kehidupan seperti apa yang telah ditakdirkan pada makhluk badak,  seperti: tidak tahu diri, tidak punya rasa malu, tidak mendengar kata/nasihat orang lain, ke sana ke mari menguber senyum merasa tidak pernah bersalah, keluar bui masih mau mencalonkan diri jadi pejabat negara dan sebagainya.

Maka manusia-manusia itu oleh nenek moyang kita dahulu dapat dijarwakan sebagai bermuka dan setuli telinga badak.

Sebenarnya, kalau badak itu diberi ‘’izin’’ oleh sang Pencipta untuk berbicara, maka hewan itu jelas akan berterima kasih dengan manusia, karena namanya serta tingkah polahnya telah tersangjung begitu tinggi oleh manusia.

Betapa tidak wajah dan perilakunya telah menjadi contoh oleh manusia makhluk yang berakal. Mukanya yang bercula dan berkulit tebal, sudah menjadi standar merek yang melekat pada manusia-manusia.

Manusia sendiri telah mengidentifikasikan rupa dan wajahnya dengan makhluk manusia. Badak tidak akan perduli dengan  stempel-stempel sifat yang ditakdirkan padanya. Karena bukankah manusia itu makhluk yang beradap.

Manusia tentu tidak rela rupanya yang cantik dan tampan diidentifikasi dengan wajah badak. Akan tetapi realita kehidupan dan prilaku  perbuatan manusia sendirilah yang menciptakan kata-kata satireistis itu.***

Iman Parwis Syafiie, Pemerhati Sosial 
Editor : Rindra Yasin