Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Bungkus Rokok yang Menakutkan

Rindra Yasin • Rabu, 20 Februari 2013 | 09:14 WIB
Ke depan, jika disetujui, bungkus rokok akan menampilkan gambar sejumlah korban yang menderita penyakit  akibat merokok.

Jika benar ini akan diberlakukan, maka kemungkinan jumlah perokok berkurang, sebab dengan melihat gambar itu —gambar wajah yang mengkerut, luka tumor di lidah, di pipi— si perokok menjadi jijik atau takut, jangan sampai menderita tumor seperti terpampang di bungkus rokok itu.

Sebenarnya sudah banyak program pemerintah untuk mengurangi jumlah perokok, misalnya di bungkus rokok tertulis bahwa merokok dapat merusak kesehatan dan seterusnya.

Namun kalau imbauan dalam bentuk tulisan kurang begitu dipedulikan oleh jutaan perokok, bahkan tak jarang perokok pun mengejek imbauan itu, buktinya saya masih sehat.

Tetapi jika imbauan dengan menggunakan gambar sejumlah korban rokok dengan tumor di mulut, pipi yang mengerikan, kemungkinan besar kampanye kesehatan ini menciutkan nyali para perokok.

Mengapa rokok menjadi ancaman negeri ini, sebab yang menderita bukan hanya perokok, tetapi perokok pasif, yakni orang yang ada di sekitar perokok itu.

Jika jumlah perokok mencapai 60 juta pria dewasa, maka akan berdampak anak dan istrinya dimana mereka berkumpul bersama. Bisa tiga, empat orang yang menjadi korban perokok tersebut —perokok pasif.

Berdasarkan survei WHO, Indonesia ternyata menempati peringkat pertama jumlah perokok laki-laki. Indonesia mengalahkan Rusia, dimana 67 persen dari semua laki-laki Indonesia yang berusia di atas 15 tahun merokok.

Prestasi ini tidak patut dibanggakan.

Survei tersebut digagas tahun lalu dengan melibatkan 8.000 peserta dari 15 negara, termasuk Bangladesh, Brasil, Cina, Mesir, India, Meksiko, Filipina, Polandia, Rusia, Thailand, Turki, Ukraina, Uruguay, dan Vietnam.

Menurut hasil survei itu pula, Indonesia dilaporkan memiliki jumlah perokok pasif yang cukup tinggi. Baik di rumah, di kantor, tempat umum dan tempat-tempat lainnya.

Misalnya, jika seorang ayah memiliki anak tiga, maka tiga anaknya dan istri menjadi perokok pasif, yakni mengalami dampak asap rokok sang ayah.

Jika jumlah perokok laki-laki di Indonesia 60 juta jiwa, maka tiga kali lipat jumlah perokok pasif tersebut. Hal  ini dikarenakan umumnya sang ayah menganggap merokok di dalam rumah itu tidak membahayakan anak-anak mereka.

Alangkah naifnya, jika anak-anak yang masih kecil itu mengalami dampak asap rokok bertahun-tahun tanpa disadari orangtua.

Demikian juga di kantor —walau sudah ada imbauan dilarang merokok di ruangan—, tidak sedikit mereka yang tidak merokok pun mengalami dampak asap dari perokok yang dengan santai saja merokok di ruangan kerja, atau ruangan rapat pertemuan.

Bahkan di bus, di tempat-tempat umum ”tanpa merasa berdosa” sang perokok mengepulkan asap rokoknya sehingga mengenai orang yang tidak merokok.

Memang tidak secara langsung mengenai orang sekitarnya, tetapi arah angin kadang membuat mereka yang tidak merokok pun kena imbasnya.

Berdasarkan data Depkes, bahwa setiap tahun, sedikitnya 200.000 orang Indonesia, dari total sekitar 240 juta jiwa, mati karena penyakit yang berhubungan dengan rokok.

Belum lagi dampak bergulir berikutnya, yakni para perokok akut sehingga mereka menderita TBC, mereka akan menularkan ke keluarganya. Makanya merokok itu menyebabkan dampak berantai.

Kesan yang muncul memang Pemerintah Indonesia tidak berhasil melindungi warganya dari ancaman beragam penyakit akibat rokok tersebut, mungkin karena ini terkait dengan devisa dan ribuan tenaga kerja yang bekerja di perusahaan rokok besar di negeri ini.

Namun bagaimana pun jumlah perokok harus diminimalisir, bukan semakin meningkat seperti yang terjadi di negeri ini.***
Editor : Rindra Yasin