Balimau, Tradisi yang Tereduksi
Rindra Yasin • Kamis, 26 Juni 2014 | 08:38 WIB
Balimau Kasai merupakan hari yang penting dalam kehidupan masyarakat Melayu Kampar dalam menyambut bulan suci Ramadan, karena pada hari itu masyarakat melakukan tradisi mengantarkan Limau dan Kasai ke rumah sanak keluarga sambil bersilaturrahim dan nantinya Limau dan Kasai ini digunakan untuk mandi sebagai bentuk penyucian fisik. Balimau Kasai sendiri sebuah aktivitas membersihkan diri dengan jeruk dan wewangian yang diberi nama kasai. Kegiatan seperti ini di daerah Riau lainnya dikenal dengan istilah Petang Megang atau Potang Mogang yang semuanya merujuk pada hal yang sama dengan Balimau Kasai. Dalam bahasa Melayu Kampar, balimau berarti mandi dengan menggunakan air yang dicampur jeruk atau limau. Sedangkan kasai berarti wangi-wangian yang biasanya dipakai masyarakat setempat untuk keramas.
Tradisi Balimau Kasai sarat dengan nilai-nilai religius baik eksoteris maupun esoteris. Akan tetapi seiring perkembangan zaman nilai-nilai itu telah tergerus, tradisi menjadi kehilangan makna esensialnya. Apa sesungguhnya makna Balimau Kasai dalam tradisi menyambut bulan suci Ramadan? Setidaknya ada tiga esensi nilai yang terkandung dalam tradisi Balimau Kasai.
Pertama, menyucikan diri sebagai manifestasi taubat. Balimau Kasai adalah bentuk lahiriah dari membersihkan diri dari kotoran jasmani. Kata balimau sendiri penekanan maknanya menunjukkan bahwa mandi yang benar-benar bersih. Kotoran yang melekat di badan hanya bisa dibersihkan dengan limau (jeruk). Limau lah alat pembersih badan pada zamannya yang ampuh membersihkan semua jenis kotoran fisik. Penggunaan kata balimau juga mengandung makna esoteris artinya membersihkan batiniah dan sejatinya makna inilah yang dikehendaki oleh Balimau Kasai. Oleh karena itu mandi balimau adalah sebuah tradisi yang dilakukan masyarakat untuk membersihkan jasmani dan rohani.
Tradisi ini kemudian dikaitkan dengan ajaran agama Islam, yakni sebagai simbol benar-benar membersihkan diri lahir dan batin menjelang melaksanakan ibadah puasa. Tradisi ini sarat dengan nilai-nilai filosofis karena di daerah ini berlaku Adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan Kitabullah. Sebagai sebuah tradisi yang berkembang dalam masyarakat muslim jelas tradisi ini merujuk pada nilai-nilai Islam dalam menyambut bulan suci Ramadan. Rasulullah bersabda: “Merugilah seseorang yang bulan Ramadan datang kepadanya kemudian pergi sebelum ia mendapat ampunan”. Artinya mandi Balimau Kasai merefleksikan upaya makhluk untuk membersihkan diri untuk mendapatkan ampunan dari Allah, dalam bahasa agama disebut tazkiyatun nafs.
Kedua, menjalin silaturrahim. Dalam tradisi masyarakat Melayu Kampar mandi Balimau Kasai didahului oleh serangkaian kegiatan. Di antaranya pada 30 Syakban masyarakat memasak makanan tertentu seperti lemang, rendang dan kue. Hal ini dilakukan bersama-sama di belakang rumah yang memiliki area yang luas. Makanan-makanan ini dimasukkan dalam tempat khusus yang di sebut rantang. Selanjutnya dibawa ke rumah sanak keluarga. Dalam kegiatan inilah ranah untuk merajut tali silaturrahim, tempat meminta maaf atau saling memaafkan. Momentum Balimau Kasai dilihat sebagai tempat yang baik untuk mengungkai benang yang kusut atau menjernihkan yang keruh. Silaturrahim yang putus bisa dijalin kembali. Sehingga memasuki bulan puasa tak ada lagi selang sengketa antara mamak dan kemenakan, antara suami dan isteri, antara anak dengan orang tua serta sesama anggota masyarakat. Nilai-nilai ini mendapat pijakan dalam Islam. Islam memerintahkan untuk membangun silaturrahim dengan baik. Bahkan dalam hadis Rasulullah diungkapkan bahwa Allah tidak akan menerima ibadah puasa seseorang takkala hubungan silaturrahim tidak baik. Sejatinya makna Balimau Kasai sejalan dengan anjuran Islam dalam kaitan menjalin silaturrahim.
Ketiga, suka cita dalam menyambut Ramadan. Makna ini disimbolkan dengan memasak makanan khusus yang tidak dimasak pada hari lain. Selanjutnya makanan tersebut bersama limau kasai dibawa ketika berkunjung ke rumah sanak keluarga, tokoh masyarakat dan anggota masyarakat lainnya. Aktivitas ini begitu terasa dalam masyarakat tempo dulu. Ramadan dirasa benar-benar tamu agung sehingga penyambutannnya dilakukan dengan perlakuan istimewa. Suasana batin masyarakat tergambar dari kegembiraannya dalam menyambut kedatangan bulan suci Ramadan. Perasaan suka cita dalam menyambut bulan suci Ramadan juga selaras dengan nilai-nilai Islam. Dalam sebuah hadis disebutkan “Barangsiapa yang senang dengan datangnya bulan Ramadan (karena iman dan Allah), maka diharamkan jasadnya masuk ke dalam api neraka”.
Seiring perkembangan zaman tradisi Balimau Kasai telah beranjak dari makna asalnya. Dalam pandangan Drs H Asyari Nur SH, mantan Kakanwil Kemenag Provinsi Riau tradisi ini telah jauh bergeser dari makna aslinya. Kita hanya akan melihat kegiatan yang sifatnya hura-hura dan pergaulan yang tidak sepantasnya dilakukan di depan umum. Bahkan yang memalukan adalah mandi bersamaan yang dilakukan anak muda laki-laki dengan perempuan dan juga acara joget-jogetan yang terkadang ada pula yang mabuk mabukan. Padahal dulunya, tradisi ini merupakan hal yang tergolong sakral. Akan tetapi realitas acara Balimau Kasai pada era sekarang telah mengusur nilai-nilai Balimau Kasai itu sendiri. Yang pada akhirnya Balimau Kasai sebagai sebuah tradisi yang sarat dengan nilai-nilai agamis itu telah tereduksi oleh zaman.***
Suhardi
PNS Kementerian Agama Kota Pekanbaru Editor : Rindra Yasin