Mengatasi Kemiskinan Riau
Rindra Yasin • Sabtu, 5 April 2014 | 09:48 WIB
Memperhatikan perlambatan penurunan kemiskinan Indonesia, di mana pada 2013 jumlah penduduk miskin Indonesia meningkat dari 28,07 juta menjadi 28,55 juta (11,47 persen) merupakan tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Bagaimana di Riau? Penduduk Riau tahun 2013 sebanyak 6.125.283 jiwa terdapat penduduk miskin sebanyak 522.530 jiwa (8,42 persen), dengan perhitungan garis kemiskinan penghasilan di bawah Rp350.129 per kapita per bulan. Jika kita mau mendalami kenapa terus terjadi atau belum terpecahnya masalah kemiskinan di Riau dapat dijelaskan faktor mendasar penyebabnya adalah apa yang pernah dipertanyakan oleh Prof Dr Mc Clelland setelah perang dunia II.
Pertanyaannya yakni kelompok masyarakat manakah yang sesungguhnya bertanggung jawab terhadap proses modernisasi negara negara dunia III? Mc Clelland berpendapat bahwa kaum wiraswastawanlah yang pada dasarnya berperan mewujudkannya. Jadi jika masyarakat menginginkan pertumbuhan ekonomi tinggi, maka yang perlu diubah adalah dorongan individu yang ada di masyarakat, yang mana terlihat pada kaum wirastastawan, untuk bisa mendorong iklim investasi produktif dengan pengembangan sumberdaya manusia.
Jika memang wiraswastawan sangat berperan besar memajukan kesejahteraan dan modernisasi lantas apa yang salah dengan Pemprov Riau yang sudah enam dasawarsa menjadi provinsi dan wellcome dengan investor? Bahkan semasih era kerajaan Siak sebelum proklamasi RI telah ada maskapai minyak multinasional mengekploitasi perut bumi Riau yang padat modal dan teknologi itu, bahkan hari ini sudah lebih 11 miliar barrel produksi, berikut di era orde baru dengan pabrik-pabrik kayu lapis dari bahan baku hasil hutan dan hari ini dua pabrik pulp and paper terbesar di Asia masih beroperasi di Riau. Selain itu sekitar 150 buah pabrik kelapa sawit tersebar di Riau sebagai pengolah TBS 2,5 juta Ha kebun sawit di Riau. Bahkan menurut ekonom Faisal Basri, secara logika seharusnya Riau lebih kaya dan sejahtera daripada Brunai Darussalam, karena minyak yang dihasilkan dari Riau lebih banyak dari Brunai, di samping itu Riau punya kebun sawit dan karet yang luas, hutan yang kaya plasma nutfah dan letak yang strategis dekat dengan pusat bisnis di Asia.
Sulit menemukan kesalahan masa lalu dengan strategi propertumbuhan itu, ini dapat dirasakan apa yang terlihat hari ini, antara lain bergeliatnya ekonomi Riau dengan terciptanya lapangan kerja, besarnya nilai ekspor untuk memperoleh devisa negara, bagi hasil migas untuk membiayai sektor publik melalui APBD provinsi dan kabupaten/kota, pendapatan asli daerah yang cenderung meningkat yang diperoleh dari pajak kendaraan bermotor, pajak hotel dan restoran serta pajak reklame.
Keberhasilan memang seperti melihat air di dalam gelas, orang cenderung melihat bukan gelas yang terisi air tetapi bagian gelas yang tidak terisi penuh itu. Lihat saja, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang merupakan Indeks Composit yang dihitung rata rata sederhana dari Indeks Harapan hidup, Indeks Pendidikan (melek huruf dan lama bersekolah), dan Indeks Standar Hidup Layak, menempatkan IPM Riau pada ranking 3 (76,90) setelah DKI Jakarta ranking 1 (78,33) dan Sulut ranking 2 (76,95) dibawah Riau ranking 4 dan 5 Jogyakarta (76,75) dan Kaltim (76,71), IPM terendah adalah Papua (65,86) dan NTB (66,89). Keberhasilan membangun inprastruktur jalan Provinsi Riau sepanjang 3.033,32 km memang terdapat kondisi rusak ringan dan berat sebanyak 38,44 persen, sudah berhasil diaspal dan rigit 47, 74 persen namun terdapat masih konstruksi krikil dan tanah 52,26 persen.
Bidang pendidikan, angka partisipasi murni murid bersekolah pada umur SD/MI 97,14 persen, bersekolah umur SMP/MTS 95,25 persen, walau masih terdapat umur SMA/MA yang tidak bersekolah sebanyak 30,73 persen. Pelayanan bidang kesehatan telah dilakukan pembangunan rumah sakit 59 unit, 205 puskesmas, 830 puskesmas pembantu, serta puskesmas keliling 204 unit, dengan jumlah dokter 1.946 orang, perawat 6.482 orang serta bidan 4.508 orang, walau diakui masih terdapat balita gizi buruk 1,6 persen, orang kurang gizi 9 persen, kematian bayi 24 dari 1000 kelahiran dan kematian ibu melahirkan 122 dari 100.000 kelahiran. Sedangkan angka harapan hidup di Riau cukup baik yaitu umur 71,70 tahun. Bidang Listrik sudah terpenuhi sebanyak 61,95 persen dan pemenuhan kebutuhan Air bersih diperkotaan 44,10 persen , dan pedesaan baru 25,78 persen.
Pilihan Misi yang Harus Dijalankan
Apa yang menjadi misi Pemprov Riau di bawah kepemimpinan Gubernur Riau Annas Maamun dan Wakil Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman selama lima tahun ke depan yaitu: Pertama, meningkatkan pembangunan infrastruktur; kedua, meningkatkan pelayanan pendidikan; ketiga, meningkatkan pelayanan kesehatan; keempat, mengentaskan kemiskinan; kelima, mewujudkan pemerintahan yang baik, profesional dan andal. Keenam, pembangunan masyarakat yang berbudaya, beriman dan bertaqwa serta pemantapan stabilitas politik. Ketujuh, memperkuat pembangunan pertanian dan perkebunan. Kedelapan, meningkatkan penataan lingkungan, kebersihan dan pariwisata. Kesembilan, meningkatkan penyediaan listrik dan air bersih. Kesepuluh, meningkatkan peran swasta dalam pembangunan.
Oleh karena dana terbatas perlu prioritas sasaran maka perlu empat strategi yaitu berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi, berorientasi kepada penciptaan Lapangan kerja, berorientasi terhadap pemberdayaan orang miskin, serta berorientasi kepada pembangunan yang lestari lingkungan dapat benar benar diterapkan di samping tetap memperhatikan bidang bidang dan komponen pendukung dan urusan pilihan lain secara proporsional. Kesepuluh misi tersebut di atas sebagai janji kepada rakyat Riau, wajib dan harus dapat dijalankan oleh seluruh perangkat birokrasi sebagai motor penggerak kebijakan publik, bersama komponen pengusaha sebagai pelaku bisnis pencipta nilai tambah, akademisi dan perguruan tinggi yang mengisi mind set mempersiapkan SDM jangka panjang. Yakni terwujudnya visi Riau 2014- 2019 yaitu: “Terwujudnya Provinsi Riau yang maju, masyarakat sejahtera dan berdaya saing tinggi, terhapusnya kemiskinan, tersedianya lapangan kerja dan aparatur yang andal” dapat tercapai. Semoga.***
M Ramli
Kepala Bappeda Provinsi Riau Editor : Rindra Yasin