Penciptaan Alam Semesta dari Ketiadaan
Rindra Yasin • Jumat, 28 September 2012 | 07:58 WIB
Al-Ghazali berpendapat bahwa waktu mulai ada bersamaan dengan penciptaan alam semesta. Sebelum dunia diciptakan waktu tidak ada, dengan pengertian bahwa Tuhan berada di waktu tidak ada. Waktu dimunculkan dan diciptakan (hadith makhluq), sebelum itu tidak ada waktu sama sekali. Pengertian bahwa Tuhan ada sebelum ada waktu adalah Tuhan ada tanpa adanya dunia dan waktu. Pengertian Tuhan ada tanpa dunia dan waktu adalah keberadaan esensi (kekekalan) Sang Pencipta dan kertiadaan esensi (kekekalan) dunia.
Dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 117 (QS 2:117) dijelaskan bahwa penciptaan alam semesta adalah dari ketiadaan. Bunyi ayat tersebut adalah: “(Allah) pencipta langit dan bumi. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata, ‘Jadilah!’ maka jadilah sesuatu itu.”
Kata badi’u berasal dari kata bada’a berarti penciptaan sesuatu dari tidak ada. Kata ini juga berkaitan dengan kenyataan bahwa sesuatu yang diciptakan bukanlah sesuatu pola yang terjadi sebelumnya, tetapi merupakan sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya. Kalimat “kun faya kuun” demikian populer bagi umat Islam, yang menggambarkan kekuasaan Allah dalam penciptaan apa pun. Namun ini tidak berarti bahwa Allah tidak melakukan apa-apa sebelum big bang. Karena Allah selalu mencipta dan menyempurnakan sesuatu. Hanya ilmu pengetahuan tidak dapat menjelaskan apa pun sebelum big bang.
Sedangkan kata assamawati wal ardh berarti langit dan Bumi atau alam semesta. Kata assamawati yang berarti langit dalam pengertian jamak, dan kata ardh berarti bumi dalam pengertian tunggal. Seperti yang kita ketahui bahwa langit atau alam semesta ini ada banyak (tujuh), sebagaimana dinyatakan dalam Alquran, sedangkan Bumi seperti yang kita ini hanya satu. Dalam Alquran tidak ditemui penggunaan bentuk jamak untuk kata Bumi yaitu al-aradhi atau al-aradhin.
Mengenai terciptanya alam semesta ini sejalan dengan ilmu pengetahuan. Alquran dalam surat An-Anbiya ayat 30 (QS 21:30) menyatakan dengan lebih tegas lagi: “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahasannya langit dan Bumi keduannya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Aku pisahkan antara keduanya. Dan dari air, Aku jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”
Apakah mungkin Bumi, tempat berpijak sekitar enam miliar manusia, pernah berpadu dengan langit? Pertanyaan ini menjadi sangat masuk akal bila dilontarkan oleh kita sebagai manusia awam. Rasanya sangat tidak masuk akal bila Bumi pernah berpadu dengan langit. Bukankah langit sangat luas bila dibandingkan dengan luasnya planet Bumi? Jika keduanya pernah menyatu, ada kemungkinan bahwa bahan dasar pembentuknya sama. Pertanyaan pertama di atas akan munculkan sekian pertanyaan berikutnya yang sulit dijawab. Satu hal yang perlu kita catat adalah tidak mungkin Alquran menyebut informs tersebut jika tidak mengandung makna yang luar biasa.
Kata kaanataa berarti “keduanya (Bumi dan langit)” dahulunya. Sedangkan kata ratqan berarti berpadu atau menyatu. Sains modern telah menjelaskan bahwa alam semesta ini berasal dari satu titik yang tidak tampak yang kemudian meledak dengan energi yang dahsyat. Sedangkan kata fafataqnahumaa berarti “Aku (Allah, red) pisahkan keduanya”. Di sini terjadi kesamaan antara sain dan Alquran. Surat ini tergolong Makkiyah yang diturunkan sekitar 14 abad yang lalu. Teori big bang semakin menyakinkan kita akan kebenaran Alquran. Tuduhan bahwa Alquran hanyalah buatan Nabi Muhammad SAW terpatahkan dengan sangat menyakinkan. Bagaimana Muhammad mengetahui mengenai awal penciptaan alam semesta ini jika tidak mendapat wahyu dari Allah SWT melalui malaikat Jibril?
Peristiwa Big Bang di atas dijelaskan oleh Alquran dengan sangat indah dan bijaksana. Allah SWT hanya mengatakan bahwa “langit dan Bumi keduanya adalah yang padu, kemudian Aku pisahkan antara keduanya”. Selanjutnya Allah SWT menjelaskan bahwa segala sesuatu yang hidup itu diciptakan dari air.
Ternyata Alquran menyajikan informasi yang sangat akurat bahwa pada awalnya langit dan Bumi memang berpadu dalam satu titik singularitas sebagai asal segala sesuatu yang ada di jagat raya. Subhanallah.
Selanjutnya, kita mungkin berpikir keras untuk memahami pengertian bahwa semua kehidupan itu berasal dari air. Tiga ahli kosmolog dan astronomi, yaitu Georges Lemaitre, George Gamow dan Stephen Hawking menjelaskan bahwa atom-atom yang terbentuk sejak peristiwa Big Bang adalah atom hidrogen (H) dan helium (He). Bukankah air terdiri dari atom hidrogen dan oksigen (H2O)? Artinya, sejak 1400 tahun silam Alquran telah menyebut jauh sebelum ketiga pakar tersebut mengemukaan teorinya.
Di akhir menit ketiga setelah Big Bang, elemen-elemen pertama yang ringan terbentuk, yaitu hidrogen dan helium. Dalam waktu beberapa jam produksi helium dan unsur lainnya seperti lithium mengalami pemberhentian. Alam semesta tetap dalam keadaan seperti tu sekitar 250.000 tahun sambil mendingin dan membesar. Selama itu alam semesta berkabut tebal dan tidak tembus cahaya.
Berkaitan dengan alam semesta yang masih berupa kabut ini dalam Alquran surat Fushshilat ayat 11 (QS 41:11) menginformasikan: “Kemudian doa menuju langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada Bumi, ‘Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan sukahati atau terpaksa’. Keduanya menjawab, ‘kami datang dengan suka hati’.”
Terjemahan kata dukhaan dengan “asap” yang ada pada umumnya dipergunakan (menurut Umar Juoro dalam bukunya: Kebenaran Al-Qur’an dalam Sains), dalam ayat ini, sebenarnya kurang tepat, semestinya diterjemahkan sebagai “gas”. Sejalan dengan penjelasan ilmiah bahwa pada asal mulanya alam semesta hanyalah terdiri dari gas terutama hidrogen (75%) dan helium (25%) dengan temperatur yang sangat tinggi.***
Rony Ardiansyah
Dosen Pascasarjana Teknik UIR, Peminat Sains Alquran. Editor : Rindra Yasin